Wisata Aik Nyet Lombok, Sejuknya Hutan dan Segarnya Pemandian

sejuknya aik nyet

Cuaca di Lombok sedang panas-panasnya. Hujan memang sering turun tiba-tiba, namun karena rasanya tidak ada angin, jadi tetap bawaannya gerah. Diam di rumah pun kini bukan pilihan, apalagi kalau tidak pasang penyejuk udara, duh banjir keringat! Itulah mengapa akhir pekan kemarin saya dan anak-anak pengen banget bermain air tawar. Kata bermain air dan air tawar ini harus diberi highlight karena memang pengennya itu. Bukan berenang, bukan pula tempatnya di kolam renang/waterpark, apalagi pantai. Dari semua yang tersedia, pilihan kami jatuh kepada Wisata Alam Aik Nyet.

Perjalanan Motoran Menuju Narmada

Cuaca pagi itu cerah sekali, pas sekali untuk pergi berwisata. Mengingat lokasinya tidak jauh dari kota Mataram, ditambah pengen menikmati udara segar di perjalanan, serta supaya lebih sat set saja ke tempat yang dituju, terpikirlah untuk bepergian mengendarai motor. Alhamdulillah ada saudara dekat yang bisa ikut serta, sehingga si sulung bisa ikut di motornya. Jadilah kami menggunakan dua motor ke sana. Dalam perjalanan, cuaca yang tadinya cerah berubah sejuk hingga mulai mendung, syukurnya belum sampai turun hujan.

Tidak butuh waktu lama, motor yang kami kendarai sudah meninggalkan kota Mataram dan masuk wilayah Kabupaten Lombok Barat. Begitu tiba di daerah Narmada, suasana sejuk kian terasa, suara ramai derasnya aliran air terdengar pada setiap kiri kanan parit/selokan yang kami lalui. Ya, Narmada memang merupakan salah satu tempat yang berkelimpahan air di Lombok. Tidak heran bahwa selain banyak pemandian, banyak pula pabrik air minum di sini, seperti: Pabrik Air Minum Pandan, hingga yang bernama sama dengan nama daerahnya.

Kawasan Wisata Alam Aik Nyet

Setelah menempuh perjalanan selama sekitar 30 menit, akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Excited sekali rasanya, padahal ini bukan kali pertama saya ke sana. Namun jarak dengan kunjungan terakhir memang sudah lama sekali sih, saat si sulung masih usia TK atau awal-awal SD. Tadinya sempat ragu, apakah mau ke Sesaot, Aik Nyet, atau mencoba ke Bunut Ngengkang. Walau pada dasarnya ya tempat ketiganya di situ-situ saja. Hahahaha. Setelah mempertimbangkan betapa ramainya dua tempat lainnya, pilihan tetap jatuh pada Aik Nyet.

Lokasi Aik Nyet bisa dituju salah satunya melewati Desa Wisata Sesaot (yang ada kolam dan jembatannya itu, terkenal pokoknya), dari sana, ikuti saja jalan ke atas. Alhamdulillah kondisi jalanannya sekarang sudah bagus. Ikuti terus jalanan tersebut sekitat 1,6 km, nanti saat ada percabangan, sisi kanan itu Bunut Ngengkang, belok kiri itu ke arah Aik Nyet.

Lokasi Aik Nyet Parkiran 1 dan 2

Wisata Aik Nyet berlokasi di Desa Buwun Sejati, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat. Dulunya Dusun Aik Nyet adalah bagian dari Desa Sesaot, namun setelah ada pemekaran, ia masuk di wilayah Desa Buwun Sejati. Jadi jangan heran ya kalau Kawasan Wisata Alam Aik Nyet masih erat disebut-sebut berlokasi di sana. Oke, lanjut, selain senang karena jalanan yang sudah bagus, sekarang pun pengunjung dimudahkan dengan papan/spanduk informasi yang terpampang jelas. Terutama bagi yang baru pertama kali ke sana.

Dari arah pemandian Sesaot, kita akan menemukan spanduk bertuliskan “wisata alam Aik Nyet parkiran 1”, tak jauh dari lokasi ini, ada parkiran 2. Bedanya adalah, di pintu masuk parkiran 1 ini pengunjung akan melewati kawasan hutan, dengan jalan turun yang lebih landai, area pemandiannya masih berupa aliran sungai dengan banyak batu besar. Sedangkan parkiran 2, jalannya lebih terjal (sudah berupa tangga-tangga permanen), dan langsung tiba di area yang berbentuk kolam (sudah lebih tertata). Kami memilih masuk di parkiran 1 agar bisa melewati kawasan hutannya.

Setelah membayar biaya parkir motor Rp5.000,- dan tiket masuk Rp5.000,- per orang (wisatawan lokal, anak kecil sepertinya tidak dihitung), kami memulai perjalanan menuju Aik Nyet melewati hutan.

Keindahan Hutan Lindung Sesaot

Kalau pengen melipir dari Kota Mataram dan hendak menghirup udara segar, plus bermain air/berendam di air yang segar pula, udah paling bener deh ke sini. Kami berjalan kaki dahulu sekitar 5 menit, sebelum akhirnya sampai di tempat pemandian. Tingginya pepohonan dan tersusun hampir rapat membuat suasana di dalam area hutan ini sangat teduh. Udara terasa sangat segar, indera penciuman benar-benar dimanjakan, ah indera penghilat juga! Bagaimana tidak, sejauh mata memandang, yang terlihat adalah pepohonan nan hijau.

Hutan lindung Sesaot ini luasnya hampir 6.000 hektar, dan tercatat memiliki sebanyak 90an titik mata air. Masya Allah. Dari hutan seluas itu, Alhamdulillah ada yang bisa kami lewati eh lintasi sedikit bagiannya dalam perjalanan menuju Aik Nyet. Lumaya bisa menghirup udara segar, atau sekadar berfoto ala Sherina yang sedang bertualang.

Segarnya Bermain Air di Pemandian Alami

Setelah berjalan kaki sebentar, akhirnya kami tiba di salah satu jalan menuju ke bawah, ke aliran sungai. Jadi sebenarnya jalan ke bawah ini ada banyak ya teman-teman, tinggal pilih saja mau turun di bagian mana. Kami memilih yang agak ke belakang supaya tidak terlalu ramai, walau masih termasuk ramai sih menurut saya (ya udah di rumah sana, di dalam kamar wkwkwk). Bagian tepi sungai sekitar tangga tempat kami turun, terdapat warung-warung, lengkap dengan sejumlah bilik tempat duduk beralaskan tikar di sekitarnya. Syukurnya kami sudah menggunakan pakaian renang, jadi tinggal buka baju luarnya, kemudian turun ke sungai.

Oh ya, Aik Nyet selain merupakan nama dusun, pun adalah kata dalam Bahasa Sasak, kalau diartikan ke Bahasa Indonesia yakni air dingin (aik= air, nyet=dingin).

Nikmatnya Bermain Air di Alam

Meski sudah beberapa kali ke Aik Nyet, spot yang satu ini terbilang baru bagi kami. Biasanya, kami langsung ke area parkiran 2 atau sekitarnya. Di sana, sudah lebih tertata, seperti dibuat dinding-dinding kolam agar lebih aman, bagian dasar yang sudah ditaruh tumpukan karung (berisi apa ya? pasir?) agar lebih datar, dll. Daerah sekitarnya memang masih berbentuk aliran sungai dengan batu besar, tapi tidak seperti di sini (yang keseluruhannya demikian). Oleh karena itu, harus ekstra hati-hati, mengingat aliran sungainya cukup deras, banyak batu besar, bagian dasar yang tidak rata (namanya juga alami), berupa pasir dan bebatuan, kedalamannya pun berbeda.

Sejauh mata memandang, adanya ya pemandangan pepohonan hutan lindung Sesaot, serta aliran air dengan bebatuan besar di Aik Nyet ini. Areanya memang tidak seluas saat kami bermain air di Pekatan, tapi setidaknya kedalaman di sini membuat saya jauh lebih tenang. Buat saya yang belum bisa berenang, ada pula membawa anak kecil usia 8 tahun, sekadar bermain air di bagian pinggir-pinggir sedikit ke tengah saja sudah senang luar biasa. Si kecil masih bisa berdiri, tanpa takut badannya kelelep air. Tentunya dengan tetap dalam pengawasan ya. Jangan ditanya bagaimana rasanya bermain air dan berendam di sana. Masya Allah, sejuknya… Benar-benar membuat badan dan pikiran jadi lebih segar.

Lezatnya Sate Bulayak dan Mie Seduh

Meski sudah membawa kotak bekal dari rumah, kami tetap berbelanja di sana. Alasan pertama karena kami duduk di bilik yang disediakan si pemilik warung, alasan lainnya adalah karena bekalnya tidak cukup wkwkwk. Syukurnya kami membawa banyak air minum menggunakan beberapa botol tumbler, jadi gak perlu jajan minuman (padahal ya udah jajan susu sih di jalan). Selama beberapa jam di sana, kami yang datang berlima (3 dewasa, 1 remaja, dan 1 anak) total jajan sebesar Rp80.000,-. Adapun menu yang dibeli adalah 2 porsi Sate Bulayak, dan 4 porsi mie seduh. Tenang, mie seduhnya gak dimakan bocah kok. Dia makan bekal dan sate bulayaknya aja #disclaimerdulu.

Sate bulayak di sini menggunakan daging ayam dengan bumbu kental yang kaya rasa. Oh ya, bulayak itu lontongnya ya, dibungkus dengan daun enau dengan cara dililit. Bocah suka banget makannya, apa karena bentuknya unik? Nikmat banget kan itu makan sate bulayak dan mie seduh setelah bermain air/berendam di air dingin… Coba bayangin dulu deh…

Apakah Layak untuk Dikunjungi Kembali?

Kalau ditanya, apakah akan ke Aik Nyet lagi? Tentu saja jawaban saya: iya. Lah ini saja sudah kedatangan kesekian kali. Titik yang kami datangi ini memang lebih sepi pengunjung, tapi ya lebih minim fasilitas. Tidak ada toilet dan musala, seperti yang tersedia di area pemandian di pintu parkiran 2. Tapi namanya juga wisata alam, harus disesuaikan dengan kondisi di sana saja. Syukurnya gak ada keinginan ke toilet, untuk ganti pakaian tersedia bilik gitu (disediakan sama orang warung), kami lebih memilih ganti di area duduk sendiri sih, pakai sarung dan saling nutupin gitu. Shalat pun di situ, tempat duduknya cukup luas kok, bawa aja mukena dari rumah.

Sayangnya yang bikin sebel adalah pas beberes mau pulang, ada tuh pemilik warung lainnya yang membuang sampahnya dengan melempar gitu aja ke aliran sungai. Alirannya jauh setelah tempat kami mandi, jadi gak ngelewatin depan kami, tapi ya tetap terlihat. Mas dan Mbak tempat kami belanja aja ngumpulin sampahnya itu dan bawa ke atas lho untuk dibuang ke tempat sampah. Kami yang ada di sana ya pada ngelihatinnya, ybs mah cuek aja. Mau tegur, agak jauh, ya siapa saya juga huhu… Sebelnya ihh…kebayang itu sampahnya kebawa sama yang main air di bawah sana, belum lagi kalau menumpuk dan malah menyumbat aliran air. Semoga itu pemandangan terakhir yang saya lihat deh, semoga kita semua bisa membiasakan diri membawa kembali sampah yang dihasilkan saat berwisata.

Di luar ending yang “menggemaskan” itu saya masih tetap ingin ke wisata Aik Nyet. Melintasi hutan lindung, pun menikmati berendam di aliran air yang sejuk bahkan dingin itu. Duduk di atas batu besar, sembari menyadari setiap hembusan nafas. Sungguh bersyukur atas alam yang telah Allah SWT ciptakan ini, dan sudah menjadi tugas kita untuk menjaganya.

andyhardiyanti

Biasa dipanggil Andy. Pernah tinggal lama di Makassar dan sekarang di Mataram, Lombok. Ngeblog sejak 2007. Senang kulineran, staycation, kopdaran di cafe, browsing produk di toko online tapi gak beli, dan tentu saja...senang menulis :) Bisa dikontak di andyhardiyanti@gmail.com

No Comments

Leave a Comment