Ribetnya Mengeja Angka Posted on 9 January 20122 October 2016 By andyhardiyanti ngeja angka yookkk... “Nol Delapan Sembilan Enam Delapan Enam Lima Tiga Nol Lima Lima Satu“, ucap saya. “Nol Lima Lima berapa Mbak?”, tanya si kasir. “Satu”, ucap saya mengulang angka terakhir yang telah disebutkan tadi. Sejumlah angka sudah diinput oleh si kasir. Lewat monitor mungil muncul nama produk yang dimaksud lengkap dengan harganya. Begitu seterusnya. Saya harus menyebutkan angka yang tertera pada barcode produk yang hendak dibeli. Tidak setiap saat memang hal ini terjadi, tapi cukup sering. Kecuali jika si kasir sedang bersama temannya di sana-di sekitar meja tempat mesin kasir berada, atau mungkin kebetulan si bos juga ada di tempat. Maka urusan mengeja angka ini akan jadi tugas mereka, bukan tugas pembeli. Ribet? Memang. Mau coba? Silahkan π Kalau kalian berpikir mesin kasir dan alat scan barcode dapat mempermudah proses transaksi belanja anda, maka khusus di mini market ini kata ‘mudah’ itu tidak berlaku lagi. Kalau hal mengeja angka ini pernah terjadi pada anda tentunya di mini market lain, itu mungkin karena produk yang discanΒ adalah produk dari lemari pendingin. Produk yang sering membuat bagian luarnya agak basah, termasuk barcode. Maka proses scan jadi agak sulit. Mau tidak mau, angka-angka pada barcode itu harus diketik manual. Walau demikian, dari hasil pengamatan saya mini market yang lain tidak pernah menyulitkan pembelinya untuk menyebutkan satu persatu angka. Mereka membaca dan tentu saja mengetik sendiri angka-angka itu. source: humorpower.com Mini market berkelas seperti Alfa-alfaan (Alfa Midi, Alfa Mart, maupun Alfa Express) dan Indomaret memang sedang berjamuran di kota ini. Mini market yang menawarkan kesan lain dalam berbelanja #tssahhh.. yang menawarkan berbagai macam promosi dan yang tentu saja memiliki mesin kasir online lengkap dengan barcode scannernya. Berbeda dengan toko kelontong yang marak pada jaman dahulu kala saya, harga produk cukup ditulis pada sebuah label putih kecil kemudian ditempel. Untuk menghitung total harga barang yang dibeli ya tinggal memanfaatkan kalkulator, kalau penjualnya memang jago hitung-hitungan ya hitung di kepala aja bisa. Gampang! Saya tinggal di perumahan ini sejak tahun 2000. Dulu disekitar rumah saya hanya tersedia beberapa kios kecil saja. Jelas tidak lengkap. Tidak ada minuman dingin danΒ roti-roti yang diupdate setiap harinya (diupdate?). Barang yang pasti tersedia di setiap kios hanyalah rokok dan mie instan. Kecuali di tempat yang saya singgung pada awal postingan ini. Tempat yang sekarang mulai tak mau ketinggalan memakai mesin kasir online plus barcode scanner seperti yang kita temukan di alfa-alfaan (istilahnya kok gini ya? ;p) dan indomaret-an (hehe..) ini dulunya adalah tempat jajan favorit saya lho! Cuma di toko ini saya bisa beli minuman dingin, roti-roti empuk setiap harinya, cokelat, keju, dll. Cuma di toko ini saya bisa mutar-mutar (dikit aja mutarnya, tokonya gak seluas indomaretan atau alfamidian ;D) belanja milih ini itu! di toko lain yang ada saya nunjuk sana nunjuk sini minta diambilin sama si pemilik toko barang yang pengen saya beli lihat dulu. Walau letaknya lumayan jauh dari rumah, saya tetap asyik belanja di sana. Kalau kecapekan saya malah sampai naik becak buat ke tempat yang dimaksud. Tahun 2010 saya mulai angkat kaki dari perumahan yang konon langganan banjir belakangan ini. Tidak tinggal di sana bukan berarti saya tidak pernah ke daerah itu lagi. Kakak saya masih ‘sabar’ jadi warga perumahan itu saudara-saudara ;D. Masa kontrakan rumah yang sejak tahun 2000 kami tempati habis setahun yang lalu. Kakak saya pun memutuskan tinggal di rumah yang berbeda tiga blok dari rumah sebelumnya. Dan rupanya toko favorit saya jaman dulu itu sekarang letaknya sangat sangat dekat dengan rumah beliau (kakak saya maksudnya ;D), hanya dipisahkan oleh satu rumah! Baiklah, setelah membaca paragraf ini semoga kalian mengerti mengapa sampai sekarang setiap ke rumah kakak, saya selalu jajan disana, di toko favorit saya dulu. Karena faktor ‘D’, faktor ‘DEKAT’ sekali lagi. source: iranmf.com Faktor dekat yang berbuah keribetan. Ribet menyebutkan angka-angka. Untung saja selama ini, sejak toko itu jadi mini market, sejak toko itu punya mesin kasir online lengkap dengan barcode scannernya yang rusak, saya tidak pernah belanja dalam jumlah yang banyak. Pernah suatu ketika, saat saya menyebutkan angka-angka pada si kasir, ada seorang ibu sedang mengantri di belakang saya. Saya tengok barang belanjaannya yang wow kk wow, banyaknya luar biasa. Lama juga ibu itu menunggu gilirannya. Entah karena apa, mungkin karena beliau melihat betapa ribetnya saya mengeja satu-satu angka pada barcode barang yang saya beli, mungkin beliau tidak sanggup menghadapi kenyataan bahwa sebentar lagi dunianya kaya akan angka, tiba-tiba saja ia kembali menyusuri lorong-lorong rak mini market tersebut. Ia letakkan lagi sejumlah barang yang tadi sudah tergeletak di keranjang belanjanya yang berwarna merah. Lalu ia datangi meja kasir. Kali ini dengan barang yang jumlahnya hanya dua dan sudah tanpa menenteng keranjang belanja. Saya keluar dari mini market keren itu, maaf bu kebetulan saya juga terburu-buru. Meninggalkan si ibu yang siap-siap mengeja angka. Ah, tapi tentu ia sudah paham semua. Paham angka 0 sampai 9 (harus paham, biar tak dikira buta angka ;)), paham apa yang terjadi dengan barcode scanner yang ada di sana, paham apa yang akan terjadi dengannya nanti bila tadi ia tetap ngotot membeli semua barang yang sudah ada di keranjang belanjaannya itu. Setidaknya esok (mungkin) ia tak lagi berbelanja di sana. Tak seperti saya, yang sudah sejak 4 bulan yang lalu tahu mata pembeli di mini market ini bisa juga berfungsi sebagai alat scan barcode, tapi tetap saja mengutamakan faktor ‘dekat’. Padahal waktu untuk mengeja angka sama saja jika saya pergi berbelanja di tempat lain, di mini market yang peralatan kasirnya berfungsi dengan baik π Mengeja angka, walau ribet bin menjengkelkan. Biarlah jadi pelatih kesabaran kita. Berharap semoga esok lusa ada keuntungan lebih dari mini market itu, sekedar untuk membeli peralatan mesin kasir online yang baru, yang benar-benar mempermudah transaksi belanja pelanggannya π – “Mbak, tolong sebutkan ulang angka-angka barang yang barusan”, pinta si kasir. “Errrr..gimana kalau mbak aja yang baca? ini nih..”, jawab saya sambil menyodorkan barang yang dimaksud. —hanya rencana, belum sempat terjadi di TKP π βArtikel ini diikutsertakan dalam Kontes Cerita Unik Belanja di BloggerPemula.Comβ Uncategorized Barcode ScannerCerita Unik BerbelanjaKasir Mini MarketManfaat Mesin KasirMesin Kasir OnlineMini MarketPengalaman BerbelanjaTempat Belanja FavoritToko Kelontong
Uncategorized Sotoji, Soto Jamur Instan dan Beberapa Kritikan Posted on 19 March 20124 June 2017 Pada tanggal 13 Februari 2012, paket yang saya nantikan itu akhirnya tiba juga. Tiga bungkus Sotoji yang saya pesan via internet lima hari sebelumnya. Sungguh beruntung bisa menjadi satu dari sejumlah orang yang bisa mencoba gratis sajian sotoji sebelum produk ini masuk pasaran offline.Sudah gratis, dipersilahkan membuat review Sotoji termasuk… Read More
Uncategorized Draft yang Kepenuhan Posted on 7 January 20127 January 2012 Hey, halo….!! Sudah tahun 2012 rupanya. Sementara rekan blog yang lain sibuk dengan postingan resolusi juaranya, kisah unik berbelanja, atau tulisan tentang apapun itu, saya malah masih ‘nyangkut’ di tempat ini. Melihat kembali postingan terakhir saya kemarin. Ternyata ditulis pada tanggal 16 Desember 2011. Cukup lama, nyasir sebulan sudah. Sampai… Read More
Uncategorized Jenis Desain Interior Rumah yang Bisa Anda Tiru Posted on 6 May 2017 Jenis Desain Interior Rumah yang Bisa Anda Tiru. Untuk membuat interior rumah jadi lebih menarik, tentu Anda akan banyak berpikir bagaimana cara mengubah banyak hal di interior rumah Anda. Belum lagi berbicara kecocokkan yang belum bisa ditentukan. Anda bisa memakai gaya desain interior apa saja, namun jika tidak begitu cocok… Read More
Sama, Mbak. Di Tangerang juga menjamur minimarket, bisa dikatakan dimana ada Alfamart maka tak jauh darinya berdiri pula Indomaret. Entah apa maksudnya, tapi yang jelas kebanyakan begitu, seperti sebuah persaingan kekanak-kanakan, tentu ini dilihat dari kaca mata awam saya selaku konsumen. Tapi kalau pengalaman seperti yang Mama Rani alami, alhamdulillah belum pernah, jika harus nemui yang seperti ini, mengeja angka, mending pindah ke minimarket sebelah atau justru balik ke warung tradisional saja. Reply
Abi, menurut yang saya dengar, sebetulnya itu emang strategi mereka, jadi yg punya franchisenya sama, entah benar entah tidak. Reply
wah udah ikutan nih mbak aku masih belum niihhh…. hihi, iya mbak Pu. Akhirnya bisa juga berpartisipasi di kontesnya kang yayat. Ini juga baru nemu idenya di ujung DL ;D Reply
klo ane yang belanja dan kasirnya nyuruh bacain gitu pasti saya nggak mau bayar… π #moga menang kontesnya… π Reply
Semoga sukses dalam ikut kontesnya Mas Yayat… semoga menang semoga kang yayat makin sukses makin sering ngadain kontes..hihi Reply
wah, itu sih kasirnya udah keterlaluan.. perlu dikasih pelajaran mbak π semangat kontesnya mbak, semoga bisa menang.. π bukan keterlaluan mas, tapi tega sama pembelinya..wkwkwk sip, menang kalah soal biasa. Yang penting hadiahnya! #eh Reply
kalau dah terjadi di tkp.. posting ya mbak π bwahahahha, oke deh. eh tapi saya ndak tega mengeksekusi rencana ini ;D Reply
mbak itu angka terakhirnya 6 lho… he he sudah saya duga akan muncul komentar seperti ini ;D angka yang saya sebutkan di awal postingan itu adalah angka yang tercantum pada barcode produk bubur bayi. nah, karena ndak sempat foto barcode aslinya, jadi deh saya bikin barcode lewat barcode generator. Entah kenapa setiap saya masukkan angka-angka yang sama, selalu saja ada ngekor angka ‘6’ itu π Reply
huuhuh..apalagi di bandung..menjamur sekali..minimarket.. tapi aku sangat2 suka perg ke minimarket.. mengeja kok ga bisa,perlu saya bantu ..hhe mama rani juga sangat2 suka ke minimarket (bilang aja kalo suka belanja ;D) bukan gak bisa teh..tapi capek…capek.hahha Reply
Tapi aneh, kenapa bukan kasirnya yang ngetikin angka, ya? Aneh memang. Mari kita ungkap ‘keanehan’ ini! Bwahahahha.. kasirnya lagi gak mood kali,mbak.. atau capek, atau males.. atau apa lagi ya? Reply
Ck ck ck … harusnya kan kasirnya yang baca sendiri. Kasih diskon atau tip dong kalo pembelinya harus mengejakan untuk dia … #prihatin dengan sistem ini# huaaaaa, iya kakak. harusnya memang gitu :O saya sih tiap belanja cuma berharap dia lagi ada yang temenin disitu, jadi yang bacain angkanya ya si temannya itu. Bukan saya ;D Reply
Memang butuh mata yang segar dan sehat agar angkanya bisa dilihat hehehe… Salam Persahabatan http://www.disave.blogspot.com untuk mata yang segar dan sehat, minumlah biovision! #halah ;D Reply
Walah…berbusa dah nyebutin angka satu2.. π untung belum pernah kejadian, kalo iya mending batal belanjanya…hehehe kasian juga kalo belanjaannya dibatalin. paling kalo ada yang keburu ilfeel gitu langsung ngurangin barang belanjaannya aja. Reply
huahahah masa sih kudu disebutin angkanya satu per satu?? ampun dah… bisa berjam2 dong kalo belanja disitu. lama nyebutin angka2nya. hahaha makanya saya kalau belanja disitu gak pernah beli banyak. Paling cuma sampai 3 produk aja ;D Reply
Itu tugas kasir donk ach mosok konsumen harus ikut sibuk Semoga berjaya bersama saya salam hangat dari Surabaya iya,dhe..bilangin dong sama pemilik minimarketnya π sip, semoga kita sama-sama berjaya di kontesnya kang yayat hhaahhhayy.. salam sejuk dari Makassar Reply
dohhh ribetnya itu, hahahahah, mini market mana itu π ada itu di faisal, namanya *r***c*m deh, apami itu..hahahahha Reply
hehehe..kalo di Samarinda mah, gak ada sama sekali yg namanya Alfamart atau Indomart… tapi kok kasirnya malah nyuruh pelanggan ngebacain yaah…harusnya kan ga boleh… π disana gak ada alfa2an? sini-sini ambil aja yang ada di Makassar ;D eh tapi minimarket yang saya maksud ini bukan alfamart atau indomaret lho..hehehe Reply
butuh konsentrasi tinggi untuk menghafal angka2 yang banyak… yeee..dibaca aja kaliii..terus langsung diinput sama si kasir. Kalau pakai acara dihafal gitu mah saya nyerah dahhh π Reply
heh? kenapa bukan kasirnya saja yang baca? ndak tau itu kasirnya. selalu bilang: tolong dulu bacaki angka yang ada di barcode barangta’ errrr..ngapamo, barangku ji ;D Reply
Untunglah sekarang sudah banyak ya Mbak yang pke mesin kasir, coba klo nggak antriannya sudah mengular tuh.. wong pke scan barcode aja sdh mengular.. hahah, iya. Makasih..teknologi ;D Reply
ini bagian yg tersulit y mbk,,,dijamin…………. tersulit gimana? eh, iya..baca angka dalam jumlah yang banyak memang cukup menyusahkan. hihi, ini pakai kata ‘dijamin’ segalan π Reply
hayoooo di eja…… mba….koq nyuruh baca sie ato mba gak bisa baca ya? π π bukan gak bisa baca. Cuma mau cerita aja kalau ngeja angka di barcode berkali-kali itu ribet juga yaaa Reply
hi mbak mampir lagi dimari, maaf yah mbak jarang bisa BW..sesempatnya BWnya nggak bisa rajin maklum sambil nguli..nulis diblog aja juga kadang kalo gak lagi rempong….maaf banget yah..:)soal eja mengeja angka byuhhh bukannya itu tugas kasir yah.. Wah nggak mau ah saya ..disuruh eja eja…dan alhamdulilah blom pernah kejadian, kalo mesin barcode nggak jalan yo mereka aja yang harus baca, mereka digaji untuk itu kok..pelanggan adalah raja..hehehe *wah emak kinan galak yah.. jangan galak-galak mama kinan..kasian kasirnya..hehhe Reply
mestinya ngurusin barcode itu kasirnya, kok malah pelanggannya. ini artinya makin banyak teknologi gak selamanya bikin mudah. dan untungnya belanja di pasar, di pasar tradisional, gak pake begituan. malah lebih cepet proses transaksinya ketimbbang di pasar modern huuuu..iya tuh…kasirnya tega sama saya -___-“ Reply
saya bertugas berlanja tiap awal bulan, namun pengalaman seperti itu saya tidak ada. kalau ada problem berkaitan dengan barcode, biasanya kasirnya sendiri yang melacak entah ke temannya atau mengetikkan sendiri kasir di minimarket tempat saya kan keren ;D jadi beda..hehhe Reply
Assalamu’alaikum. pertama berkunjung π saya juga baru saja ikutan. menejelang deadline. semoga kita sama2 sukses yaa, amin ikutan juga?? oalaaaah nambah saingan nih..hhehe Reply
kalau saya sih udah ngamuk duluan ngeliat kasir kayak gitu hehehehe ngamuk sambil bawa barang2 belanjaan yang belum dibayar tadi..hihihihi Reply
Ya … memang betul … sering kali … produk-produk tertentu suka susah di scan … ada pula produk yang barcodenya susah dicari … hehehe salam saya iya, om NH..seperti itulah lika liku kehidupan si barcode #eh ini bicara apaan sih mama rani ;D Reply
Mana apdetan selanjutnyaaaaa π huaaaa..si asop datang lagi… *klik add new post* iya sop, ntar -___-“ Reply
Hihihi, aneh banget kalo yang bacain pembelinyaaa π Biasanya kan mereka cepet baca barcodenya ^^ Reply
Kita disuruh membacakan kode-kode produk yang kita beli? Oh no… Kalau saya, lebih baik memilih batal belanja di situ… Ribet sangat.. haha.. π Reply
haaa ada gitu mbak yg sampe nyuruh pembeli bacain barcode nya.. ckckck.. males banget hehehe π Reply
Assalamuβalaikum. pertama berkunjung di sini π saya juga baru saja ikutan. menejelang deadline. semoga kita sama2 sukses yaa, amin Reply