Bingung mencari nasi kuning di Lombok yang enak, murah, dan lauknya lengkap? Warung Rezeki Hj. Nung bisa jadi pilihan. Resepnya turun-temurun sejak tahun 1980. Mungkin terdengar lucu, ha? makan nasi kuning di Lombok? Harusnya Sate Rembiga, Ayam Taliwang, atau menu khas lainnya kali ya? Eh jangan salah, sebagai makanan khas Indonesia, wajar saja nasi kuning menjadi salah satu kuliner yang selalu dicari-cari. Tak jarang pula, banyak yang bertanya di mana sih nasi kuning yang recommended di daerah tersebut? Kebetulan nih, dalam sebulan terakhir saya lagi doyan sama warung yang satu ini, siapa tahu sesuai selera teman-teman.
Warung dalam Gang yang Ramai Antrian
Tiba-tiba banget di suatu akhir pekan, pak suami cerita kapan hari sepulang dari memancing, dia melihat warung nasi kuning yang sudah ramai sejak pukul 6 pagi. Lokasinya di dalam gang, tempatnya nyaman. Sayangnya gak sempat mampir katanya waktu itu, karena buru-buru. Demi menuntaskan penasaran, pergilah kami ke sana. Kebetulan juga sudah lama gak makan nasi kuning, lebih spesifik lagi: sudah lama tidak sarapan nasi kuning. Jadi bolehlah yaa, sekali-sekali.
Kami datang dari arah Jalan Yos Sudarso, kemudian ke Jalan Niaga. Lokasi gangnya benar-benar di depan jalan Niaga, tepat di samping SMP Negeri 3 Mataram (SMP Dolar). Meski di dalam gang, warungnya mudah kok ditemukan. Ada gapura bertuliskan “Gang Melur, Lingkungan Melayu Timur”, udah, ikuti saja jalan itu, warungnya berada tepat sudut, antara Jalan Melur dengan Jalan Lumba-lumba. Setibanya kami di sana, benar saja, lagi ramai dengan antrian! Ada yang baru selesai bersepeda, lari, pun yang memang ke sana tanpa sebelumnya berolahraga (eh ini saya).
Suasana Warung yang Sederhana dan Nyaman
Lokasinya yang berada di sudut, membuat warung ini sangat strategis dan mudah ditemukan. Ruangannya cukup luas, dengan tujuh meja dan banyak kursi tersedia. Jendela ada di sekeliling, sehingga memungkinkan cahaya masuk dari berbagai arah. Terang, namun tetap teduh khas bangunan di dalam gang. Tepat di depan warung, berdiri sebuah masjid yang cukup besar (informasi tambahan, kali aja ada yang butuh mampir shalat, atau sehabis shalat shubuh mau langsung nyebrang makan nasi kuning ye kan?).
Menyantap Lezatnya Nasi Kuning dengan Porsi yang Cukup
Saat kedatangan pertama ke warung yang akrab dengan julukan Nasi Kuning Kampung Melayu ini, saya dan suami yang cuma bilang: makan di sini, dua porsi. Bingung juga, karena di kertas menu yang tertempel di etalase kaca hanya tertulis pilihan menu, tanpa ada informasi harga. Mau bertanya, khawatir terlalu lama dan mengganggu antrian. Akhirnya kami mode default saja. Tak lama, pesanan kami datang.
Dua porsi nasi kuning dengan tampilan yang sama. Saya sempat terdiam sejenak, pun sempat sangsi porsi tersebut cukup untuk Pak Suami- yang biasanya makan banyak. Jangankan buat pak suami, saya pun kayaknya sebentar bakal nambah. Jadi di dalam piring itu isinya ada nasi kuning yang bisa dibilang sedikit, namun ada banyak lauk di sekelilingnya, yakni: ayam, telur, serundeng, tempe, dan abon. Bismillah, kami mulai menyantapnya. Alhamdulillah, nasinya enak, tidak kering namun tidak pula lembek. Pas! Dan tahu tidak? Saya dan suami tuntas menghabiskannya tanpa adegan tambah seporsi lagi. Heran? Sama. Ternyata begini rasanya makan enak, tapi cukup. Kayak yang, udah aja gitu…Kenyang, tapi gak sampai begah. Cukup pokoknya.
Dari Nasi Kuning, Nasi Olah, Hingga Nasi Tumpeng
Jadi berapa harga seporsi nasi kuning di Warung Rezeki Hj. Nung? Untuk porsi default– seperti yang kami pesan, harganya 15ribu seporsi. Isinya nasi kuning, ayam, telur, serundeng, tempe, dan pilihan (abon atau perkedel). Untuk menu lengkap (seperti yang 15ribu tadi, namun dapat semua abon dan perkedel, alias tidak jadi pilihan) harganya yakni 25ribu. Mau nasinya dibanyakin? Bisa…harga menyesuaikan.
Oh ya, selain nasi kuning, menu lain yang juga adalah resep turun-temurun yaitu nasi olah. Menu ini khas Lombok, terdiri dari nasi putih, dengan lauk yang sama seperti nasi kuning tadi, ditambah dengan sayur pakis, dan daging lawar. Tenang, lawarnya menggunakan daging sapi kok.
Baik menu nasi kuning maupun nasi olah, bisa dipesan dalam bentuk nasi kotak. Pak Tris bercerita bahwa ia sering dapat pesanan wisatawan yang buru-buru mau ke bandara namun belum sempat sarapan. Nah, untuk nasi kotak sendiri, bisa dipesan dengan harga mulai dari 25ribu, tanpa minimal order, alias satu kotak pun dibuatkan! Eitss, buat teman-teman yang mau pesan nasi tumpeng untuk keperluan berbagai acara atau mungkin lagi gabut aja pengen makan nasi kuning dalam bentuk tumpeng gitu, bisa juga lho pesan di sini. Sayangnya kemarin saya kelupaan menanyakan harganya.
Resep Turun-temurun Sejak Tahun 1980
Apa yang membuat nasi kuning Warung Rezeki Hj. Nung berbeda dengan nasi kuning lainnya di Lombok, khususnya di kota Mataram? Sampai membuat ramai oleh antrian sejak pagi hingga petang? Bisa jadi karena rasanya yang terjaga sejak dulu. Alhamdulillah pada kedatangan kedua, saya berkesempatan ngobrol sebentar dengan pemiliknya, Pak Tris namanya. Beliau adalah generasi keempat dari usaha nasi kuning ini. Nama Hj. Nung adalah nama ibunya, nama yang digunakannya untuk branding warung tersebut.
Usaha yang sudah ada sejak tahun 1980 (bahkan menurut masyarakat sekitar sih tahun 1970) itu dijalankan oleh buyutnya. Awalnya berlokasi di dalam rumah, tepatnya di belakang gedung sekolah SMP Dolar. Selain nasi kuning, ada pula nasi olah-olah (nasi putih dengan sayur pakis khas Lombok). Seiring berjalannya waktu, usaha dilanjutkan oleh nenek, ibu, hingga dirinya. Menariknya, resep turun-temurun tetap dipertahankan, sehingga rasanya khas dan tetap disuka oleh pelanggan, yang tidak hanya datang dari daerah sekitar Ampenan, tapi juga dari berbagai daerah di Lombok, bahkan wisatawan!
Memberdayakan Masyarakat Sekitar
“Kami di sini setiap hari persiapan buka warung sudah seperti mau ada acara, mbak. Ramai. Setiap hari kami tidak perlu ke pasar, pedagangnya yang akan mengantarkan ke sini. Urusan dapur, selain pegawai yang semuanya adalah keluarga, kami pun dibantu oleh masyarakat sekitar. Ada saja yang mereka kerjakan. Masyarakat juga senang bisa ikut bekerja, dapat makan nasi kuning di sini juga”, Pak Tris berkisah.
Menjaga Kualitas Rasa
Beliau juga bercerita betapa sangat terbantu karena tidak perlu repot-repot ke pasar. Bahan segar diantarkan langsung oleh pedagang (yang juga adalah warga kampung di situ). Bahan-bahan yang digunakan tetap menggunakan bahan alami dan sekali pakai (salah satunya santan, yang digunakan hanya perasan pertama). Penting untuk menjaga kualitas rasa. Mengingat para pelanggan datang karena sudah tahu kualitasnya. Sedikit saja ada yang berubah, tentu akan dievaluasi lagi.
Semangat Meneruskan Usaha Keluarga
Sebagai generasi keempat, ada banyak sekali yang sudah dilalui oleh Pak Tris. Tumben pula di generasinya, usaha tersebut dijalankan oleh seorang pria. Dari bersaudara, yang punya passion memasak dan menjalankan usaha kebetulan dia. Pak Tris yang awalnya menggeluti usaha perjalanan umroh, kemudian terpikir untuk fokus saja melanjutkan usaha nasi kuning. Bermula dari warung yang menempati bagian rumah di belakang sekolah dengan tempat sangat sederhana, Alhamdulillah di tahun 2009 usaha tersebut pindah di tempat yang lebih strategis dan terlihat (tepat di sebelah tempat sekarang), kemudian di tahun 2023, bangunan rumah yang lebih luas yang berada di sudut gang itu pun menjadi tempat Warung Rezeki Hj. Nung berdiri, hingga sekarang.
–
Selain menyantap makanan khas daerah langsung di tempatnya, ternyata seru juga nih mencoba makanan khas Indonesia seperti nasi kuning dan mencari-cari mana yang sesuai selera. Kalau teman-teman, kuliner nasi kuning favoritnya di mana nih? Share dong di kolom komentar.


No Comments