Menyantap Lontong Kikil Mas Samsul Surabaya di Lombok

lontong kikil surabaya

Kalau ngomongin kuliner, apakah teman-teman tipikal yang ingin menyantap langsung dari daerah asalnya atau tak masalah jika sebaliknya? Saya jadi teringat ketika diajak oleh Mbak Liya, sahabat saya yang berasal dari Jawa Timur, untuk menyantap salah satu kuliner daerahnya yang tersedia di Lombok. Bukan Mbak Liya pula namanya kalau tidak tiba-tiba tanpa rencana. Sore itu, entah Senin atau Kamis, hari di mana ia terbiasa menjalankan puasa sunnah, diajaklah saya dan seorang teman lagi untuk menemaninya berbuka puasa.

Ajakan dengan agenda utama ngopi di Maktal Coffee Bar itu tentu saja saya iyakan, baru kemudian agenda penyertanya menyusul ia sampaikan: “sebelum ngopi, temenin berbuka puasa dulu ya, kita makan di warung Lontong Kikil Mas Samsul Surabaya, oke?”. Ya tentu okelah, namanya juga ditraktir. Hahaha.

warung lontong kikil mas samsul

Menikmati Kuliner Khas Jawa Timur di Nusa Tenggara Barat

Untuk saya yang tipikal malas mencoba hal baru, ini agak challenging sih. Makan kuliner khas Jawa Timur, tepatnya Surabaya, tapi di Lombok NTB? Hmm. Semoga rasanya masuk, ya. Selain ajakan traktiran yang menggiurkan, tentu ada hal lain yang membuat saya tidak begitu ragu untuk mencoba kuliner baru yang satu ini. Pertama, saya sudah pernah mencoba lauk kikil beberapa kali saat makan di rumah makan Padang. Kedua, kalau dilihat sepintas, menu lontong kikil terbilang cukup umum. Iya, kalau dilihat sepintas…semoga demikian pula dengan rasanya.

Seporsi Lontong Kikil Hangat untuk Melegakan Tenggorokan

Setelah beres dengan urusan di rumah, Mbak Liya datang menjemput saya. Seingat saya, saat itu sudah sore sekali. Buru-buru kami berboncengan (dengan komposisi yang kalian bisa tebak: tentu saja saya yang dibonceng) menuju lokasi warung Lontong Kikil Mas Samsul Surabaya yang terletak di Jalan Subak II, Cilinaya, Kota Mataram (tepat di belakang Apollo Fashion). Warungnya cukup luas, tempatnya sederhana khas warung-warung semi pinggir jalan. Saya memesan seporsi menu Kikil 1/2 Tunjang. Entah seperti apalah itu tampilannya nanti. Pesan saya pada pelayannya: tolong pilihkan yang gampang/mudah terlepas ya. Hahahah. Sungguh saya enggan effort lebih memegang tulangnya.

kikil 1/2 tunjang

Kikil 1/2 Tunjang, Semangkuk Lontong, dan Jeruk Panas

Setelah menunggu sebentar, pesanan kami disajikan di atas meja. Seporsi kikil 1/2 tunjang, lengkap dengan lontong di mangkuk terpisah, serta jeruk panas sebagai minumannya. Sebelum menyantap, hal yang saya notice adalah keberadaan irisan jeruk nipis. Wahh, langka sekali melihat objek ini. ((((objek))))) Soalnya di Lombok, saya hanya menemukannya tersaji di warung Coto Makassar, di luar itu, jarang sekali- bahkan tidak pernah. Adanya justru sebotol cuka yang mungkin dianggap bisa menggantikan si hijau tersebut.

Oke, lanjut. Lontong kikil benar-benar disajikan dalam keadaan panas, bukan hangat. Saya bisa melihat uap panas keluar dari mangkuknya. Potongan kikil yang terendam dalam kuah bening coklat ada jingganya, dengan topping daun bawang dan bawang goreng, kompak membuat aroma lezat menyeruak dari mangkuk panas itu. Ah, rasanya tak sabar ingin menyeruput kuahnya terlebih dahulu!

Porsi Besar untuk Disantap Sendiri

Untung saja saya tidak menaruh ekspektasi berlebih pada kuliner ini, karena ternyata rasanya melebihi ekspektasi saya! Untuk ukuran kuliner daerah lain, rasanya cocok di lidah saya. Hangat sekali rasanya ketika menyentuh tenggorokan. Kalau sedang tidak enak badan, rasanya masakan ini bisa jadi pilihan deh. Selain sebagai sumber protein, pun mengandung kolagen, rasa panas kuahnya berpadu dengan racikan bumbunya, pas sekali untuk melegakan tenggorokan.

Potongan kikilnya pun empuk, mudah dikunyah, dan tidak cepat berlemak. Meski memang sebaiknya segera disantap agar tidak meninggalkan sensasi lengket di sekitar bibir dan mulut. Sedikit catatan, kalau datang bersama anak dan anaknya tidak bisa rasa pedas sama sekali, sepertinya gak cocok deh sama Lontong Kikil Mas Samsul Surabaya ini. Soalnya tanpa dikasih sambal tambahan pun, memang sudah ada hint pedasnya.

Itu tadi soal rasa, nah untuk besar porsinya sih menurut saya rasanya terlalu banyak untuk saya santap sendiri. Bisa dipertimbangkan untuk memesan seporsi kikil dengan dua porsi lontong terpisah. Jadi kikilnya sharing gitu. Tapi kalau teman-teman rasa bisa menghabiskan sebesar itu, ya tak mengapa. Saya kemarin kekenyangan sih makan seporsi sendiri.

daftar menu

Harga Lontong Kikil Mas Samsul Surabaya

Selain menu kikil 1/2 tunjang, tersedia aneka menu utama dan pelengkap lainnya, diantaranya: lontong kikil, kikil 1/2 tunjang plus otot, kikil jumbo utuh, kikil kepala, kikil otot, dan kikil telinga. Sementara untuk minumannya, pilihannya hanya: es teh, teh panas, es jeruk, jeruk panas, serta air mineral kemasan. Sambil menunggu pesanan disajikan, di sini tersedia pula berbagai jenis kerupuk serta aneka roti isi.

Ngomongin soal harga, rasanya pas lah ya, dengan harga mulai dari 25ribu seporsi sudah bisa menyantap kuliner lontong kikil nan lezat. Kalau mau porsi lebih, ya siap-siap keluarkan rupiah lebih banyak lagi.

suasana warung lontong kikil

Jam Operasional

Untuk jam operasionalnya sendiri, warung ini buka dari pukul 10 pagi hingga 9.30 malam. Cukup pas lah ya kalau mencari kuliner di malam hari, walau jam tutupnya cukup mepet. Adapun di bulan ramadan, jam operasionalnya menyesuaikan dan ada ketentuan sendiri.

Ah, jadi penasaran pengen coba kuliner daerah lain nih, ya meski tidak di daerah aslinya. Teman-teman pernah coba Lontong Kikil Surabaya, belum? Atau ada ide kuliner lainnya untuk saya coba?

andyhardiyanti

Biasa dipanggil Andy. Pernah tinggal lama di Makassar dan sekarang di Mataram, Lombok. Ngeblog sejak 2007. Senang kulineran, staycation, kopdaran di cafe, browsing produk di toko online tapi gak beli, dan tentu saja...senang menulis :) Bisa dikontak di andyhardiyanti@gmail.com

No Comments

Leave a Comment