Warga Lombok mungkin sudah pada tahu usaha catering yang satu ini, entah pada momen menikmati makanan di acara pernikahan, atau syukuran/seremoni lainnya. Setuju gak sih yang namanya sajian catering itu balik ke selera masing-masing? Terus pas sudah suka sama sajian catering tersebut, tapi menyantapnya saat acara, gemes dong besok-besok gimana misal pengen makan yang sama? Belinya di mana? Ya soalnya bukan restoran atau warung makan, kan? Apa ada open PO? Atau mesti menunggu kali aja rezeki dapat undangan acara yang menggunakan vendor catering serupa? Wkwkwk. Gak gitu juga sih.
Catering Bu Dewi menjawab segala rasa penasaran kita dengan membuka rumah makan (yang entah dinamakan apa) dengan aneka menu yang biasa disajikan di acara-acara. Solutif banget, kan?
Lokasi Catering Bu Dewi
Kami terbilang telat ke rumah makan yang sempat- eh kayaknya masih viral, yang sudah ada sejak Oktober 2025 ini. Baru sempat coba ke sana pada bulan Mei 2026 kemarin. Rumah makan yang berlokasi di Jalan BTN Seganteng Indah 5 Blok A.99X, Cakranegara Selatan Baru, Mataram, NTB, ini kalau di google maps namanya Dewi Production yaa (entahlah, mungkin nama induk usahanya).
Jangan heran kalau lokasinya masuk di jalan-jalan kecil perumahan gitu, gak kok, kalian gak nyasar. Rutenya memang demikian. Baik motor maupun mobil, semua bisa dikendarai menuju sana. Nanti kalau sudah dekat, akan ada petugas parkir yang bantu mengarahkan, dan meng’iya’kan ketika pengunjung turun bertanya dan memastikan “catering bu dewi ya?”. Hahaha. Gimana gak ragu, bahkan dari depan saja hanya ada pagar plat besi tanpa tulisan apapun, untuk meyakinkan ya mesti turun dan melihat langsung ruangan yang besar dengan banyak kursi dan meja itu.
Aneka Hidangan ala Kondangan
Teman-teman pernah menyantap hidangan apa saja saat kondangan? Udang crispy? Sapi lada hitam? Siomay? Rawon? Soto? Sebut deh semua. Umumnya catering-catering tuh menunya sudah khas ya, apalagi catering yang sudah kita favoritkan, pasti kita bakal hafal banget menu andalan mereka apa saja, komplit dengan cita rasanya. Begitulah di rumah makan ini, ada banyak menu tersedia yang disajikan dan disiapkan di sejumlah stall. Sebenarnya bukan stall banget ya, intinya terpisah gitu deh, tapi masih sederet (gimana sih jelasinnya).
Pas kami datang, pilihan menunya ada: Soto Bandung (20k), Rawon (22,5k), Pecel (17,5k), Nasi Lemak (mulai dari 22,5k- tergantung pilihan lauk), siomay (lupa nanya harganya berapa), aneka jajanan pasar, serta minuman Es teh (5k) dan es jeruk (10k). Menu-menu tersebut bisa berbeda setiap harinya, dan ketersediaannya terbatas, jadi benar-benar mesti war nih. Oh ya, cara ambil makanannya gimana? Ya jalan, langsung ke lokasi sajian yang diinginkan, nanti pelayannya bakal siapkan menu yang kita pilih. Jadi konsepnya bukan prasmanan.
Kemudian untuk metode pembayarannya hanya menerima cash alias uang tunai. Waktu ke sana kami blas gak bawa uang tunai, kirain bisa QRIS, sempat berniat ke ATM terdekat (meski kenyataannya gak ada yang dekat wkwk), syukurnya dibantu untuk pembayaran secara transfer ke rekening owner. Huft… tapi disclaimer ya, itu conditional, jadi selalu sedia uang tunai saat ke sana.
Jam Operasional Terbatas
Kenapa sarapan? Berat banget pagi-pagi sarapan menu catering ala kondangan? Duh gimana ya, jam operasionalnya terbatas soalnya. Bukanya Senin sampai Jumat, dari pukul 8 pagi sampai 2 siang. Kalau datangnya bukan saat sarapan, siapa yang menjamin bahwa pilihan menunya masih komplit hingga jelang siang? Lah ruang makannya ini aja ramai terus, cari tempat duduk saja susah, sekalinya ada, mesti sharing sama pengunjung lainnya wkwk. Akhirnya mencoba akrab demi bisa duduk menikmati makanan.
Jam operasional yang terbatas ini pun ada alasannya, soalnya selain ngurus rumah makan ini, fokus utamanya kan pada usaha catering. Ada sejumlah acara di luar sana yang juga harus dipersiapkan ini itunya. Begitulah. Belum lagi kalau ada lini bisnis lainnya.
Cerita Di Balik Rumah Makan ala Catering
Usai menyelesaikan santapan Nasi Ayam Bakar dan Sayur Lodeh, saya berpapasan dengan ownernya, yakni Bu Dewi. Perempuan asli Jogja yang sudah tinggal di Lombok sejak tahun 1990 ini menceritakan bagaimana akhirnya rumah makan ini berdiri. Untuk usaha cateringnya sendiri, semula berlokasi di Jalan Sriwijaya, saat itu sekitar setelah masa pandemi– suami beliau (Bapak H. Katon rahimahullah) berpikir untuk mencari sumber pendapatan yang berbeda. Bukan sekadar demi kebutuhan sehari-hari, tabungan, atau aset lainnya, melainkan untuk memastikan segala kegiatan di Yayasan Asmaul Husna Seganteng bisa terus berjalan dengan baik.
Semangat Berbagi Dari Setiap Makanan yang Tersaji
Meski sang suami lebih dahulu berpulang (Juni 2025), Bu Dewi tetap mewujudkan apa yang pernah mereka cita-citakan bersama. Maka hadirlah rumah makan ini yang Masya Allah, atas izin Allah bisa dikenal banyak orang, dan menjadi jalan rezeki terutama bagi yayasan yang dikelolanya. Yayasan Asmaul Husna Seganteng didirikan oleh sang suami. Sejumlah kegiatan berlangsung di bawah yayasan tersebut, mulai dari majelis taklim, taman pendidikan qur’an (TPQ), belajar tahsin, hingga aktivitas masjid sehari-hari. Anak-anak sekitar sana atau bahkan siapa saja bisa mendaftarkan diri menjadi santri/santriwati, mengikuti kegiatan pembelajaran secara gratis!
Untuk diketahui bahwa setiap keuntungan penjualan di rumah makan ini, sebagian besar atau mungkin seluruhnya, ditujukan ke pengelolaan kegiatan keagamaan di Yayasan Asmaul Husna Seganteng. Masya Allah, kulineran sambil beramal. Rasanya jadi pengen sering-sering kulineran di sana gak sih? Semoga berkah selalu usahanya, dan semakin menebar manfaat bagi siapa saja. Aamiiin.
–
Teman-teman ada yang pernah atau malah doyan sarapan di sini? Menu apa yang jadi favorit kalian?







No Comments