Jalangkote Dompu sebagai Penawar Rindu - Blognya Andy Hardiyanti

Jalangkote Dompu sebagai Penawar Rindu

jalangkote dompu

Jalangkote Dompu sebagai Penawar Rindu. “Wid, Dae kapan pulang ke Mataram? Kalau naik pesawat, bawakan jalangkote ya”. Begitulah isi pesan WhatsApp saya setiap kali tahu Dae (suami Widha) sedang berada di Dompu. Widha adalah teman sekelas saya saat dulu sempat menganyam pendidikan pada SMP Negeri 2 Dompu. Setelah sekian tahun lamanya kami pun berjumpa kembali di Kota Mataram dalam keadaan sudah berkeluarga. Saya dan Widha cukup sering berkomunikasi, tidak jarang pula kami saling berkunjung ke rumah masing-masing. Suatu hari saat ke rumahnya, Widha menyuguhkan sepiring penganan yang katanya merupakan cemilan khas Dompu. “Jalangkote Khas Dompu? Gimana ceritanya? Jelas-jelas ini makanan khas Makassar”, saya membatin.

“Khas Dompu, Wid? Apa namanya tadi”, saya membuka pembicaraan.
“Iya, Tut. Namanya Jalangkote, ini makanan khas Bima Dompu. Kamu yang orang Dompu masak ndak tahu?”, Widha balik bertanya.

Pertanyaannya tadi sepertinya tidak butuh jawaban. Tapi jujur saja, saya baru tahu kalau di Bima dan Dompu ada makanan khas bernama Jalangkote. Ini tidak sedang klaim-klaiman lagu daerah macam yang dilakukan Indonesia dan Malaysia, kan? Lagi-lagi saya bertanya dalam hati. Masih dengan rasa penasaran, setibanya di rumah saya mencoba membahas hal tersebut dengan kakak saya. Menurutnya, ya bisa jadi dikatakan makanan khas Bima Dompu juga mengingat banyak masyarakat sana yang pernah tinggal di Makassar. Jadi resepnya dicoba di sana dan lambat laun banyak yang menjajakan dan menyantapnya.

Baca Juga: Oleh oleh dari Makassar

Tidak sampai di situ, pada suatu waktu saya sedang membaca timeline facebook dan melihat status teman. Pada postingan statusnya tersebut ia menyatakan kangen makan jalangkote. Dimana menurutnya cemilan itu tidak ada di Mataram dan ia harus pulang ke Bima atau Dompu jika ingin menyantapnya. Duh, ku bingung. Dalam hati pengen komen: coba ke Makassar deh mas, ke Jalan Lasinrang, banyak penjual jalangkote di sana. Tapi saya urungkan, karena jarak Mataram-Bima/Dompu tentu lebih dekat dibanding Mataram-Makassar. Ya, setidaknya kalau pulang ke Bima/Dompu masnya kan sekalian pulang kampung. Eh malah lari ke mana-mana ceritanya.

Jalangkote Dompu sebagai Penawar Rindu

Lucunya, seiring berjalannya waktu saya pun tidak lagi mempersoalkan dari mana jalangkote berasal. Hal terpenting adalah saya bisa menikmatinya tanpa harus tunggu ada yang datang dari Makassar. Setiap kali Dae datang dari Dompu, setiap itu pula Widha dengan senang hati mengundang saya ke rumahnya. Entah berapa banyak jalangkote yang bisa kami habiskan dalam sekali duduk bersama. Rasanya nikmat sekali, meski ketika disajikan kondisinya sudah tidak lagi hangat. Wajar saja, sebab penganan ini harus menempuh perjalanan dari Dompu menuju bandara di Bima. Kemudian diterbangkan ke Bandara Internasional Lombok di Lombok Tengah dan menempuh perjalanan darat sekitar 1 jam untuk sampai di Mataram. Kehangatannya habis di jalan. Wkwkwk.

Baca Juga: Sehari Penuh Inspirasi Bersama UKM Kuliner Binaan LPB Mataram

Jangan bayangkan jalangkote yang saya makan itu serupa jalangkote di Jalan Lasinrang. Tentu saja tidak, dari segi harga dan rupa sama sekali tak sama. Jalangkote Dompu sebagai penawar rindu. Ah, setidaknya saya bisa merasakan kulit jalangkote yang benar-benar jalangkote. Bukan yang setengah mirip ke pastel, setengahnya lagi mirip panada. Nah lho, bingung kan? Soalnya saya sering dapat yang begitu di Mataram. Kesan pertama saya saat melihat wujud penganan yang dibawa oleh Dae dari Dompu ini adalah jalkot kampus banget! Buat teman-teman mahasiswa di Makassar pasti sering kan berjumpa penjual jalangkote (biasa disingkat jalkot) yang masuk kampus?

Jalangkote Dompu, Apa Saja Isiannya?

Tampilannya sederhana, ukurannya biasanya lebih kecil dari yang dijual di Lasinrang, demikian pula isinya yang tidak begitu lengkap. Tapi jangan salah, kenikmatannya luar biasa dan cukup untuk mengganjal rasa lapar. Apalagi jika dimakan selagi hangat. Oh ya, tidak lupa ditambah siraman lombok cair yang biasa ditempatkan dalam botol air mineral ukuran 600ml. Nah, seperti itulah wujud jalangkote yang saya makan di rumah Widha! Bahkan versi Dompu ini lebih sederhana lagi, kadang komposisi isiannya didominasi oleh tauge. Kadang pula malah seluruhnya berisikan full tauge. Meski demikian, entah karena lebih fokus pada kulit dan lombok cairnya, saya tetap saja menikmati sajian jalangkote dari Dompu ini.

Ya iyalah, sudah gak bisa bikin sendiri dan dapatnya gratisan dari teman, masak iya banyak protesnya? Wkwkwkwk. Btw, terima kasih untuk Widha dan keluarga yang tidak pernah lupa bawa jalangkote setiap pulang dari Dompu. Semoga besok-besok kita bisa bikin sendiri versi isian komplitnya terus jual deh di Mataram. Eh gimana?

Biasa dipanggil Andy. Pernah tinggal lama di Makassar dan sekarang di Mataram, Lombok. Ngeblog sejak 2007. Senang kulineran, staycation, kopdaran di cafe, browsing produk di toko online tapi gak beli, dan tentu saja...senang menulis :) Bisa dikontak di andyhardiyanti@gmail.com

15 Comments

  • diyahifada 17 March 2019 at 12:40 am

    penuntas lapar

    Reply
  • alris 17 March 2019 at 12:59 pm

    Mungkin lebih nikmat kalau dimakan habis dimasak. Yummy pasti.

    Reply
  • Muhammad Iqbal 17 March 2019 at 8:24 pm

    Di Bima penjual jalankote keliling sambil triak2 mnawarkan dagangannya

    Reply
  • Abadi 18 March 2019 at 10:04 pm

    Mantap…. abadi nanti klo ke mataram jadi pengen bawain jalangkote hehe…πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    Reply
  • Ratna 19 March 2019 at 9:12 pm

    Saya pernah tinggal di Makasar. Setahu saya di sana juga ada cemilan dengan nama jalangkote. Apakah sama?

    Reply
  • Himawan Sant 23 March 2019 at 10:59 am

    Dirimu berhasil membuat aku penasaran bangeeeet kayak gimana enaknya rasa penganan khas Dompu, Jalangkote ini, kak …
    Lihat tampilan penganannya saja aku baru kali ini hahaha

    Reply
  • alfian hoki 28 March 2019 at 12:04 pm

    nyam.. nyam…. selalu sukses lapar kalo andy udah bahas makanan πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

    Reply
  • Okti Li 4 April 2019 at 10:44 pm

    Isi toge? Kalau di Sunda yang diisi toge mah tahu, jadi namanya gehu hehehe
    Sejenis jalkot di sini mirip pastel. Isinya kentang dan wortel. Ah yang penting enak dimakan saja ya
    Hahaha

    Reply
  • Afifah Mazaya 10 April 2019 at 5:40 am

    Mau asalnya dari mana pun, yang penting enak aku sih. Hihi. Sekilas mirip pastel, ya. Tapi isi dan cara makannya pun beda.

    Reply
  • Keke Naima 11 April 2019 at 12:08 am

    Mirip pastel, tetapi kalau di sini biasanya isiannya tumis wortel dan kentang. Jadi pengen makan pastel. Tetapi, jalangkote juga bikin penasaran

    Reply
  • Maria Soraya 11 April 2019 at 6:56 pm

    Pernah ngerasain jalangkote bikinan tetanggaku, aku gak cukup sekali nyolek sambal, pokoknya setiap mau gigit jalangkotenya kudu colek sambal. Nikmat!

    Reply
  • Damar Aisyah 11 April 2019 at 8:38 pm

    Aku sering denger jalangkote ini, tapi ya belum pernah ngicipi. Tapi kayaknya bakalan suka. Apalagi kalau dicelap-celup sambalnya, yummy.. Gurih-gurih pedes gitu kayaknya

    Reply
  • Taumy Alif Firman 13 April 2019 at 6:32 am

    Namanya sama ya untuk daerah Sulsel. Atau Jangan2, Jalangkote ini dibawa perantau Bugis ke Dompu.

    Reply
  • Ida 14 April 2019 at 5:04 am

    Baru tau makanan khasnya ini ..punya adik ipar keluarga besarnya orang dompu ga pernah cerita soal ini..

    Reply
  • Siti nurjanah 17 April 2019 at 11:58 pm

    Sebelumnya sering banget denger kudapan jalangkote ini, tapi belum berkesempatan untuk bisa ikut mencicipi

    Reply

Leave a Comment