Mampir Ngopi Dulu di Kopi Luru

Kopi tepi pantai balikpapan

Sadar gak sih bahwa belakangan ini pertumbuhan coffee shop di Indonesia tuh kayaknya masif banget, tak terkecuali di Balikpapan. Mau tidak mau, setiap kedai jadi perlu punya ciri khas masing-masing, selain tentu saja: sajian kopi yang berkualitas. Pas mudik ke Balikpapan kemarin, setelah kepoin di google maps, mampirlah saya di sini di Kopi Luru.

Waktu kepoin ulasannya di gmaps, ada beberapa hal yang langsung membuat saya kepincut, penasaran pengen ke sana. Mulai dari vibes pencahayaannya, nggak yang terang benderang atau berlebihan, melainkan elegan. Daya tarik selanjutnya sudah pasti karena posisinya yang berada di tepi pantai. Terakhir, aksesnya gampang banget karena dilewati oleh rute Balikpapan City Trans (Bacitra).

Kopi Luru Pantai Balikpapan

Mengingat saat mudik lebaran di tahun sebelumnya saya ngopinya di Wani Kopi Balikpapan, nah sekarang pengen coba sensasi berbeda. Penasaran deh sama Kopi Luru, yang ternyata mulanya adalah kopi pinggir jalan gitu, jualnya pakai gerobak, di daerah Balikpapan Baru (entah sampai sekarang masih ada atau tidak). Baru kemudian ada coffee shop gini, buka di dua tempat yang akrab dengan sebutan: Luru Pantai (Markoni) dan Luru Martadinata.

Adapun cabang yang saya datangi itu adalah Kopi Luru Pantai Balikpapan. Lokasinya di daerah Markoni, tepatnya di Jalan Jenderal Sudirman No.14 Damai, Kecamatan Balikapapan Kota, Balikpapan. Meski gak pas berada di pinggir jalan, mesti masuk dikit gitu (bahkan berada di belakang Janji Jiwa Culture), coffee shop ini tetap mudah ditemukan kok. Ke sana naik bus Balikpapan City Trans (Bacitra) trayek A, rute bandara-pelabuhan, bisa tuh turun tepat di jalan masuknya.

Dominasi Warna Earth Tone

Begitu tiba, pengunjung akan langsung melihat bangunan dengan dominasi warna putih ala pasir pantai, dengan permukaan yang unfinished (masuk konsep industrial gak sih? kasar pokoknya). Saya sih lihatnya benar-benar mirip warna pasir pantai. Kemudian warna lainnya ada coklat (lagi-lagi mirip warna pasir pantai), abu-abu, dan hitam. Cocok sekali rasanya dengan lokasinya yang berada di pinggir pantai. Kalau bisa disimpulkan, warna-warna yang digunakan adalah earth tone gak sih?

Kesan pertama saya? Wah, cakep nih. Saya sampai membayangkan dan mencoba mengingat-ingat, ada gak ya coffee shop pinggir pantai di Lombok yang tampilannya seperti ini? di sekitar Pantai Senggigi, Kuta Mandalika, atau Pantai Klui mungkin? eh yang terakhir sih blas gak ada kafe kayaknya.

Waktu Terbaik untuk Berkunjung

Desain coffee shop-cakep, tapi yang membuat saya kaget adalah: rame banget, banget, banget. Alhamdulillah ya ramai pengunjung, rejeki owner wkwk. Saya pikir tipikal coffee shop sepi, hening gitu. Tebakan saya sih, pertama, karena saya datangnya menjelang sore, sepertinya jam-jam ramai pengunjung mau sekalian menikmati pemandangan matahari terbenam. Kedua, kayaknya nih coffee shop masih dalam vibes lagi viral. Alasannya ya karena pas di sana sampai beberapa kali perlu nunggu gitu untuk pepotoan di tangga-tangga yang ada tulisan LURU, termasuk di beberapa spot andalan buat berfoto.

Jadi untuk teman-teman yang menghindari suasana ramai, mungkin datangnya jangan jelang sunset. Siapa tahu tidak seramai ini. Hehehe.

Berbagai Pilihan Tempat Duduk

Untuk tempat duduk, para pengunjung bisa memilih mau di area outdoor maupun indoor. Area indoornya terbilang sempit sih, hanya ada sekitar 4-5 meja bundar kecil gitu, dan satu area sudut yang cakep banget, ada jendela yang langsung menghadap ke laut. Cocok untuk duduk ngobrol bareng teman/klien/keluarga, entah sekadar nongkrong, maupun kerja. Sayangnya, tentu saja tempat itu sudah terisi. Saya akhirnya memilih duduk di salah satu kursi dengan meja bundar kecil, ada jendela eh kaca juga, menghadap ke laut, tapi karena ramai ya pemandangannya agak terhalang sama pengunjung yang duduk di luar.

Sambil menunggu antrian kopi yang masih ramai, saya memilih untuk melihat sekitar. Jadi tahu bahwa area outdoornya cukup luas. Setidaknya bisa memuat lebih banyak pengunjung. Ada area duduk di bagian depan (yang paling pertama dijumpai ketika tiba di sini). Ada semacam bangunan terpisah gitu, di dekatnya ada tangga-tangga, di sana ada yang duduk sekadar nongkrong, ada juga yang bekerja. Tentu saja: sebagian besar pada merokok. Heuheu. Area outdoor lainnya berada di samping bangunan kafe, menghadap langsung ke laut, dan bahkan ada sejumlah kursi yang ditaruh tepat di atas pasir pantai.

Menu Kopi Luru Pantai

Namanya juga coffee shop, tentu saja menu utamanya ada minuman berbasis kopi. Umum lah ya, ada aneka menu espresso based (espresso, americano, latte, dll), coffee signature (brown sugar latte, caramel macchiato, butterscoth latte, dll), dan menu non-kopi lainnya. Untuk makanannya ada pastry, snack, dan main course (nasi goreng kampung, rice bowl beef, dll). Saya hanya memesan hot latte, ya karena niatnya beneran cuma mau mampir. Lihat-lihat suasana di sini, terus lanjut naik bacitra lagi.

Kopinya enak sih, saya gak ngerti juga menjelaskan kopi wkwk. Pokoknya beneran berasa kopi. Oh ya, baru tahu juga kalau Luru tuh gak hanya coffee shop, mereka coffee roastery juga. Tapi sepertinya lokasinya di cabang satunya, di Martadinata (dilihat-lihat, di sana pun lebih luas sih).

Next time kayaknya pengen ke sana lagi. Cobain menu kopi lainnya dan datang di waktu berbeda, mungkin vibesnya lain kalau pas sepi.

andyhardiyanti

Biasa dipanggil Andy. Pernah tinggal lama di Makassar dan sekarang di Mataram, Lombok. Ngeblog sejak 2007. Senang kulineran, staycation, kopdaran di cafe, browsing produk di toko online tapi gak beli, dan tentu saja...senang menulis :) Bisa dikontak di andyhardiyanti@gmail.com

No Comments

Leave a Comment