Berkunjung ke Masjid Al-Hakim Ujung

masjid al-hakim ujung

Lebih tepatnya ini adalah pengalaman mampir shalat Ashar di sebuah masjid yang terletak tepat di seberang pintu masuk Sirkuit Mandalika di Lombok Tengah. Oh ya, mengingat pintu masuk sirkuit Mandalika ada banyak (setidaknya lebih dari satu), seingat saya lokasinya adalah pintu masuk pertama yang didapat ketika kita datang dari arah barat jalan. Lantas apakah ini kali pertama saya berwisata ke sana? Tentu tidak, meskipun dijawab iya juga tak mengapa. Alhamdulillah saya sudah ke sana sejak perhelatan pertama event MotoGP di Mandalika. Ke sini lagi tentu saja dalam rangka menemani seorang kawan bersama kawan-kawannya yang kemudian menjadi kawan saya juga (dijelasin), untuk sekadar berfoto di depan tulisan sirkuit Mandalika.

Nah yang menjadi kali pertamanya adalah saat saya- tepatnya saya sekeluarga mampir shalat di Masjid Al-Hakim Ujung. Sebuah masjid yang berada tepat di seberang pintu masuk sirkuit Mandalika. Tentu saja mampir untuk shalat (waktu itu shalat Ashar), please itu judul di atas “berkunjung” bukan dalam rangka meresmikan atau apalah, ya biar judulnya ada iramanya aja.

area masjid
masuk area masjid yang luas

Masjid Terdekat dari Kawasan Sirkuit Mandalika

Usai puas berfoto, kami sudah berencana mau melaksanakan shalat Ashar. Sudah terpikir akan ke Masjid Nurul Bilad, masjid indah dan terkenal di kawasan Mandalika, pun masjid andalan untuk disinggahi setelah berwisata di sekitar sana. Sembari mempertimbangkan waktu, mengingat kawan-kawan ada janji berjumpa dengan kawan lainnya lagi di Pantai Tanjung Aan, maka mikir deh apa gak kejauhan masuk ke area sana lagi? Di mana Masjid Nurul Bilad ini lokasinya agak masuk ya. Lagi mikir gitu, loh itu ada masjid pas di seberang! Masya Allah.

Kalau saya bilang di seberang, ya beneran di seberang. Beneran definisi kita tinggal nyebrang tuh. Apalagi posisinya saat datang, mobil emang diparkir di parkiran mini market. Nah mini market tersebut bersebelahan dengan Masjid Al-Hakim Ujung. Udahlah, kayaknya dari seluruh masjid di Kawasan Mandalika, ini adalah masjid terdekat dari sirkuit.

bangunan masjid

Cerita Di Balik Berdirinya Masjid Di Depan Sirkuit

Sebelum bercerita bagaimana suasana masjidnya, saya mau share dulu nih perihal keheranan saya kok baru tahu ada masjid ini- tepat di depan sirkuit. Soalnya ingat banget, tahun 2022, saat event MotoGP pertama kali digelar di Sirkuit Mandalika, saya sempat berdiri lama tuh sekitar sini, nunggu bus. Wkwkwk. Ya gak pernah lihat masjid tersebut. Tahun-tahun setelahnya, ya mungkin karena tiap ngantar keluarga/kerabat berfoto di sini gak ngepas waktu shalat, jadi gak buru-buru cari masjid dan lihat masjid di seberangnya.

Oke, lanjut. Karena penasaran, ya udah, coba cari-cari informasi, artikel berita dll. Dapatlah info bahwa rupanya masjid ini tuh (di posisinya sekarang) adalah hasil relokasi. Adapun tahun selesai pembangunan dan pertama kali digunakan ya di tahun 2023. Ohh ya pantesan… Jadi Masjid Al-Hakim awalnya berdiri di atas lahan seluas 1.200 m2 (dengan luas bangunan 150 m2) dan masuk dalam area lintasan Sirkuit Mandalika. Mengingat posisinya yang berada tepat di jalur balap, maka masjid ini harus direlokasi ke lokasi baru yang lebih luas untuk mendukung pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Gitu kata berita

Masjid terdekat dari Sirkuit Mandalika bernama Masjid Al-Hakim Ujung, yang beralamat di Dusun Ujung, Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah.

eksterior masjid

Melihat Dari Dekat Bangunan dan Area Masjid Al-Hakim Ujung

Setelah kami dampingi untuk menyeberang jalan, anak-anak senang sekali diperbolehkan berlarian sendiri memasuki area masjid. Halamannya luas, nyaman sekali berjalan kaki dari area depan menuju bangunan masjidnya. Apalagi kalau cuaca sedang bersahabat, ditambah adanya semilir angin. Dari luar, bangunan masjid sudah terlihat megah dan gagah. Bukan megah sih, lebih ke elegan atau minimalis ya warnanya? suka deh dengan pilihan warna putih abu-abunya. Jadi gak gojreng aja gitu. Gagahnya ya karena bangunannya terlihat kokoh berdiri, dengan pilar-pilarnya yang tinggi, sudah terbayang bagaimana leganya udara di dalam masjid. Rupanya setelah relokasi, masjid jadi lebih luas dengan rincian luas lahan 1.700 m2 (dengan luas bangunan 400 m2), yang mana bisa menampung hingga 700 orang jamaah.

Sesampainya di sana, terlihat para petugas sedang menyapu halaman. Halamannya belum teduh- belum rindang memang, karena beberapa tanaman sedang dalam prosesnya untuk bertumbuh. Tapi di salah sudut, boleh, sudah mulai terlihat hijau.

ruang shalat masjid al hakim

Ruang Shalat dengan Konsep Semi-Terbuka

Dengan pilar-pilar yang tinggi dan konsepnya yang semi-terbuka menjadikan masjid ini mendapatkan cahaya alami yang cukup. Rasanya gak perlu kipas angin juga angin sudah berhembus dari mana saja. Butuh lampu hanya saat mendung atau langit sedang gelap (sebelum shubuh maupun malam hari).

Untuk ruang shalatnya sendiri, saya masih bingung ya perempuan shalatnya di bagian belakang di lantai dasar atau di lantai atas. Mengingat di bagian belakang lantai dasar disediakan mukena dan sajadah. Tapi dipikir-pikir, jadi gak ada pembatasnya dengan yang laki-laki. Mau ke lantai atas, kok gelap sekali? Gak ada tanda-tanda yang ke atas. Mau tanya petugas tadi, eh orangnya entah ke mana setelah menyapu. Jadilah kami shalat di lantai dasar bagian belakang saja.

Tempat Wudhu dan Toilet yang Luas

Area wudhu berada di sisi kanan bangunan masjid (lupa foto). Jadi ada satu bangunan, yang kemudian dipisah pintu kiri (laki-laki) dan kanan (perempuan). Di dalamnya disediakan beberapa wastafel, banyak (lebih dari lima!) keran wudhu, dan entah berapa bilik toilet. Sebelum masuk ke masing-masing tempat bersuci, baik laki-laki maupun perempuan akan melewati semacam kolam kecil (kira-kira setinggi mata kaki apa betis ya?) tempat membilas kaki terlebih dahulu. Tapi agak bingung ya, gimana yang perempuan- kan pakai kaos kaki (apakah dibuka?), terus mikir lagi- daerah sini banyak anjing (itu airnya aman?).

Epic ke sekian adalah, saat kami datang. Kolam kecil untuk bilas kaki itu sedang dipakai sekelompok anak untuk berenang. Mereka baru saja dari pantai, kemudian entah lagi bilas atau lanjut main air lagi. Dahlah, jadinya kami lompati saja bagian kolam kecil di depan itu.

TPA TPQ

Taman Pendidikan Al-Qur’an Al-Hakim

Selain bangunan utama masjid, kemudian area bersuci, ada lagi nih satu bangunan lainnya. Konsepnya lebih terbuka. Posisinya di sisi lain, di antara bangunan utama masjid dan area bersuci. Di mana di tengahnya ya area kosong, cukuplah buat bolak balik berjalan kaki- untuk mobilisasi jamaah saat pergi berwudhu. Melihat betapa nyamannya ruang terbuka ini, saya tertarik untuk semakin dekat ke sana. Di salah satu dinding (eh satu-satunya dinding) tertulis: Taman Pendidikan Al-Qur’an Al-Hakim.

Masya Allah. Tadi sempat mikir, karena lokasinya di area wisata ya udah cuma dipakai mampir shalat saja. Rupanya sebagaimana dulunya masjid ini digunakan oleh jamaah yang merupakan warga lokal (ada TPAnya), sekarang pun demikian, bahkan tidak hanya jadi sarana ibadah bagi warga lokal, masjid pun difungsikan untuk para wisatawan (terutama saat ada event di Sirkuit Mandalika).

Bagaimana? Penasaran pengen mampir shalat di sini juga saat berfoto di depan pintu masuk Sirkuit Mandalika? Semoga saat ke sana lagi, hal-hal yang masih kurang sudah diperbaiki ya. Intinya apa? Intinya: Lombok selalu asyik untuk dikunjungi.

andyhardiyanti

Biasa dipanggil Andy. Pernah tinggal lama di Makassar dan sekarang di Mataram, Lombok. Ngeblog sejak 2007. Senang kulineran, staycation, kopdaran di cafe, browsing produk di toko online tapi gak beli, dan tentu saja...senang menulis :) Bisa dikontak di andyhardiyanti@gmail.com

No Comments

Leave a Comment