Apakah ada penjual mie aceh di Lombok, tepatnya di kota Mataram? Tentu ada, salah satunya berada di daerah Gebang, cobain deh! Bagi sebagian orang, kuliner yang satu ini mungkin terlalu berat untuk dijadikan santapan makan malam, bagaimana tidak, bahan dasarnya adalah mie. Sudahlah berat dari bahannya yang tepung-tepungan, dari segi rasa pun terbilang berat, eh kaya sih, kaya rempah. Eit tapi jangan salah, sebagian orang lainnya pun pada suka, saya salah satunya.
Mencari penjual Mie Aceh di Lombok itu sama sulitnya dengan mencari yang jualan Coto Makassar. Ya lagian ngapain cari kuliner bukan di tempat asalnya? wkwk. Sama-sama susah carinya, sekalinya ada, doyan (rasanya sudah cocok), eh warungnya tutup atau gak ya pindah tempat. Huhuhu.
Pilihan Jatuh ke Raja Mie Aceh
Sebenarnya ini bukan kali pertama saya mencoba kuliner Aceh (tepatnya Mie Aceh) di Mataram, Lombok. Kayaknya sebelum pandemi pernah beberapa kali coba, tapi ya begitu, lokasinya berbeda-beda. Ketika mau ke sana lagi, ternyata usahanya sudah tutup atau malah ownernya memang sudah tidak tinggal di Lombok. Lalu kapan hari, diajak seorang teman, akhirnya kami coba cari di Google Maps dan Threads, dapat beberapa nama warung. Dengan mempertimbangkan beberapa hal, pilihan pun jatuh ke warung yang berada di daerah Gebang, dekat dari Golden Palace Hotel Lombok.
Jika teman-teman mencari di Google Maps, warung ini hanya bernama Mie dan Nasi Goreng Aceh, baru ketika tiba di sana saya melihat di papan menunya tertulis: Raja Mie Aceh, mari kita anggap saja itu nama warungnya ya. Hahahah.
Lokasi Strategis, Buka di Malam Hari
Alasan kami ke sini sih salah satunya karena lokasinya yang strategis, tepatnya di Jalan Sriwijaya No.12, Sapta Marga, Kota Mataram. Beneran dekat dari mana-mana, ya masih di pusat kota lah. Wisatawan atau tamu yang menginap di hotel sekitar sini (Golden Palace, Puri Indah, Aston, dll) gampang banget ke sini, pun teman-teman yang tinggal di kota Mataram, entah itu emang sengaja ke sini dari rumah, atau pas balik dari bepergian.
Sayangnya, meski lokasinya strategis, warung ini hanya beroperasi pada malam hari. Baru buka pada pukul 18.00 WITA (pasnya sih mulai bisa pesan-pesan setelah Maghrib), dan tutup pukul 23.00 WITA (atau bisa lebih cepat kalau stoknya sudah duluan habis).
Sajian Mie Basah Udang yang Menggugah Selera
Ada menu apa saja di sini? Ya seperti namanya, ada berbagai kuliner Aceh (walaupun gak lengkap-lengkap amat). Mie aceh dalam berbagai bentuk penyajian (kuah, basah/nyemek, dan goreng), dengan aneka pilihan topping (telur, ayam, udang, daging, atau kombinasi). Selain mie, tersedia pula nasi goreng Aceh, Mie Bangladesh, serta aneka varian Roti Canai. Kami yang sejak awal memang lagi pengen Mie Aceh tentu langsung memesan menu tersebut di sana, masing-masing seporsi Mie Basah Udang dan Mie Basah Daging.
Mengingat tumben banget makan kuliner ini lagi dan sekarang mencoba tempat/warung yang baru, jadi sejak awal kami sudah tidak menaruh ekspektasi berlebih, sewajarnya saja. Jaga-jaga khawatir kecewa. Tidak menunggu waktu lama, dua porsi mie aceh basah yang dipesan sudah tersaji di meja. Lengkap dengan acar bawang dan kerupuknya. Aroma rempahnya langsung menyeruak, saya icip sedikit, Masya Allah nikmat. Sebagai penikmat acar, melihat porsi acarnya yang terbilang sedikit, saya memberanikan diri untuk meminta tambah, eh dikasih dong!
Rasa Lezat, Porsi Pas
Saat disajikan, saya agak kaget dengan porsinya yang kok tidak sebanyak mie aceh yang saya makan pada umumnya. Iya, biasanya mie aceh tuh duarrrr ramai aja gitu sepiring. Kadang satu porsi bisa disantap berdua seingat saya. Kemarin tuh nggah, bahkan tidak sampai penuh di pinggir-pinggir piring. Kami yang sudah lapar, ya langsung makan saja, sempat mikir nanti kalau kurang ya pesan saja lagi. Setelah minta tambahan acar bawang, seporsi mie aceh tersebut kami santap. Masya Allah, enak! Tidak terlalu pedas, bumbunya kaya tapi tidak seret di tenggorokan, dan porsinya pas!
Alhamdulillah kami kenyang, after tastenya gurih rempah, nikmat. Perut pun tidak berasa penuh berlebihan. Benar-benar definisi porsinya pas. Cukup. Kami jadi berpikir, mungkin kalau pesan seporsi lagi malah jadinya tidak nikmat, berlebihan. Saking menikmatinya, kami sampai lupa bahwa tidak ada kacang goreng di sajian mienya tadi! Astaga hahaha. Rupanya kacangnya habis. Oh ya, harga seporsi Mie Basah Udang yakni Rp20.000,-, sedangkan yang menggunakan topping Daging harganya Rp22.000,-. Jangan khawatir karena pembayaran selain menggunakan uang tunai, juga bisa menggunakan QRIS.
–
Jadi apakah kuliner Aceh di Lombok yang satu ini layak dicoba? Layak sih menurut kami, pas banget untuk yang cari makan malam tapi bosan dengan menu yang itu-itu saja (lalapan, bakso, atau street food umumnya). Tapi sebaiknya gak usah sering-sering ya, khawatirnya enek, mengingat bumbunya yang cukup kaya.
Oh ya, teman-teman punya rekomendasi warung mie aceh lainnya di Lombok, khususnya Mataram? Share dong di kolom komentar.



No Comments