Kumon Connect, Belajar Mandiri dengan Teknologi

Kumon Connect, Belajar Mandiri dengan Teknologi. Setelah bertahun-tahun les Matematika dan Bahasa Inggris, putri kedua saya-Tita, tertarik mencoba Kumon Connect. Lebih praktis katanya. Loh kok anak berusia 6 tahun ini sudah tahu aja nama aplikasi belajar tersebut? Apa saya bebaskan menggunakan gadget di rumah? Oh tentu tidak, Tita memang sudah akrab dengan metode belajar Kumon sejak saya daftarkan pada September 2022 lalu. Ah tidak, bukan sejak itu, jauh sebelumnya, bahkan sejak bayi, beberapa kali ia ikut serta mengantar Rani-sang kakak, pergi les di Kumon Pejanggik. Tita usia balita, sudah terbiasa dengan pemandangan kakaknya yang menyelesaikan lembar kerja Matematika setiap harinya di rumah.

Melihat beberapa orang temannya menggunakan gadget jenis tab di tempat lesnya, ia pun menyampaikan keinginan untuk melakukan hal yang sama. Apakah saya mengiyakan permintaannya? Oh tentu saja, belum, untuk saat ini. Tapi saya tidak menampik bahwa inovasi tersebut luar biasa lho, bagaimana lembar kerja Matematika dan Bahasa Inggris tersaji pada layar gadget. Bisa dikerjakan oleh seorang anak selayaknya mereka mengerjakan tugas seperti biasa, diperiksa untuk dinilai oleh kakak-kakak asisten, yang mana progresnya dapat dilihat langsung oleh orangtua. Poin plusnya, ramah lingkungan karena bisa menghemat penggunaan berlembar-lembar kertas.

Rani usia 6 tahun, dan kini usia 13 tahun

Perjalanan Tujuh Tahun bersama Kumon

Sepertinya saya terlalu cepat memulai tulisan ini, belum berkenalan terlebih dahulu. Kenalkan, saya Andy Hardiyanti- ibu dari dua orang siswi Kumon. Rasanya baru beberapa hari yang lalu mengantarkan si sulung- Rani, mengikuti tes penempatan kelas untuk subjek Matematika di salah satu cabang Kumon di Provinsi NTB, yaitu Kumon Pejanggik. Time flies, beberapa hari yang lalu yang saya maksud itu adalah Agustus 2017. Hampir tujuh tahun berlalu rupanya. Dari mengantarkan seorang Rani yang sudah tamat TK, namun kami tahan dulu untuk masuk SD menunggu usianya tepat 7 tahun, hingga kini tak lama lagi, ia akan berstatus sebagai siswi SMP. Ha? Tujuh tahun belajar di Kumon itu ngapain aja? Dapat apa?

Sejak Bayi Sering Mengantar Kakak, Sampai Ikut Belajar juga

Terbiasa melihat pemandangan si kakak menyelesaikan lembar kerja serta berangkat les setiap Selasa dan Jumat, membuat Tita kecil yang saat itu masih berusia balita, merengek ingin les juga. Lucu sekali, terkadang, ia memainkan lembar kerja kakaknya yang sudah diperiksa. Sekadar mencorat-coret khas usia balita. Tentu sembari melihat kemampuan Tita, kami tak begitu terburu-buru, hari demi hari Tita menikmati momen bermain sambil belajarnya. Beberapa kali pula kami dapati, keduanya bermain peran seolah-olah sedang di tempat bimbel matematika anak. Kakak jadi asisten, adik jadi siswinya. Sampai di tahun 2022, saat Tita berusia 5 tahun, ia resmi berstatus sebagai siswi Kumon Pejanggik.

Tujuh Tahun bersama Kumon dapat Apa?

Jadi selama tujuh tahun mendampingi anak-anak belajar di Kumon, dapat apa aja? Dapat hikmahnya. Iya, hikmah itu kan pengetahuan tentang baik dan buruk, serta kemampuan menerapkan yang baik dan menghindar dari yang buruk. Ada banyak sekali hikmah yang saya dapatkan dengan membersamai anak-anak di Kumon, pun melihat bagaimana dampak metode belajar ini di kehidupan keduanya. Ingat sekali betapa beragam komentar yang saya terima, entah itu tentang terlalu memaksa mereka mengerjakan banyak tugas, memaksa mereka memahami matematika, mengurangi waktu bermain mereka, atau yang lainnya. Belum lagi ketika dihadapkan pada mood mereka yang tiba-tiba terjun bebas. Syukurnya, saya dan suami bisa melewati itu semua.

Dan betapa manisnya buah roller coaster itu, ketika suatu siang si sulung-Rani, bercerita ia bisa menyelesaikan soal Matematika di papan tulis yang diberikan oleh gurunya, ketika seisi kelas tidak ada yang bisa menjawab, bahkan bingung akan materi tersebut. Ini sesuatu yang wow bagi kami, sebab saya sudah berpesan padanya bahwa gak papa kok gak peringkat tinggi di kelas, atau mengejar nilai tertentu, yang terpenting adalah ia jujur dan belajar memahami materi yang diajarkan. Bukan belajar hanya untuk nilai atau ujian saja (mamanya dulu gini soalnya wkwkwk). Percaya atau tidak, jelang ujian, dia tidak pernah pakai Sistem Kebut Semalam. Sebab setiap hari dia tetap belajar, memahami apa yang diajarkan, dan satu lagi, Alhamdulillah didukung pula dengan apa yang dipelajarinya di Kumon.

Tita dan Rani, ketika masuk Kumon Time (waktu yang mereka tetapkan untuk mengerjakan PR Kumon)

Tak Hanya Belajar Matematika dan Bahasa Inggris

Mungkin banyak yang bertanya-tanya, les di Kumon belajar apa saja? Jadi di sana tuh tersedia beberapa subjek, yaitu Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia (program baru). Bisa memilih mau ikut satu ataupun beberapa subjek sekaligus, disesuaikan dengan waktu, kemampuan, dan minat anak saja. Jawaban sederhananya sih begitu, tapi menurut saya pribadi yang hampir tujuh tahun ini bersama Kumon, sesungguhnya anak-anak tak belajar itu saja. Lebih dari itu, mereka belajar menjadi pribadi yang disiplin, percaya diri, dan tekun. Menarik ketika melihat ada anak yang usianya sama, tingkatan sekolahnya pun sama, namun level belajarnya berbeda. Sebab setiap anak punya kemampuan yang berbeda, bukan?

Setiap Anak itu Unik

Tidak perlu jauh-jauh, kedua anak saya saja, dengan usia yang sama sewatu mendaftar di Kumon, hasil placement test mereka menunjukkan titik pangkal (berdasarkan kemampuan, akan mulai di level mana) yang berbeda. Kak Rani pada 6A, dan  Adik Tita di level 4A. Level Tita lebih tinggi dari kakaknya sewaktu pertama kali bergabung, lebih tinggi- tapi bukan berarti si kakak lebih buruk. Keduanya punya level (titik pangkal) yang baik, sesuai dengan kemampuan mereka. Sebab ya, setiap anak itu unik. Oh ya, setelah beberapa bulan mengikuti proses belajar di Kumon, Rani dan Tita pun tertarik menambah subjek lain, mengingat Kumon merupakan tempat les Bahasa Inggris anak juga, akhirnya beberapa bulan setelahnya, diputuskanlah untuk menambah subjek Bahasa Inggris. Tahu sendiri kan, betapa pentingnya memiliki kemampuan memahami bahasa internasional, terutama di masa sekarang?

Belajar Disiplin, Percaya Diri dan Tekun bersama Kumon

Kok bisa? Apa di sana ada materi khususnya? Itulah uniknya metode Kumon yang bertahun-tahun lalu diciptakan oleh seorang Toru Kumon. Betapa belajar itu adalah perihal kebiasaan, latihan yang terus-menerus, konsisten. Bukankah tidak ada sesuatu yang instan? Kita mengenal istilah pembimbing, asisten, dan siswa-siswi di Kumon. Pembimbing adalah seseorang yang bertanggung jawab atas pengelolaan cabang Kumon tersebut, asisten adalah mereka kakak-kakak yang mendampingi siswa-siswi di sana. Saya sempat heran, mengapa disebut asisten, lama kelamaan saya paham, ya karena mereka mendampingi. Siswa-siswi Kumon terbiasa untuk sebisa mungkin berusaha sendiri menemukan solusi atas soal-soal (masalah) yang mereka temukan pada lembar kerja. Kakak-kakak asisten akan mendampingi mereka bagaimana menyelesaikannya, tidak serta merta langsung dibantu.

Menarik ketika melihat bagaimana lembar kerja soal di Kumon dibuat secara small steps, dimulai dari yang mudah naik ke tingkatan sedang, hingga rumit. Betapa siswa-siswi dilatih untuk percaaya diri dan tekun menyelesaikan soal tersebut. Bagaimana mereka diapresiasi sejak awal, hingga keinginan untuk menyelesaikan soal dengan level rumit pun semakin tinggi. Mereka belajar mencintai proses. Ternyata membuat mereka terbiasa dan semakin memahami materi pelajaran. Hasilnya, mendukung kemampuan sehari-hari, termasuk pada materi pelajaran di sekolah.

Semua Serba Digital Ketika Pandemi

Masih ingat masa pandemi yang kita hadapi beberapa tahun yang lalu? Bagaimana ketika mendadak kita semua jadi harus bisa beradaptasi dengan kehidupan serba digital. Bekerja, belajar, dan lainnya secara online. Lantas bagaimana dengan proses belajar bersama Kumon? Mengingat konsep Kumon Digital menggunakan aplikasi Kumon Connect belum ada kala itu. Seperti proses belajar lainnya, Kumon kala itu memanfaatkan teknologi yang ada, baik menggunakan aplikasi webinar atau lainnya. Tapi poin yang ingin saya garis bawahi di sini adalah, rupanya kebiasaan baik (disiplin, percaya diri, dan tekun) yang selama ini diajarkan di Kumon sangat berpengaruh di momen tersebut. Kebiasaan belajar mandiri itu menjadikan anak-anak tidak sulit untuk beradaptasi dari yang biasanya bertemu kakak asisten di ruang kelas, menjadi hanya secara daring, toh mereka terbiasa belajar mandiri, kan?

Kumon Connect, Belajar Mandiri dengan Teknologi

Belajar dari kebiasaan di masa pandemi, rupanya Kumon melahirkan inovasi les Matematika online yang bisa diakses menggunakan perangkat tab. Tak lagi memanfaatkan aplikasi maupun situs lain, melainkan hadir dengan aplikasi sendiri bernama Kumon Connect. Menariknya, tidak banyak yang berubah, mereka masih berhadapan dengan lembar kerja, dan cara menulis yang sama. Perbedaannya adalah pada penggunaan pensil yang kemudian diganti dengan stylus pen. Serta berlembar-lembar kertas yang berubah menjadi dokumen digital. Anak-anak sebagai siswa-siswi Kumon pun bisa memilih, apakah ingin belajar online atau tetap hadir pada pertemuan kelas di hari Selasa dan Jumat. Hal positif yang saya lihat dari penggunaan perangkat digital tersebut adalah minimalisasi penggunaan kertas, dan fleksibilitas belajar di Kumon.

Anak Saya Mau Daftar Kumon, Tapi Kok Di Sini Belum Ada ya?

Entah sudah berapa kali saya dihadapkan pada percakapan demikian dengan beberapa orang teman. Ada yang domisili Kabupaten Lombok Timur, Dompu, dan lainnya. Mereka melihat bagaimana Rani dan Tita memiliki progres belajar yang baik sejak bergabung dengan Kumon. Akhirnya tertarik, sayangnya, lokasi terdekat berada di Kota Mataram, yang butuh waktu sekitar satu jam perjalanan dari Kabupaten Lombok Timur, bahkan dua belas jam perjalanan dari Kabupaten Dompu. Itulah mengapa saya senang sekali ketika mengetahui bagaimana teknologi demikian memberikan manfaat pada pendidikan anak. Salah satunya yaitu dengan lahirnya inovasi bernama Kumon Connect.

Bagaimana orang tua seperti teman-teman saya tadi bisa menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan di mana dan kapan saja, salah satunya- berkat peranan teknologi. Mereka hanya perlu datang sekali di cabang Kumon terdekat untuk mendaftarkan sang anak, sekaligus mengikuti placement test untuk mengetahui titik pangkal. Setelah itu, dengan Kumon Connect, sang anak bisa belajar Matematika, pun mengikuti kursus Bahasa Inggris online, sesuai subjek yang sudah didaftarkan di awal.

Ketika Tita Ingin Belajar Menggunakan Kumon Connect

Kembali ke topik pembuka postingan ini, lantas bagaimana respon kami sebagai orangtua ketika Tita (6 tahun) berkeinginan belajar menggunakan Kumon Connect? Kalau ditanya mau, pasti mau, mengingat akan menghemat banyak lembar kertas. Tapi kembali lagi, saat ini kami belum memiliki perangkat tab dan rasanya pun kebutuhan ini belum begitu urgent. Baik Rani, maupun Tita, masih bisa diantar belajar tatap muka di Kumon Pejanggik oleh ayahnya. Pertimbangan lainnya adalah kami masih ingin membiasakan mereka merasakan goresan demi goresan pensil pada lembaran kertas. Pada saatnya kelak, tentu kami tak menampik pula untuk mencoba yang namanya Kumon Connect. Apalagi saya dan suami setiap harinya bekerja gak jauh-jauh dari perangkat teknologi, khususnya teknologi informasi dan komunikasi.

Merdeka Belajar ala Metode Kumon

Tak terasa, kita sudah memasuki minggu terakhir di bulan April. Rasanya baru kemarin kita menyambut tahun 2024, eh tahu-tahu sudah mau habis saja bulan keempat. Beberapa hari yang lalu kita merayakan Hari Kartini di tanggal 21 April, merasakan betapa pendidikan yang kita nikmati sekarang adalah satu bukti perjuangan seorang Kartini di masa lalu. Semangat kita untuk terus mewujudkan pendidikan terbaik, merupakan bentuk menghargai semangat seorang Kartini. Demikian pula beberapa hari lagi, kita tiba di tanggal 2 Mei, yang diketahui bersama sebagai Hari Pendidikan Nasional atau HARDIKNAS. Perayaan Hari Pendidikan Nasional tahun 2024 ini mengangkat tema: Bergerak Bersama, Lanjutkan Merdeka Belajar.

Merdeka Belajar sebuah kebijakan, pendekatan yang dilakukan agar pelajar bisa memilih pelajaran yang diminati. Kebijakan yang hadir sejak tahun 2022 ini, bertujuan untuk mengembangkan potensi dan minat belajar siswa. Program atau kebijakan ini menggali potensi terbesar dari para guru dan siswa/i untuk berinovasi dan meningkatkan kualitas belajar secara mandiri. Lantas bagaimana merdeka belajar berlangsung di tempat les Matematika dan Bahasa Inggris seperti Kumon?

Ternyata keputusan kami untuk menjadikan Kumon sebagai tempat belajar dalam rangka mendukung sekolah formal anak-anak adalah tepat. Sejalan dengan tema HARDIKNAS tahun ini, Kumon pun mendukung yang namanya merdeka belajar. Lihatlah dari poin-poin metode belajar yang saya paparkan di atas. Dan ternyata pendekatan cara belajar ini memang harus menjadi pekerjaan bersama, kita harus bergerak bersama. Sekolah, lingkungan rumah, pun tempat les atau tempat belajar lainnya, haruslah menjadi tempat belajar yang nyaman, yang membuat seorang anak mampu meningkatkan kualitas belajarnya secara mandiri, mengembangkan potensi belajar terbaik yang dimilikinya. Di sini, teknologi pun punya peranan penting dalam mendukung pendidikan anak.

Ketika dimanfaatkan dengan baik, maka teknologi akan berdampak baik pula pada pendidikan mereka. Demikian sebaliknya. Hari Pendidikan Nasional tahun ini semoga menjadi momentum kita untuk terus menyiapkan pendidikan terbaik bagi anak-anak, memastikan mereka menjadi pribadi yang mandiri, berakhlak baik, mahir memanfaatkan teknologi dengan baik, dan kelak menjalani masa depan yang cerah.

Biasa dipanggil Andy. Pernah tinggal lama di Makassar dan sekarang di Mataram, Lombok. Ngeblog sejak 2007. Senang kulineran, staycation, kopdaran di cafe, browsing produk di toko online tapi gak beli, dan tentu saja...senang menulis :) Bisa dikontak di andyhardiyanti@gmail.com

No Comments

Leave a Comment