Kalau besok-besok ada yang bertanya, apakah pernah ke Surabaya? Maka saya mantap menjawab: ya, pernah. Perjalanan udara setiap kali bolak-balik Makassar-Lombok, lalu transit di Surabya, tidak dihitung ya, karena eh karena setahu saya Bandara Juanda itu berlokasi di Sidoarjo. So, here we are…di tahun 2025 akhirnya sampai juga di kota Pahlawan. Meski sebentar, yaa tidak sampai sehari atau 24 jam sih, setidaknya ada kebanggaan tersendiri sudah menambahkan satu nama dalam daftar kota yang pernah didatangi di Indonesia.
Masih tentang perjalanan dari Lombok ke Makassar versi merepotkan diri sendiri hahaha. Di mana sebelumnya saya berangkat dari Pelabuhan Lembar di Lombok, menuju Tanjung Perak Surabaya menggunakan KM. Kirana 7. Transit semalam di Surabaya, lalu lanjut ke Makassar. Mengingat ini adalah kali pertama saya ke sana, pun setelah dicek rupanya jadwal sandar kapal di malam hari, maka saya berencana untuk booking kamar hotel sebelum tiba di Surabaya.
Mencari Hotel yang Dekat Dari Pelabuhan Tanjung Perak
Sebelum perjalanan eh pelayaran dimulai, saya sudah browsing kira-kira baiknya nanti menginap atau lebih tepatnya transit semalam di hotel mana. Inginnya sih yang benar-benar dekat dari pelabuhan, tapi saya benar-benar galau dengan ulasan sebagian besar hotel area sana. Sampai kemudian saya menemukan sebuah hotel, D’Carol Hotel Surabaya namanya. Agak bingung sih kok banyak yang bilang jaraknya dekat dari pelabuhan? Padahal saat saya cek di google maps, jaraknya sekitar 6-7km. Atau mungkin jarak tersebut termasuk dekat? Meski jaraknya cukup jauh, pilihan saya kemudian mengerucut pada akomodasi itu karena menemukan ulasan seorang teman blogger yang sudah lebih dulu ke sana, Lazwardy Perdana namanya. Kami terbilang cukup akrab, jadi selain membaca ulasannya, sekalian saja saya tanya-tanya lebih banyak tentang hotelnya.
Pilihan sudah mengerucut ke hotel tersebut, tapi bahkan saat sudah di kapal, saya belum juga memproses halaman booking di salah satu Online Travel Agent (OTA). Sempat terpikir untuk memilih hotel yang lebih nyaman (bahkan sempat pengen yang ada kolam renangnya, hitung-hitung supaya si kecil sekalian refreshing). Waktu semakin sempit, beberapa jam lagi kapal akan tiba di Surabaya. Syukurnya sinyal internet sudah mendukung, saya bolak-balik cek pilihan akomodasi, sembari iseng ngobrol dengan beberapa penumpang. Dari semua pilihan yang saya tanya, semua menyarankan di D’Carol saja, sebab hari itu- akhir Agustus 2025, situasi sedang memanas. Unjuk rasa berlangsung di mana-mana, termasuk Surabaya, dan hotel-hotel incaran saya, semuanya berlokasi di titik-titik chaos. Maka jadilah, sejam sebelum kapal tiba, saya putuskan untuk transit semalam di D’Carol Hotel Surabaya.
Menginap di D’Carol Hotel Surabaya
Kami tiba di hotel sekitar pukul 10 malam. Oh ya, hotel ini terletak di dekat Stasiun Pasar Turi (lebih tepat rasanya buat transit para penumpang yang baru tiba di stasiun tersebut), dan berada di kawasan grosir Dupak. Ini ditandai dengan banyaknya banguna pertokoan yang berdiri di sekitar hotel. Kami tiba, sempat duduk sebentar di lantai dasar, sampai kemudian saya baru ingat, ah iya! lobby hotel berada di lantai 5- bukan cuma lobby sih, tapi lokasi hotel berikut kamar-kamar dan seisinya memang berada di lantai 5.
Proses check in sangat cepat, saya agak kaget karena pakai acara tinggalkan KTP. Soalnya biasanya cukup di-fotokopi saja. Mau protes, kok ya tidak ada energi. Ya semoga tidak disalahgunakan saja. Dari lobby menuju kamar, jaraknya cukup jauh untuk ukuran berjalan kaki di lantai yang sama. Pantas saja kami dititipkan nomor kontak Whatsapp (staf atau admin) yang bisa dihubungi kalau butuh bantuan. Kebayang kan kalau mesti bolak-balik melintasi lorong kamar yang cukup panjang itu?
Kami menginap di kamar tipe Superior Double tanpa jendela, rate 200ribu-an per malam. Dengan ukuran 16 m², kamar tersebut terbilang cukup untuk sekadar tempat beristirahat semalam bagi seorang ibu dan anaknya. Di dalamnya terdapat satu tempat tidur queen size, set meja dan kursi, televisi, AC, tempat barang (apa sih namanya?), dua botol air mineral, lemari (lengkap dengan hanger), cermin, dan kamar mandi (shower, closet, dan wastafel).
Tadi sempat berpikir, semoga saya tidak perlu mengontak nomor tersebut. Soalnya sudah malam sekali, harapannya semua berjalan sebagaimana mestinya. Kami hanya ingin mandi, ganti pakaian, shalat, lalu tidur. Aih, rupanya kami perlu mengontak beberapa kali. Pertama, karena saya bingung dengan cara penggunaa ACnya. Alhamdulillah responnya cepat. Selain diinfokan bahwa remote AC dan lampu itu sama, salah seorang staf pun datang untuk membantu bagaimana mengaturnya. Setelahnya, saya merasa perlu mengontak mereka lagi. Kali ini terkait noda yang saya temukan pada sprei. Warnanya krem kecoklatan, cukup banyak, tapi syukurnya ada di bagian bawah tempat tidur (bagian kaki). Sebelum kami naik, saya segera menghubungi nomor tadi.
Alasannya tentu demi kenyamanan, khawatir itu sesuatu yang kotor/berbahaya (tentu saja, terlebih saya membawa anak kecil). Alasan lainnya, jangan sampai pihak hotel berpikir itu kotoran yang kami tinggalkan hehe, jadi yaa disclaimer dulu. Respon dari hotel sih mengatakan bahwa mereka selalu mencuci linen hotel dengan chemical, jadi dipastikan bahwa itu bersih. Noda tersebut merupakan noda lama yang tidak bisa hilang. Baiklah, saya terima-terima saja, karena memang lagi tidak energi untuk protes, dan itu di bagian kaki, rencananya saya akan memasangkan selimut yang kami bawa untuk alas tidur Tita.
Alhamdulillah, kami bisa beristirahat tenang semalam. Suhu AC yang sesuai dan tidur nyenyak tanpa gangguan. Oh ya, untuk sarapan, saya pesan dari aplikasi pemesanan makanan online saja. Supaya lebih ringkas makannya, dan tidak lupa- pesan kopi TUKU juga! Saat memesan makanan, saya jadi tahu bahwa aksi unjuk rasa memang terjadi di mana-mana, sejak semalam hingga keesokan harinya. Warna merah tanda jalanan padat maupun ditutup terlihat di peta, pesan bahwa driver mungkin akan lama sampai pun muncul. Saya bersyukur memutuskan transit di sini, setidaknya, tidak terjebak di daerah keramaian.
Setelah sarapan dan bersantai di kamar bersama Tita, kami keluar sebentar. Penasaran sama tempat bermain yang sempat disebut oleh kawan saya di blognya. Jadi di dekat lobby, ada restoran dan playground kecil. Ya, tempat main bola dan beberapa buah mainan seperti kuda-kudaan. Tita main sebentar, lalu kami menuju ke arah resepsionis, bertanya tentang toko mainan di atas (ah saya lupa namanya). Baru saja mau mengajak Tita ke sana, eh ternyata itu tempat jual mainan grosiran. Selain pembeliannya dalam jumlah besar, rupanya untuk ke showroom tersebut harus membuat janji terlebih dahulu.
Tindakan Kecil yang Hangat
Kami kembali ke kamar. Menikmati camilan, mandi, dan berkemas. Atas saran teman-teman, saya sebaiknya sudah menuju pelabuhan pada pukul 11 atau 12. Jadilah kami bersiap sekalian akan check out. Sembari menunggu proses check out di lobby, yang baru terasa panas dan gerahnya (karena tidak ber-AC) di jam begini. Itulah saya membolehkan ketika Tita meminta uang untuk membeli air mineral dingin yang terpampang di showcase. Eh, baru saja ia hendak membayar ke staf hotel, oleh seorang perempuan (yang entah manager atau pemilik hotel) di sana, Tita diberikan dua botol, dan tidak perlu membayar.
Di balik hal-hal yang perlu diperbaiki, rasanya D’Carol Hotel Surabaya menutup pengalaman menginap semalam kami dengan tindakan kecil yang cukup hangat. Terima kasih ya.





Kesan pertama saya ke Surabaya emang panas mbak, sama kek kota saya Medan dan Semarang.
Saya juga baru sekali ke SBY dan sebentar doang, hehe.
Pengalaman yang sama juga soal noda di sprei, kalo saya waktu itu ngelapor lebih ke takut aja dikira noda kita yang bikin. Tapi waktu itu spreinya diganti yang baru
Makin banyak nih ya hotel2 baru di Surabaya, aku baru denger DCarol ini mbak, ternyata lokasinya lebih dekat pelabuhan dan stasiun KA ya, kirain dekat bandara 😀
Untuk hotel dengan rate segitu lumayan sih ya mbak buat kamar dan juga service-nya, terutama di paragraf2 terakhir yang kais air mineral itu.
Cuma emang agak terganggu dengan dimintain KTP itu yaa, kan mestinya gak boleh, kalau menunjukkan aja sih iya biasanya.
Kalau ganti kek SIM gitu gak boleh ya?
#kasi
Harusnya praktik hotel meminta tamu meninggalkan KTP sebenarnya sudah tidak dianjurkan karena termasuk melanggar aturan perlindungan data pribadi. Ini kebiasaaan lama sebagai jaminan agar tamu: tidak kabur sebelum bayar atau tidak merusak fasilitas. Takut disalahgunakan, lain kali tolak saja, minta di scan, plus tawarkan uang deposit sebagai jaminannya
Untuk transit singkat dan sekedar menikmati tidur sih penginapan seperti Hotel D’Carol ini cukup banget Mbak. Jarak 6-7km juga gak jauh-jauh amat. Tapi ya juga gak mungkin ditempuh dengan jalan kaki. Yang penting gak menguras dompet karena bener-bener hanya transit aja.
hotel D’Carol ini tipe penginapan yang dibutuhkan untuk tidur dengan nyaman ya?
Gak penting fasilitas kolam renang, gym, dll, bahkan mungkin menu breakfast yang “asal kenyang”.
Kok KTP nya ditinggal ya Kak?
Kalau sekadar diperlihatkan aja buat proses check-ini tentunya gak masalah sih ya. Hemmm.
Meski demikian terbilang cukup nyaman ya staycation nya, apalagi buat menuju ke tempat tujuan lain yang terbilang masih terjangkau.
Hihihi! Saya juga sellau merasa kalau Surabaya itu panas. Bahkan lebih panas dari Jakarta 😀
Semoga aja, pihak hotel mengevaluasi yang sprei itu, ya. Meskipun dijamin bersih, tapi memang agak mengganggu kenyamanan kalau banyak bercak. Mending gak usah dipake lagi. Tapi, terlepas dari itu, kalau menginap sekadar transit memang yang penting kamar tidur dan kamar mandi terasa nyaman.
Langkah tepat menghubungi resepsionis duluan mbak. Saya pernah kena biaya ekstra karena ada noda di seprai saat menginap di salah satu hotel. Salahnya, waktu itu kondisinya saya tiba tengah malam dan memang tak melakukan inspeksi di awal.
Semoga Tita tetap menikmati perjalanannya ya..
Wah, nice info mbak. Terima kasih sudah review jujur. Mulai dari KTP ditahan sampai noda sprei. Jadi tambahan referensi buat kita-kita yang belum pernah nyobain di sana. Untungnya mbak ngak nge-gas ya, tetap tenang, jadinya masih rasional semua.
Hotel ini mungkin bukan yang paling nyaman atau mewah, tapi ya cukup ya… karena respons cepat stafnya. Detail-detail yang kecil kayak gini sepertinya bisa bikin kesalahan-kesalahan dimaafkan dan semoga jadi pelajaran buat smw.
Wah, sempat merasakan panasnya surabaya ya mbak
Emang surabaya terkenal panas mbak apalagi daerah utara yang dekat pelabuhan
Next klo ke surabaya dan ada waktu, bolehlah meet up bareng blogger surabaya