Musala Olivia Lombok dan Perihal Cinta yang Tak Pernah Padam

area depan musala olivia lombok

Kalau teman-teman pernah melintasi Jalan Bypass BIL, entah sebagai wisatawan maupun penduduk setempat, mungkin tahu yang namanya Musala Olivia Lombok. Sebuah bangunan berukuran tidak begitu besar, sebagaimana ukuran musala pada umumnya. Tempat di mana para pengendara mampir untuk mendirikan shalat, kadang dilanjutkan pula dengan istirahat sejenak. Bisa disebut sebagai rest area, baik bagi yang datang dari atau pun mau menuju Bandara Internasional Lombok (BIL). Selain itu, kami juga menjadikan musala ini sebagai tempat favorit untuk mampir shalat ketika perjalanan pulang berwisata dari arah Lombok Tengah bagian selatan.

Sempat terpikir gak sih, kok namanya Olivia? Cukup unik ya, tidak seperti nama masjid atau musala lainnya. Lebih mirip nama orang, tapi kalau dicek lagi, dalam Bahasa Arab, Olivia bermakna Pohon Zaitun. Gak sampai di situ, ada kisah cinta yang tak pernah padam di balik didirikannya musala ini. Tentang cinta, ketaatan, ketulusan, mungkin banyak pesan lainnya yang bisa dipetik pun dijadikan inspirasi.

Cerita Di Balik Nama Olivia

Saya lupa kapan pertama kali mampir shalat di sini. Setiap kali datang, saya selalu sempatkan untuk memotret bangunan dan berbagai fasilitas yang ada. Sampai lupa di mana file-file foto itu tersimpan. Sejak kedatangan pertama, saya sudah dibuat kagum dengan tempat tersebut. Meski luasnya tidak begitu besar, namun manfaatnya benar-benar maksimal. Betapa banyak jamaah yang terbantu bisa mendirikan shalat dengan nyaman, istirahat di banyak tempat duduk (kursi maupun gazebo) yang tersedia, serta menikmati aneka sajian makanan dan minuman instan secara gratis. Dari kekaguman itu, ada banyak cerita yang disampaikan oleh mereka yang sering berkunjung maupun tinggal di sekitar sana.

Tanda Cinta Seorang Suami pada Istrinya

Lewat cerita dari mulut ke mulut tersebut, pun setelah saya membaca beberapa sumber yang dituliskan portal berita online, rupanya yang berdiri sejak 2017 ini adalah bentuk cinta seorang suami kepada istrinya yang telah wafat. Dibangunnya sebuah musala, lengkap dengan aneka fasilitas di dalamnya, dimana nama Olivia sendiri merupakan nama sang istri. Masya Allah, bangunan ini adalah wakaf cinta yang manfaatnya terus mengalir bagi setiap musafir yang singgah. Sang pemilik mewakafkan tanah dan bangunan tersebut agar setiap sujud jamaah di sana menjadi pahala jariyah bagi mendiang istrinya.

QRIS musala olivia lombok

Pahala Sedekah Rutin Bagi Siapa Saja

Tidak sampai di situ, enggan memanen pahala sendiri, maka pihak pemilik maupun pengelola sudah menyediakan rekening/QRIS bagi siapa saja yang hendak berdonasi. Tidak melulu dalam bentuk uang, para pengunjung juga bisa membawa langsung makanan/minuman untuk bisa disantap kelak oleh jamaah/pengunjung lainnya. Entah itu air mineral, mie instan, biskuit, teh, kopi, dan lainnya.

Lokasi dan Fasilitas di Musala Olivia

Dalam perjalanan menjemput keluarga/kerabat dari bandara, atau baru saja kembali dari travelling keliling destinasi wisata di selatan Lombok, di mana waktu shalat sedang mepet. Tak dikerjakan segera, khawatir nanti tidak terkejar saat tiba di kota Mataram. Maka pilihan tepat adalah mampir di Musala Olivia Lombok. Seperti yang saya sampaikan di awal tulisan, lokasinya sangat tepat sebagai rest area yakni di jalur/jalan Bypass BIL, sebuah jalan pintas dari bandara menuju kota. Tepatnya di Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. Dari arah bandara, musala ini berada tepat di sisi kiri jalan. Pas untuk mampir, tidak perlu belok/putar balik lagi.

Untuk jam operasionalnya, yakni dari pukul 03.30 hingga 21.15 WITA. Sempat mikir sih, kenapa ya gak buka 24 jam saja? Oh rupanya karena terkait keamanan dan mungkin karena jam penerbangan (operasional) Bandara Internasional Lombok pun tidak 24 jam, kalau tidak salah, penerbangan terakhir saja sebelum pukul 9 malam. Jadi ya saat pukul 21.15, pintu musala sudah ditutup dan dikunci. Kemudian pembasan terkait fasilitasnya bisa dibaca di bawah ya…

ruang shalat

Ruang Shalat yang Nyaman

Dengan ukuran selayaknya musala pada umumnya, saya salut akan kondisi ruang shalat Musala Olivia yang tetap terjaga kenyamanannya. Area shalat laki-laki dan perempuan dibatasi dengan baik, dengan pembatas yang cukup tinggi (jauh lebih tinggi dari tinggi orang dewasa). Di dalamnya, terpasang beberapa unit kipas angin. Meski tanpa kipas angin pun, angin di jalan ini, yang mana sekitarnya adalah hamparan sawah, pun bukit-bukit di kejauhan, sudah sejuk dari sananya.

Eh, lanjut. Gak sampai di situ, baik laki-laki maupun perempuan, sudah disediakan perlengkapan shalat, bahkan ada kursi lipat pula untuk mereka yang sudah lansia/kesulitan untuk berdiri. Stok mukena ada banyak banget, dan pastinya punya pasangan semua. Problem di tiap musala/masjid publik nih soalnya. Untuk laki-laki, disediakan sarung (mungkin ada peci juga, saya gak cek), beserta satu ruang untuk mengenakan sarungnya.

tempat wudhu perempuan

Tempat Wudhu dan Toilet

Seperti halnya ruang shalat yang jelas terpisah antara laki-laki dan perempuan, tempat wudhunya pun demikian. Makin mantap lagi karena ada banyak unit kerannya. Gak perlu kelamaan nunggu giliran! Airnya lancar, tapi wait…saya ingat-ingat dulu apakah kerannya tipikal nyemprot atau bukan wkwkwk. Untuk area perempuan nih, tempat wudhunya punya view yang cakep banget! Bisa langsung lihat hamparan sawah dan perbukitan di kejauhan dari balik jejaring di atas tembok tempat wudhu. Kebayang gimana cantiknya lihat sunrise maupun sunset, usai waktu shalat Shubuh dan jelang Maghrib.

Untuk toiletnya sendiri, masing-masing terletak di sebelah area wudhu. Beberapa kali mampir, Alhamdulillah kondisinya bersih dan selalu tersedia air.

makanan dan minuman gratis

Makanan dan Minuman Gratis

Selesai melaksanakan shalat, dan hendak sejenak beristirahat? Pas banget nih duduk-duduk dulu di area nongkrongnya Musala Olivia. Ada banyak disediakan tempat duduk, mau duduk di area yang ada mejanya, atau di gazebo (berugak). Makin asyik karena bisa sambil menikmati aneka makanan dan minuman yang tersedia. Eitts, tapi silakan masak/buat sendiri ya. Di sana sudah tersedia air panas, makanan/minuman instan, serta piring, gelas, dan sendok. Selesai makan/minum, ingat untuk mencuci kembali peralatan yang digunakan. Sampahnya pun harap buang pada tempat sampah. Oh ya, karena makanan dan minuman ini sifatnya sedekah dari siapa saja, jadi untung-untungan ya (rejeki-rejekian), bisa jadi suatu hari pas kalian datang ada berlimpah makanan/minuman, tapi bisa jadi pula sebaliknya.

Intinya apa? Niatnya kan mau mampir shalat. Makan dan minumnya itu tambahan aja. Syukur-syukur kalau kita ke sana yang membawa makanan/minuman bagi jamaah lainnya.

Masya Allah ya, kisah tentang ketulusan cinta seorang suami pada istrinya dengan mengharap hanya ridha Allah SWT, dan rupanya di tahun 2019, sang suami meninggal dunia. Semoga kelak keduanya dipertemukan kembali di kehidupan yang akan datang yaa. Aamiiin.

Meski pendiri Musala Olivia Lombok telah tiada, semoga para pengelola tetap semangat melanjutkan estafet kebaikan ini. Tentunya dengan dukungan kita semua. Semoga juga cerita kebaikan perihal cinta yang tak pernah padam bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja di luar sana.

andyhardiyanti

Biasa dipanggil Andy. Pernah tinggal lama di Makassar dan sekarang di Mataram, Lombok. Ngeblog sejak 2007. Senang kulineran, staycation, kopdaran di cafe, browsing produk di toko online tapi gak beli, dan tentu saja...senang menulis :) Bisa dikontak di andyhardiyanti@gmail.com

No Comments

Leave a Comment