Terasering Mareje, Keindahan Sawah di Area Perbukitan Lombok

sawah terasering mareje

Suatu ketika saya membaca postingan seorang pengguna Threads yang merasa bosan dengan destinasi wisata di Lombok yang itu-itu saja. Ketika menemukan postingan yang tidak sesuai dengan hati begini, biasanya saya bertanya lagi pada diri sendiri: apa iya? Kemudian dilanjutkan dengan membaca kolom komentar, benar saja, seluruh komentar di sana malah bingung dengan pertanyaan tersebut. Bagaimana tidak, saking banyaknya objek wisata di Lombok, sesering dan sebanyak apapun yang sudah seseorang kunjungi, ya pasti ada saja tempat baru yang membuatnya berkomentar “eh kok saya baru ke sini ya?”. Gak kelar-kelar itu dikunjungi semua.

Demikian isi salah satu komentar di postingan Threads tadi. Buat yang sering jalan-jalan, apalagi blusukan saja berkomentar begitu. Apalagi saya, yang notabene jalan-jalannya masih belum banyak, atau sebagian besar masih masuk daftar, menunggu waktu untuk dituntaskan.

Perjalanan Menuju Desa Mareje

Jadi pembuka tulisan sebanyak 127 kata di atas itu untuk apa? Untuk disclaimer bahwa saya yang orang Lombok ini baru di tahun 2026 ke Desa Mareje. Lebih tepatnya baru berhenti, melihat, turun, dan berfoto sih. Soalnya di tahun 2019 (sepertinya) saat perjalanan dari Sekotong menuju Mataram, suami saya sengaja melewati jalan ini, tapi sayanya lagi asyik tidur di mobil. Sudah dibangunkan, dikasih tahu sampai di Desa Mareje yang sawahnya berundak-undak itu, sayanya pakai acara menolak pula (ini antara ngigau atau memang tepar di perjalanan).

Jadilah mobil tidak berhenti, lanjut saja menuju jalan pulang. Makanya ketika istrinya ini mendadak di tahun 2026 bertanya tentang hal tersebut, meminta untuk diajak ke sana, beliau hanya: hmmm, dilanjutkan mengangkat kembali cerita masa lalu wkwkwk. Dalam hatinya mungkin mau berkomentar: basi! madingnya udah siap terbit!

Tiba-tiba yang Menyenangkan

Kalau dipikir-pikir, saya dan suami plus anak-anak sih, kok ya kompakan tipikal yang suka dadakan jalan-jalannya. Jadi bukan beberapa bulan atau beberapa hari sebelumnya tuh rencana mau apa ke mana. Kadang selesai sarapan, udah beberes rumah, yuk jalan! Mengingat yuk jalannya masih di dalam rumah, Alhamdulillah masih bisa siapin pakaian gantinya anak, obat-obatan, dll (jatuhnya gak mendadak dong wkwkwk). Nah beda cerita pas berdua doang gini, jadi weekend itu anak-anak pada nginap di rumah uaknya, paginya saya dan suami sarapan nasi kuning di Ampenan. Beres sarapan, sayanya ditanyain mau ke mana, ya jalanlah wkwk. Jadi deh tanyain lagi, gimana kalau ke Desa Mareje aja? Motoran lah kami ke sana, berbekal tas yang saya pakai saja yang isinya apalah itu (jaket, notebook, charger hp, tumbler), paling mampir bentar di minimarket untuk beli camilan dan minuman dingin.

Alhamdulillah cuaca cerah. Perjalanan juga lancar. Mungkin masyarakat Lombok hari itu berwisatanya di area lain, jadi jalanan yang kami lalui pun bebas macet (eh tapi semacet-macetnya di Lombok bukan macet sih…). Senang sekali melihat pemandangan di jalan, sawah di sepanjang Bypass-Gerung (gak panjang sih), kemudian setelah pelabuhan Lembar, sungguh satu-satunya yang tidak sedap dipandang cuma bangunan putih biru yang kalian juga tahu itu. Ckckck…bahkan di sini-sini pun dia tegak berdiri.

Pentingnya Riset Sebelum Perjalanan

Meskipun sebelumnya pernah lewat sana, Pak Suami ada lupa-lupanya juga. Saya diminta cek google maps, di sana ada tiga pilihan jalan yang ditunjukkan. Beliau memang ingatnya belok kiri, tapi gak ingat persis belokannya, soalnya udah lama gak ke sana. Tentu saja kami memilih belokan kiri pertama, ya biar segera belok saja. Jalanannya cenderung bolong-bolong di beberapa titik, karena sedang panas- jadi cukup berdebu. Sisi kiri jalan ada area persawahan yang posisinya lebih rendah dari jalan, dan sisi kanannya adalah rumah warga. Beberapa kali kami berpapasan dengan mobil pick-up dan truk. Makin ke dalam, sawahnya semakin jauh dari jalan, sehingga kiri-kanan jalan penuh dengan bangunan rumah. Eh semakin ke dalam, beberapa warga yang kami jumpai berkata ule‘… ule‘… (artinya pulang/kembali).

Rupanya jembatan yang menjadi penghubung jalur timur bagi Desa Sekotong Timur dengan Desa Mareje Lembar terputus total. Ambles karena intensitas hujan yang tinggi yang membuat sungai meluap sehingga merusak pondasi jembatan, dan itu terjadi sejak 22 Februari 2026 lalu. Saat kami ke sana di bulan April 2026, jembatan masih dibuat seadanya menggunakan batang pohon kelapa. Hanya bisa dilalui oleh pejalan kaki, juga motor, namun hanya untuk warga setempat. Kami pun kembali ke jalur utama, berencana untuk memilih belokan selanjutnya.

Saat mengetik tulisan ini, barulah saya riset lagi. Itulah mengapa bisa menulis tanggal persis kejadian amblesnya jembatan. Dasar yang suka dadakan, modalnya cek google maps, tapi gak cek berita. Hahaha. Padahal berita tentang amblesnya jembatan ini sudah tayang di mana-mana, ya sudahlah, jadi ada bahan cerita…

Akhirnya Belok di Belokan yang Tepat

Sekembalinya di jalur utama, pilihannya adalah belokan kedua dan ketiga. Dari belokan pertama tempat jembatan ambles tadi, cukup jauh dengan belokan selanjutnya. Sementara jarak antara belokan kedua dan ketiga ini cukup dekat. Saya sempat heran sama suami yang tidak berbelok ketika saya beri tahu belokan kedua, ah rupanya dia sudah ingat belokan ketiga ini adalah yang ia pernah lalui. Belakangan saat mencari kembali informasi tentang jalan menuju Desa Mareje, saya baru tahu bahwa 3 jalur/belokan tersebut punya ciri khas masing-masing: jalur pertama adalah jalur terpendek- sayangnya jembatannya ambles sehingga akses putus total, jalur kedua jalanannya cenderung sempit dan rusak parah, dan yang terakhir jalur ketiga adalah yang paling direkomendasikan.

Kondisi jalan lebih baik, dan lebih lapang. Jalur ini merupakan jalur utama melalui Desa Cendi Manik. Sepanjang mata memandang, yang terlihat adalah area persawahan dan perbukitan. Di salah satu sisi, saat perjalanan, kita disuguhkan dengan pemandangan birunya air laut, sepertinya itu masuk perairan Sekotong. Ah ya, jadi ciri khasnya jalur ini tuh area perbukitan, jadi siap-siap menanjak. Pastikan kendaraan dalam kondisi baik ya.

Indahnya Sawah Terasering Mareje

Setelah menempuh perjalanan sejauh 40 km dari Kota Tua Ampenan (ya kan dari warung nasi kuning tuh ahahaha), akhirnya kami tiba di Terasering Mareje. Total duduk di motor selama sekitar 1 jam 15 menit, komplit dengan drama gagal melintas karena jembatan ambles, deg-degan pas jalanan nanjak, akhirnya terbayarkan setelah melihat hijaunya persawahan di sana. Banyak-banyak bersyukur jadi warga Lombok deh pokoknya, cari apa aja di sini tuh ada. Pantai, air terjun, gunung, bukit, mata air, sungai, danau, termasuk sawah terasering gini. Masya Allah.

Kami tiba nyaris pukul 11 siang. Matahari sedang “kalem-kalemnya” tuh. Syukurnya jalanan sekitar area persawahan banyak berdiri pohon-pohon, jadi cukup bikin adem. Berbeda dengan pemandangan di konten-konten media sosial yang teraseringnya full hijau atau full menguning, saat kami ke sana, kami kebagian pemandangan ada hijaunya, ada airnya. Tetap cantik kok bagi saya. Unik. Rupanya kedatangan kami di bulan April merupakan periode peralihan. Sehingga ada petak yang berisi tanaman, ada pula yang dibiarkan menjadi genangan air untuk proses penggemburan menjelang proses tanam selanjutnya.

Lokasi Sawah Terasering Mareje

Saya baru ngeh lho, terasering ini berlokasi di Desa Mareje, Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat. Baru ngehnya ternyata lokasinya di Lembar, saya pikir masuknya di Sekotong. Ngecek di internet rupanya banyak yang berpikir hal yang sama, dan wajar saja, karena lokasinya yang memang berbatasan dengan Sekotong Timur. Oh ya, Desa Mareje terletak di bagian paling selatan dari Kecamatan Lembar. Berada di daerah perbukitan, sekitar 400 mdpl, membuat terasering menjadi metode bertani yang tepat di daerah ini. Uniknya lagi, nyaris seluruh area persawahan di Desa Mareje, berbentuk terasering.

Pemandangan Sekitar Desa Mareje

Jika dibandingkan dengan lamanya saya di sana, rasanya cerita akan perjalanan menuju dan pulang dari Desa Mareje justru lebih lama. Bagaimana menemukan kondisi-kondisi yang tidak diinginkan, menikmati keindahan yang tidak hanya ketika sampai di tempat tujuan, dan masih banyak lagi. Tentu ada banyak hal yang ingin diceritakan, semoga ketika ke sana lagi, bisa ngobrol-ngobrol dengan warga sekitar.

Teman-teman ada yang pernah ke Terasering Mareje juga?

andyhardiyanti

Biasa dipanggil Andy. Pernah tinggal lama di Makassar dan sekarang di Mataram, Lombok. Ngeblog sejak 2007. Senang kulineran, staycation, kopdaran di cafe, browsing produk di toko online tapi gak beli, dan tentu saja...senang menulis :) Bisa dikontak di andyhardiyanti@gmail.com

No Comments

Leave a Comment