Mampir Makan Dini Hari di Jalur Lintas Sumbawa Posted on 6 October 202612 October 2026 By andyhardiyanti Tidak perlu khawatir lapar saat perjalanan darat di jalur Lintas Sumbawa. Kalau dilihat pada google maps, ada banyak warung/rumah makan di sepanjang jalan tersebut. Tinggal pilih yang sesuai selera. Masalahnya adalah, saat menempuh perjalanan dari Pelabuhan Poto Tano menuju Kabupaten Dompu, di pertengahannya, apakah masih ada warung yang buka hingga dini hari? Pengalaman ini terjadi beberapa bulan yang lalu. Ketika mendadak, saya dan kakak-kakak harus pergi melayat ke Kabupaten Dompu. Namanya juga mendadak, membawa seorang bayi dan toddler pula. Jadilah perjalan tersebut dar der dor. Jelas tanpa rencana, dari sisi waktu pula banyak penyesuaiannya. Intinya, kapal kami sandar sudah tengah malam, eh atau malah dini hari ya? Mampir Makan Di Mana ya? Saya pribadi terakhir kali ke Dompu pada akhir tahun 2018. Sudah lama sekali, saya sampai lupa bahwa setelah kapal sandar di Pelabuhan Poto Tano, kami akan menempuh perjalanan sekitar 6 jam untuk tiba di Kabupaten Dompu. Iya, nyebrangnya (dari Pelabuhan Kayangan Lombok Timur ke Poto Kabupaten Sumbawa Barat) 1-2 jam saja, perjalanan daratnya yang panjang, huaaaa. Begitu keluar dari kapal, kami langsung saling bertanya: makan di mana ya? Dengan pertimbangan tidak ingin kelamaan di momen makan, jadi kami putuskan untuk tidak mampir di warung makan yang dekat dari pelabuhan. Biar nanti saja, cari yang di tengah-tengah. Supaya beres makan, gak terlalu jauh perjalanan yang ditempuh ke tujuan. Terlebih lagi, kami sudah tahu akan ke mana, yakni Rumah Makan Asri Barokah. Kami sudah pernah ke sini beberapa kali saat perjalanan dengan travel. Makanannya enak, tempatnya luas, ada toilet. Sip deh pokoknya. Bingung Mencari Tempat Makan pada Dini Hari Sayangnya rencana tinggal rencana. Berjam-jam perjalanan dilalui, menahan lapar pula, dan sangat excited untuk menyantap nasi ayam dan ikan lalapan di warung yang dituju, berakhir dengan sedikit kecewa. Tapi ada juga ha ha ha nya. Bagaimana tidak, sesampainya di lokasi, suasana warung/rumah makan gelap. Tidak ada bus maupun travel sama sekali. Saya turun untuk memeriksa kondisi. Hanya ada sekitar 5 orang supir sedang beristirahat, merokok, dan ngobrol. Etalase kaca hanya menunjukkan piring-piring yang sepertinya sebelumnya terisi aneka lauk. Melihat saya kebingungan, seorang laki-laki yang sepertinya dari pihak warung, menginfokan bahwa warung tersebut tutup. Bagaimana tidak kecewa, sebelumnya kami sudah memeriksa informasi yang ada pada google maps, bahwa Rumah Makan Asri Barokah yang beralamat di Jalan Lintas Sumbawa – Bima, Muer, Kec. Plampang, Kabupaten Sumbawa, itu buka 24 jam. Seingat kami pula, waktu itu mampir sana dengan travel ya sudah dini hari, buka kok. Ah, sepertinya mereka beroperasi sesuai jadwal mampir travel saja. Ya sudahlah, sembari menahan lapar, kami mencari lokasi warung/rumah makan lainnya pada peta. Masa iya tidak ada? Tapi masalahnya ini daerah sepi, kami sudah lewat jauh dari area kota yang ramai, ditambah lagi ini sudah dini hari. Kalau tidak salah, sekitar jam 1 atau 2. Warung Tanjakan Pak Ismail di Plampang Sumbawa Sebenarnya ada banyak pilihan warung dan rumah makan yang ditampilkan di peta. Mulai dari nasi pecel, nasi goreng, bakso, mie ayam, sampai warung seafood. Jam operasionalnya juga menunjukkan bahwa pada waktu tersebut, masih buka. Sayangnya, informasi di google maps nampaknya banyak yang perlu direvisi. Mengingat informasi jam operasionalnya yang tidak akurat, bahkan 2-3 warung sudah tidak ada (entah pindah atau memang tutup usahanya). Sempat menyerah apakah makan sampai di Dompu saja? Tapi masa iya? Epicnya lagi, perbekalan di mobil sudah habis. Syukurnya, saya sampai pada satu titik: Warung Tanjakan Pak Ismail di Plampang, Sumbawa. Sepertinya meyakinkan, ulasannya pun banyak dan bagus. Alhamdulillah. Benar saja, kami sampai di satu daerah tanjakan. Tempat banyak truk berhenti, supir dan kernetnya mampir beristirahat dan makan. Ada sekitar 3-4 warung sederhana di situ, entah mana yang namanya Warung Tanjakan Pak Ismail hahaha. Kami memilih salah satunya, yang terlihat paling luas. Dari Mie Instan, Hingga Ikan Kakap Goreng Sempat khawatir pula warungnya sudah tutup (walau terbuka dan lampunya menyala), soalnya tidak nampak ada yang menjaga. Belakangan kami baru tahu, si ibu dan kedua anaknya sedang beristirahat. Tapi kalau dipanggil, dia langsung sigap melayani kok. Kami menebak yang dijual di sini adalah nasi campur dan mie instan, tapi tebakan kami kurang tepat. Mie instannya benar, yang istimewa adalah sajian utama di sini yaitu ikan goreng atau bakar (bebas pilih) dan sambal. Sayangnya tidak ada sayurnya. Segera kami memesan 2 atau 3 bakul nasi putih, 3 ekor ikan kakap goreng, sambal, telur dadar, serta 3 porsi mie instan. Meski pesanan baru diproses saat kami pesan, waktu tunggunya tidak terlalu lama kok. Mungkin karena kami juga menyibukkan diri dengan mampir pipis, melakukan peregangan (akibat terlalu lama duduk di mobil), bermain bersama anak-anak, sambil duduk istirahat sejenak di bale-bale yang tersedia. Tidak lama kemudian, makanan tiba. Masya Allah, nikmat sekali. Alhamdulillah bisa menyantap makanan selagi hangat, di waktu dini hari, yang tadinya kami pikir bakal menahan rasa lapar sepanjang jalan. Untuk sajian tersebut ditambah minum (saya lupa pasnya kami memesan berapa botol air mineral), total yang dibayarkan adalah sebesar 200ribu (entah pasnya berapa, kakak yang bayar soalnya wkwk, tapi sekitar segitu). – Bagaimana menurut teman-teman? Dengan harga tersebut, worth it gak sih? Terus teman-teman ada yang punya pengalaman serupa atau mungkin ada yang pernah mampir di warung ini juga? Culinary
Culinary Pucuk Coolinary Festival Makassar 2019, Kulineran Asyik di Satu Titik Posted on 4 November 20198 November 2019 Pucuk Coolinary Festival Makassar 2019, Kulineran Asyik di Satu Titik. Setelah 2 tahun tidak menginjakkan kaki di kota Makassar, akhirnya selama dua minggu kemarin saya ada kesempatan ke sana. Saya berangkat dari Lombok hanya berdua dengan si kecil Tita (2 tahun) untuk suatu urusan. Eh siapa sangka, ketika kami datang,… Read More
Culinary Oleh oleh dari Makassar Posted on 24 December 20153 June 2017 Apa yang paling saya rindukan dari kota Makassar? Ya, makanannya. Saya mengecek satu persatu postingan di blog ini yang membahas Makassar sejak saya berpindah ke Mataram, nyaris semuanya diawali dengan petikan kalimat di atas. Pallubasa Serigala, Coto Nusantara, Coto Gagak, Sop Saudara Irian, Mie Titi, hingga Jalangkote dan Lumpia Lasinrang…. Read More
Culinary Kebon Cafe Lombok, Tempat Nongkrong yang Gak Bikin Kantong Bolong Posted on 31 July 201713 November 2019 Kebon Cafe Lombok, Tempat Nongkrong yang Gak Bikin Kantong Bolong. Seperti halnya di daerah lain, di Lombok, tepatnya di kota Mataram nih lagi menjamur yang namanya tempat nongkrong. Tempat nongkrongnya ini juga bervariasi, mulai dari yang harganya terjangkau sampai yang cuma es tehnya yang bisa dijangkau #eh. Mulai dari yang… Read More