Pengalaman Libur Lebaran dari Tahun ke Tahun

Pengalaman Libur Lebaran dari Tahun ke Tahun. Ketika diminta menulis cerita pengalaman libur lebaran, maka apa yang kira-kira akan teman-teman tuliskan? Postingan blog kali ini adalah jawaban dari pertanyaan tersebut. Membahas libur lebaran berarti membuat ingatan ini memulai perjalanan panjangnya di tahun-tahun yang lalu. Bagaimana seorang anak perempuan kecil menjadi pelaku utama habisnya kue kering di rumah. Terutama kue keju- yang akrab disebut kastengel. Kue keju buatan mamanya yang baginya juara satu, tak tertandingi komposisi keju di dalamnya. Keping demi keping kue yang selalu ia temukan, bahkan meski sudah disembunyikan sedemikian rupa. Kue keju yang tahun-tahun setelahnya, hanya bisa dibayangkan rasa gurihnya.

Entah ini sebuah keberuntungan atau memang saya sudah ditakdirkan untuk merayakan hari lebaran dengan berbagai situasi, berbagai cara. Sibuk membuat kue kering, memasak ketupat, opor ayam dan lauk lainnya, dilanjutkan keliling ke sanak saudara, kerabat, dari satu rumah ke rumah lainnya. Melaksanakan shalat Idul Fitri yang penuh retakan sana sini, pun salah satu menaranya nyaris roboh. Lebaran dengan menghabiskan waktu untuk istirahat di rumah. Ah ya, lebaran dengan santapan capcay, sambal goreng ati kentang, dan menu puding sebagai penutupnya. Kalian pernah, tidak? Ya, hidup memang seunik itu.

Pengalaman Libur Lebaran dari Tahun ke Tahun

Tentu saya tidak bisa ingat persis tahun kejadiannya, yang benar-benar saya ingat adalah ada banyak cerita libur lebaran yang saya alami. Andai di masa itu saya sudah dibekali smartphone dengan kualitas kamera yang mumpuni, ah mungkin saya sudah punya banyak sekali cerita yang tak hanya dibayangkan, tapi juga ada bukti visual. Begitulah, betapa eratnya hubungan antara lebaran, liburan, dan kenangan. Lebaran menjadikan hampir semua orang menikmati waktu libur, yang semoga apa saja yang dilakukan di waktu yang singkat itu bisa jadi kenangan yang indah.

Drama Ditinggal Kapal, Batal Rayakan Lebaran Bersama

Saya sudah pernah menceritakannya pada sebuah di tulisan di blog ini, berjudul piknik di kapal yang gagal. Nyatanya itu tak sekadar piknik, melainkan rencana merayakan hari lebaran bersama keluarga. Komplit. Bapak, Mama, dan Empat orang anak perempuannya. Mengingat saya bersaudara sedang mengenyam pendidikan di Makassar di tahun-tahun tersebut, Mama adalah seorang IRT, dan Bapak bertugas di Kupang. Waktu itu, ingin sekali bisa lebaran bersama di Kupang. Berlayar dengan Mama dan kakak-kakak, ah sudah terbayang, sampai ketika nanti tiba di Kupang, shalat ied dilanjutkan makan bersama.

Akhirnya, rencana tinggal rencana. Dua orang kakak tertua saya ditinggal kapal karena telat beberapa menit di pelabuhan. Kalau tidak salah, dia pas banget ada ujian saat itu. Dan, berlayarlah saya, Kak Diyah, dan Mama. Memang sih pada akhirnya mereka pun menyusul dengan kapal yang berbeda, kami tetap berkumpul di Kupang. Tapi, ya mereka lebarannya di kapal, kami di rumah. Hahaha. Sekarang sih ceritanya sambil tertawa, pas hari kejadian, ya nangislah.

Menikmati Kota Kupang dari Hotel Sasando

Seperti yang saya katakan, ketika bertugas, karena kesibukan kakak-kakak yang kuliah, jarang sekali kami berkumpul. Biasanya ya, tim adek-adek ini yang lebaran bersama Bapak dan Mama. Nah, pernah nih di suatu tahun, Bapak memang lagi sibuk-sibuknya sama tugas kantor, Mama pun sepertinya lagi kurang fit. Tahu tidak? Usai shalat ied, kami pun bergegas menuju Hotel Sasando Kupang, membawa pakaian dan beberapa camilan. Hahaha. Ke sana benar-benar untuk istirahat, saya dan kakak sih menyempatkan waktu untuk berenang. Namanya juga anak-anak. Tapi ya kalau dipikir-pikir, memang ada kalanya kita merayakan hari kemenangan dengan cara yang berbeda. Tentang memahami sinyal tubuh saja, kalau kelelahan, ya istirahat.

Masak Aneka Lauk, Membuat Aneka Kue Kering

Rasanya ini memang perayaan lebaran pada umumnya ya? Masak-masak, makan-makan, silaturahmi. Pulang, tepar. Dengan cucian peralatan makan dan masak yang menggunung. Ini nulis doang sih, waktu itu gak ikutan bagian mencucinya #eh. Ketupat, opor ayam, rendang, kue keju, kue cokelat kenari, nastar, dan lainnya, ah…menuliskannya saja sudah terbayang kelezatannya.

Lebaran di Makassar, Momen Makan Tiada Habisnya

Dari sekian cerita libur lebaran, saya tidak bisa lupa bagaimana vibes lebaran di kota Makassar. Berkunjung ke rumah keluarga, kerabat, tetangga, yang mana konsep jamuannya nyaris sama. Baru tiba, langsung diajak santap ketupat dan opor ayam, oh ya banyak yang menyajikan coto, bakso, dan aneka lauk lainnya. Nanti part menu yang lebih ringan, lain lagi, ada bakso dan pelengkapnya. Kenyang makan berat, plus tambahan bakso, dilanjut lagi duduk di ruang tamu, menyantap camilan ditemani minuman kopi, teh, maupun soft drink. Satu rumah saja, kenyangnya luar biasa. Dan jangan cari gara-gara ya, untuk menolak. Hahaha. Pemilik rumah bisa-bisa tersinggung nanti.

Santapan Capcay, Sambal Goreng Ati Kentang, dan Puding

Apa itu lebaran dengan ketupat dan opor ayam? Ah, sudah biasa! Jadi pada suatu tahun, lagi-lagi saya lupa tahun berapa. Saya tinggal bersama suami, dan anak sulung saya, plus Kak Diyah- kakak saya. Sepertinya saat itu Mama sedang berada di kota lain, bersama saudara saya lainnya. Besok sudah lebaran, bingunglah kami mau makan apa. Selain karena kemampuan masak terbatas wkwkwk, pun karena kok gak mau juga ya makan yang berat-berat. Pengennya makan nasi dan lauk seperti biasa saja, tapi lauknya yang tidak biasa. Eh gimana sih ini?

Jadilah oleh Kak Diyah, kami dimasakkan dua lauk tadi, plus kudapannya. Saya ingat bagaimana sore hari, di hari terakhir ramadan, kami bertiga (saya, suami, dan si sulung) pergi berbelanja bahan di Pasar Kebon Roek, yang sudah mulai sunyi itu. Ya jelas sunyi! Yang lain sudah tinggal menyajikan menu, kami malah baru mau belanja. Hahaah

Lebaran, Liburan, dan Kenangan

Saya pikir, banyak hal yang bisa diceritakan. Nyatanya, sekadar mengingat tahun detail kejadiannya saja saya tak mampu. Tapi perjalanan mengingat momen libur lebaran itu sungguh membuat saya belajar, bahwa betapa penting menikmati waktu yang ada sebaik mungkin. Mengisi kenangan indah bersama orang-0rang terkasih. Memanfaatkan kesempatan yang diberikan dengan sebaik-baiknya, sebelum semuanya tinggal kenangan. Baik aktivitas, maupun orang-orang yang hadir di dalamnya.

Biasa dipanggil Andy. Pernah tinggal lama di Makassar dan sekarang di Mataram, Lombok. Ngeblog sejak 2007. Senang kulineran, staycation, kopdaran di cafe, browsing produk di toko online tapi gak beli, dan tentu saja...senang menulis :) Bisa dikontak di andyhardiyanti@gmail.com

1 Comment

  • Fanny_dcatqueen 25 March 2024 at 11:13 am

    Setujuuuu mba Andy, momen2 seperti lebaran ini yg terkadang bikin aku kangeeeen banget dengan keluarga, pengen mudik dll. Tapi memang krn aku dan ortu juga adik2 tinggalnya pisah pulau, ga bisa sering2 utk pulang.. Tiketnya mahaaal, apalagi harus beli 4 orang.

    Inget2 memori dulu, waktu masih sama2 tinggal serumah , bikin seneng banget. Inget pas waktu open house di rumah bos nya papa yg paling tinggi, bisa ketemuan dengan teman2 di sana. Trus icip2 kue lebaran di rumah tetangga. Paling suka kalo ke rumah tetangga yg orang palembang, krn pasti nyediain pempek dan tekwan. Walopun pada akhirnya masakan lontong mama yg paling enak dan paling dicari

    Reply

Leave a Comment