Pekan Literasi Digital di Mandalika, Agar Netizen Lebih Bijak dan Beretika

pekan literasi digital

Kominfo menggelar kegiatan Pekan Literasi Digital di Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah, NTB. Bagaimana keseruannya? Materi apa saja yang disampaikan oleh setiap narasumber yang hadir pada kegiatan yang bertempat di Novotel Lombok Resort and Villas ini?

Senang sekali rasanya, saya bisa berkesempatan menjadi salah satu dari 65 peserta yang hadir secara offline. Ya, kegiatan yang menjadi rangkaian menuju Literasi Digital Netizen Fair 2021 ini memang diselenggarakan secara hybrid. Peserta bisa mengikuti secara offline maupun online kegiatan yang berlangsung pada Selasa-Rabu, 12-13 Oktober 2021 tersebut.

Kita pasti sudah tidak asing dengan dua kata yang belakangan ini hangat diperbincangkan: literasi dan digital. Namun apakah kita pernah bertanya, untuk apa selalu membahas hal tersebut? mengapa gencar digaungkan? kenapa segala urusan di internet dan media sosial berkaitan dengan istilah itu? apa tujuan kita memahami dan mengajarkan yang namanya literasi digital pada orang lain? Meski sudah memahaminya, namun rasanya gelas kosong yang saya bawa langsung terisi penuh kembali seusai mengikuti sejumlah materi pada event ini.

pekan literasi digital

Ngobrolin Literasi Digital

Event yang digelar oleh Kominfo bekerja sama dengan Siberkreasi dan sejumlah pendukung acara lainnya ini berlangsung selama dua hari. Hari pertama sendiri, dibagi lagi menjadi dua sesi. Konsep acara yang dihadiri oleh 65 peserta tersebut, lebih kepada pemaparan. Dimana setiap narasumber menyampaikan materi, baru kemudian para peserta (baik offline maupun online) diberikan kesempatan untuk bertanya.

Pada sesi pertama, tentu saja dua kata populer ini yang menjadi topik pembahasannya. Hadir sebagai narasumber, yaitu: Doni Budi Utoyo, selaku Tenaga Ahli Kemenkominfo; Iwan Setyawan yang merupakan CEO Provetic; dan Nurliya NR selaku JaWAra Internet Sehat NTB. Bertindak sebagai MC sekaligus moderator pada talkshow sesi pertama yakni Sinta Sukmadewi.

pekan literasi digital

Apa itu Literasi Digital?

Dalam pemaparannya, Bapak Doni Budi Utoyo membahas terkait empat pilar dalam Literasi Digital, yang terdiri dari: etika, budaya, keterampilan, dan keamanan. Dimana dengan memahami empat pilar itu, maka kita bisa lebih bijak dalam berinternet dan bermedia sosial. Internet kini sangat mudah diakses, jangan sampai kemudahan tersebut justru menjadi sebuah kotak pandora. Bukannya dimanfaatkan dengan menciptakan konten yang baik, namun malah menyebarkan hoax.

Tenaga Ahli Kemenkominfo yang juga berasal dari ICT Watch tersebut menjelaskan secara singkat, apa sih Literasi Digital itu? Baginya, dua kata tadi adalah tentang apakah kita sudah terampil menggunakan gadget dan akses internet dengan baik. Apakah kita sudah bisa memastikan apa yang digunakan tersebut aman? Bagaimana dengan konten yang diposting? Jika disimpulkan, ini adalah tentang bagaimana kita memakai alat (internet, gadget) untuk meninggikan Indonesia. Rumusnya yaitu: terampil-aman-beretika-berbudaya.

pekan literasi digital

Bedanya Pengguna Internet di Desa Terluar dan Daerah Kota

Nurliya NR selaku JaWAra Internet Sehat di NTB memaparkan penemuannya melalui program-program yang telah dilaksanakan, bahwa betapa pengguna internet di desa dan kota sangatlah berbeda. Meski internet sudah menjangkau area yang lebih luas, bahkan di desa terluar yang ada di NTB, namun tidak demikian halnya dengan jangkauan literasi digital.

“Di sana, di desa terluar, masyarakat sangat mudah mengalami phising. Karena mereka menganggap, semua sms atau pesan WA yang diterima pasti dari sumber terpercaya”, ungkap perempuan yang juga adalah seorang dosen ini. Mudahnya masyarakat daerah desa terluar tersebut percaya akan hoax, adalah awal dari segala pencurian data pribadi mereka. Itulah yang menjadi tugas dan kerja bersama dari seluruh pihak, untuk senantiasa memberikan pemahaman terkait literasi digital pada siapa saja. Termasuk mereka yang ada di desa terluar tadi.

pekan literasi digital

Digital itu Masa Depan!

Lebih lanjut, CEO Provetic, Mas Iwan Setyawan dengan semangatnya mengajak para peserta untuk benar-benar memanfaatkan sebaik mungkin teknologi yang ada. “Jangan sampai teknologi digital menguasai kita, kitalah yang harus menguasai teknologi”, jelas pria yang juga penulis buku berjudul 9 Summers 10 Autumns tersebut. Menurutnya, digital adalah masa depan. Oleh karena itu buatlah hidup kita semua maju dengan adanya teknologi.

Don’t be avarage. Avarage is boring! -Iwan Setyawan, penulis buku 9 Summers 10 Autumns

Dalam memanfaatkan internet dan media sosial, seseorang haru memiliki personality, bahasa, dan tonenya sendiri. Pahami fitur-fitur yang ada, manfaatkan teknologi ini sebagai problem solving. Teruslah berkreasi dan berinovasi, serta yang terpenting jangan hanya bermanfaat untuk diri sendiri melainkan juga orang lain.

pekan literasi digital

Gali Ilmu UMKM: Hujan Cuan di Era Digital

Pada sesi kedua di hari pertama, para peserta diajak untuk memanfaatkan peluang untuk bisa “cuan” di era digital. Hadir sebagai narasumber, yaitu Mas Ricky Hartono Putra yang merupakan CEO NTB Mall. Serta dua orang perwakilan dari Gojek, yakni Raden Bagus Faizal Irhany Sidharta (Regional Operations Gojek) dan Rahmat Hidayat selaku Account Manager Gojek.

Ketiga narasumber secara umum menyampaikan bagaiman era digital mampu melipatgandakan penghasilan jika dapat dimanfaatkan dengan baik. Mengapa? Karena ada hal-hal tertentu yang hanya bisa didapatkan ketika kita melakukan usaha secara digital, bukan konvensional. Salah satunya yaitu perilaku atau karakteristik konsumen. Dengan menjalankan usaha digital, kita pun dapat menjangkau lebih banyak konsumen. Usaha digital jauh lebih praktis mengingat tidak perlu dibuatnya bangunan fisik, bahkan kita bisa memulainya tanpa memiliki produk sendiri.

Hari Kedua Pekan Literasi Digital di Mandalika

Berbeda dengan hari pertama, di hari kedua, berlangsung dua kelas secara bersamaan. Oleh karena itu kesempatan untuk menjadi peserta tentu lebih besar. Mengingat baik kelas fotografi maupun public speaking, masing-masing diikuti oleh 65 peserta offline. Namun, berdasarkan info dari penyelenggara, khusus event gali ilmu fotografi, tidak diselenggarakan secara hybrid, hanya untuk peserta yang hadir.

Saya pribadi sejak awal sudah memilih menjadi peserta gali ilmu fotografi. Kelas yang diisi oleh seorang aktor sekaligus aktivis yang dikenal memiliki kemampuan memotret yang luar biasa tersebut bertempat di venue yang berbeda. Memanfaatkan ruang terbuka yang menghadap langsung ke Pantai Mandalika, membuat suasana acara jadi lebih santai dan menyenangkan. Hadir sebagai narasumber, yaitu aktor sekaligus aktivis yang saya sebutkan tadi, tidak lain adalah Nicholas Saputra. Serta seorang fotografer sekaligus guide dari Lombok, yaitu Arman Ardiansyah.

Bersyukur sekali memilih kelas gali ilmu fotografi ini. Mengapa? Karena berarti saya tetap bisa mengikuti kelas public speaking yang tayangannya masih bisa disaksikan di kanal Youtube Siberkreasi. Meski tidak semaksimal jika hadir langsung, saya tetap bisa mengikuti kedua materi hari tersebut. Narasumber pada kelas public speaking, diisi oleh dua orang presenter televisi yang tak asing lagi, yakni: Indra Herlambang dan Nadia Mulya. Tayangan ini bisa disaksikan pada link berikut: gali ilmu public speaking.

Foto yang Baik adalah yang Bercerita

Kelas atau sesi talkshow gali ilmu fotografi yang dimoderatori oleh Iwan Setyawan berlangsung menyenangkan. Para peserta sangat antusias atas setiap materi yang dipaparkan oleh narasumber. Vibes peserta yang fokus mendengar materi kian terasa saat Nicholas Saputra meminta mereka untuk menyimpan semua smartphone dan kamera yang dipegang, agar dapat eye to eye dengannya.

Bagi Nicho, ada sebuah rumus penting dalam mengambil sebuah gambar. Rumus tersebut adalah pahami-sensitif-alami-baru kemudian difoto. Kesalahan setiap orang selama ini yakni ketika tiba di suatu tempat, ia langsung memotret-memotret apa yang dilihatnya. Padahal, foto yang baik adalah foto yang bercerita. Tidak perlu kita menuliskan kata-kata, orang yang melihat foto itu akan membayangkan sendiri nantinya.

Hal tersebut baru bisa tercapai ketika kita mengalami momen itu dulu, nikmati, pahami, dan rasakan. Barulah kemudian difoto. Ya, agar bisa lebih sensitif, maka kita harus powerful. Bagaimana memulainya, mulailah dengan merasakannya.

Sebuah foto sudah seharusnya memiliki lebih dari satu narasi. Dimana terdiri dari narasi terkait objek utamanya, serta konteks lain di luar objek utama. Buatlah sebuah foto itu lebih hidup dengan menghadirkan untold story. Atau cerita yang tidak ada di dalam foto, tapi membuat siapa saja yang melihatnya dapat berimajinasi.

Jangan lupa juga untuk memahami etika dalam memotret. Bahwa ketika kita memotret seseorang, izinlah terlebih dahulu. Dan pastikan bahwa orang yang difoto memang bersedia untuk difoto.

Pahami Hal Teknis Sederhana dari Fotografi

Narasumber kedua, Arman, membawakan materi lebih kepada hal-hal teknis dalam fotografi. Seperti apa itu rule of third, komposisi, dan lainnya. Termasuk unsur dari rule of third yakni balok, garis, dan titik. Fotografer sekaligus guide asal Lombok ini juga menceritakan pengalamannya dalam menjalankan hobi sekaligus pekerjaan tersebut. Betapa belakangan ini ia melihat peluang untuk menjalankan usaha underwater photography, yang rupanya belum banyak hadir di Lombok.

Usai pemaparan materi, para peserta diberikan waktu untuk menerapkan teori yang sudah diajarkan sekaligus mengikuti lomba foto. Tersedia hadiah untuk tiga orang pemenang, yakni smartphone, smartwatch, dan earphone. Hingga tak terasa tiba pukul 15.00, acara pun berakhir dengan prosesi penjurian sekaligus penyerahan hadiah kepada para pemenang.

Terima kasih Kominfo dan Siberkreasi, sudah berkunjung ke Lombok. Ditunggu acara-acara selanjutnya 🙂

Biasa dipanggil Andy. Pernah tinggal lama di Makassar dan sekarang di Mataram, Lombok. Ngeblog sejak 2007. Senang kulineran, staycation, kopdaran di cafe, browsing produk di toko online tapi gak beli, dan tentu saja...senang menulis :) Bisa dikontak di andyhardiyanti@gmail.com

No Comments

Leave a Comment