Untuk urusan staycation, lebih pilih mana? Mencari aman dengan menginap kembali di hotel yang disukai, atau tipikal ingin mencoba tempat baru? Kalau saya pribadi sih, lebih suka di tempat yang sudah pernah didatangi sebelumnya (dengan catatan kualitasnya memang bagus), namun lain cerita kalau bersama keluarga. Entah waktu itu ada agenda apa, atau sempat janjiin mereka reward tertentu, lupa. Intinya tiba-tiba jadi staycation aja gitu. Dengan catatan rate kamar di bawah 600ribu, dan lokasi gak jauh-jauh dari kota Mataram, soalnya Apak (panggilan anak-anak ke Ayahnya) masih ada urusan kerjaan bentar, saat sore hingga jelang malam.
Apa Kabar Senggigi Kini?
Setelah anak-anak dan Apak ngecek bareng pilihan hotel di berbagai OTA, pun dilanjutkan bertanya sama teman-teman hotelier, dapat deh beberapa kandidat dengan rate di bawah 600ribu per malam dan sudah termasuk sarapan. Sampai akhirnya pilihan jatuh kepada hotel Puri Saron Senggigi. Hotel yang pasti dilewati kalau teman-teman melintasi area Senggigi menuju Kerandangan. Lantas kenapa saya pakai acara bertanya ke teman-teman hotelier segala? Soalnya terbilang sudah lama tidak menginap di hotel-hotel Senggigi. Senggigi yang dulu itu ramai sama wisatawan, demikian pula akomodasinya. Hotel sering terisi, jadinya sering dirawat juga kan? Nah entah sejak kapan, mungkin kombinasi momen gempa Lombok, masa pandemi Covid-19, atau karena bukan menjadi destinasi prioritas, akhirnya Senggigi yang seperti ini. Sepi.
Urusan memilih hotel pun tricky, apalagi yang notabene blas belum pernah menginap di sana sebelumnya. Pilihan hotel banyak sekali, tapi khawatirnya karena kondisi tidak seramai biasanya, maka rasanya perlu menurunkan ekspektasi terlebih dahulu.
Suasana Hotel Puri Saron Senggigi
Awalnya kami hanya menginap berempat, tapi kemudian saudara saya pun ingin ikut serta. Setelah tahu hotel yang dipilih, dia kemudian memesan sendiri dengan mengikuti tanggal check in kami. Sayangnya, karena masih harus masuk kerja, maka dia berpesan baru bisa menyusul pada sore hari. Ya sudah tak apa, toh dia juga naik kendaraan sendiri dari tempatnya bekerja. Kami sekeluarga berangkat usai shalat Dzuhur, memang mengejar tiba sekitar pukul 14.00, agar segera check in dan anak-anak bisa berenang sepuas hati.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, akhirnya kami tiba di hotel berbintang 3 tersebut. Kalau biasanya kami hanya melintas di depannya, kali ini kami belok kiri, masuk, dan memarkirkan mobil di sana. Ada beberapa mobil sudah terparkir, suasana sepi, hening. Bagian depan hotel serupa rumah besar dan mewah zaman dulu atau zaman sinetron ya? Pilarnya tinggi, tembok-temboknya penuh ukiran, dan dua patung menghiasi bagian pintu masuk.
Lobby Hotel dan Proses Check In
Kami memesan hotel melalui OTA Booking.com, saat itu (Juli 2025)- harga lebih tepatnya 571rb menjadi harga termurah dibanding aplikasi lainnya, namun karena waktu pemesanan hanya beberapa jam sebelum waktu check in, jadi kami agak menunggu. Info dari resepsionisnya, mereka menunggu pemesanannya masuk dulu. Oke, kami duduk-duduk di area lobby. Suasananya sepi, dan memang sedang tidak banyak orang (malah hanya ada kami dan 1-2 orang tamu lain). Saudara minta sekalian di-check in kan juga, mau kamar bersebelahan. Mengingat lokasi hotel yang menghadap langsung ke pantai, saya terpikir untuk mengambil kamar lantai atas saja, supaya bisa puasa melihat area laut.
Sebelum pemesanan kami diproses, staf hotel mengajak melihat dulu kamarnya. Kamar atas tidak ada yang bersebelahan, kalau mau- adanya yang di lantai dasar. Saya yang pengen lihat laut, masih kekeuh pengen di atas saja, kami pun jalan bareng melihat kamarnya. Wah, tidak ada lift, harus naik tangga sampai lantai 3. Repot juga anak-anak kalau nanti bolak-balik mau ke kolam renang. Plottwistnya lagi, kamar atas ini tidak benar-benar menghadap ke laut rumahnya, dapat menyamping saja (terlihat, tapi tidak full), malah dapatnya view villa atau bangunan apa gitu (mungkin bukan bagian hotel) yang sudah lama kosong. Hiii… Saya langsung berubah pilihan: lantai dasar saja.
Kamar yang Bersih dan Nyaman
Alhamdulillah, keputusan saya tadi tepat. Kamar di lantai dasar yang dipilih ini letaknya dekat dari lobby. Jadi tidak perlu jauh-jauh angkat barang bawaan, kalau ada perlu apa-apa (selain via telpon) pun dekat, demikian pula jika ada rencana mau keluar makan/ngemil malam nanti. Dari kolam renang memang perlu jalan kaki sedikit lebih jauh, tapi tak apa, lurus-lurus aja kok. Tidak seperti yang saya khawatirkan, syukurnya suasana kamar bersih dan nyaman. Lantainya bermotif kayu, entah pakai parket atau vinyl, tumben banget menginap di hotel begini lagi, biasanya ya yang berlantai ubin/keramik (di Lombok jarang hotel berlantai karpet).
Kami memesan kamar tipe Superior dengan twin bed. Kamar seluas 24 meter persegi ini memuat tempat tidur, set kursi dan meja, televisi 32 inchi, lemari, rak barang, dan kamar mandi (shower dan toilet duduk). Standar kamar hotel bintang 3 pada umumnya lah yaa… Oh iya, saudara saya mendapatkan kamar tepat di samping kamar kami, malah connecting room. Bersyukur banget, soalnya nanti Apak harus keluar untuk urusan kerjaan. Jadinya gak sepi-sepi amatlah.
Kolam Renang yang Tenang dan Buka Hingga Malam
Namanya anak-anak, begitu tiba, yang dicari ya langsung kolam renang. Alhamdulillah lagi karena kolam renangnya bersih, sekitarnya ada banyak tempat duduk, dan hanya berbatas pagar- eh langsung dapat pantai. Entah ini masih masuk Pantai Senggigi atau yang lain. Suasananya tenang, padahal selain kami, ada beberapa orang juga yang berenang, kebanyakan wisatawan asing sih. Kolamnya terdiri dari satu kolam besar dan satu kolam kecil. Kolam renang yang besar tingginya bervariasi, alias miring gitu, jadi geser-geser dikit ada perbedaan ketinggian, eh kedalaman maksudnya. Sedangkan kolam kecilnya beneran untuk main-main bocah aja, hanya setinggi mata kaki apa betis anak gitu.
Anak-anak berenang dari siang hingga sore hari. Si kecil beres renang sorenya ya udah, kembali ke pelukan saya. Kemudian si sulung, begitu tantenya tiba, auto lanjut renang malamnya. Oh ya, kolam renangnya buka hingga malam- entah sampai jam berapa, soalnya si sulung dan tantenya renang bentar aja. Langsung lanjut shalat isya dan ke restoran untuk makan malam.
Menyantap Aneka Menu di Restoran Mawar Saron
Kami yang awalnya sempat berpikir di sini tuh sepi, akhirnya mulai melihat tamu lainnya saat berenang dan di restoran. Sepertinya hotel Puri Saron Senggigi menjadi pilihan bagi mereka yang mencari tenang (mungkin honeymoon) dengan harga terjangkau. Kalau intip harga tanggal postingan tayang sekarang aja, kamar tanpa sarapan, ada lho yang 300ribu-an. Nah, tamu lainnya ini sebagian besar memang wisatawan asing, baik dari Eropa maupun Timur Tengah, dan selain kami- tamu yang membawa anak hanya 1-2 orang saja. Kami jumpanya ya saat di restoran itu.
Mengingat konsepnya emang staycation, beneran deh di hotel aja. Sore harinya sambil temenin anak-anak berenang, pesan makanan (pizza, soto, dan mie goreng). Malamnya, tantenya anak-anak pun pesan makanan (spaghetti sama entah apa lagi). Makan yang lain ya yang dibawa dari rumah saja saat baru datang, dan malam hari ketika Apak balik kerja- dibawain makanan. Habis renang, gampang lapar nih anak-anak. Selanjutnya, sesi makan ini adalah sarapan, yang sudah termasuk dengan harga kamar. Pilihan menunya gak banyak, apa karena bintang 3? Ada nasi goreng, nasi putih, mie goreng, ayam panggang, tumis sayur, aneka roti dan pastry, dan beberapa menu lainnya.
–
Kalau dipikir-pikir setiap momen staycation tuh ada aja ceritanya. Setiap akomodasi, pasti ada kelebihan dan kekurangannya, serta preferensi tiap orang pun berbeda. Teman-teman ada yang pernah menginap di Puri Saron Senggigi juga? Cerita dong di kolom komentar.


No Comments