Lomba Dunia Maya-Memburu Matahari dari Dunia Maya ke Dunia Nyata Posted on 16 June 201123 August 2020 By andyhardiyanti Lomba Dunia Maya-Memburu Matahari dari Dunia Maya ke Dunia Nyata. Sejak dulu -sejak saya mulai mengenal puisi- saya punya keinginan agar suatu saat nanti puisi-puisi saya juga dapat dibukukan seperti mereka, para penyair yang buku kumpulan puisinya pernah saya baca. Tidak harus buku kumpulan puisi pribadi, antologi juga tak apa. Tapi masalahnya apakah puisi-puisi yang saya tulis layak untuk dibaca? menarik atau tidak? atau bahkan hanya sekadar rangkaian sepatah dua patah kata yang sampah? Bukannya pesimis, maklum saja buku kumpulan puisi yang saya baca adalah karangan para penyair senior, seperti Chairil Anwar dan Subagio Sastrowardoyo. Saya berpikir bahwa wajar saja kalau mereka bisa menulis puisi dan bahkan dibukukan sebab usianya saja sudah bukan usia anak sekolah dasar seperti saya waktu itu. Rasa pesimis tersebut menjadikan saya lupa menulis puisi lagi. Saya pun mulai jarang menulis puisi kecuali ketika ada tugas membuat puisi pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, hari ibu dan peringatan hari ulang tahun ibu saya ( ibu senang sekali membaca puisi-puisi saya, jadi setiap hari Ibu dan hari Ulang Tahun Ibu saya selalu menuliskan puisi khusus untuknya). Akhirnya entah pada tahun berapa, keinginan untuk menulis sebuah buku (membukukan puisi-puisi saya) itu muncul lagi setelah saya mengetahui keberadaan seorang penyair cilik dengan puisi-puisinya yang sungguh menarik. Dia adalah Abdurahman Faiz. Penyair cilik (tapi sekarang sudah tidak cilik lagi..hehe) yang berhasil menulis sejumlah buku kumpulan puisi. Ketika membaca blog pribadi milik Faiz, saya menemukan postingan yang di dalamnya tercantum nomor handphone bundanya Faiz (Helvy Tiana Rosa red.). Saya pun mulai sms-an dengan beliau untuk menanyakan berbagai hal mengenai cara menulis buku kumpulan puisi dan menerbitkannya. Kata bunda Helvy, buku kumpulan puisi itu susah untuk diterbitkan kecuali puisi-puisinya menarik dan ternyata bunda Helvy juga punya sejumlah puisi yang sudah numpuk dan belum terbit-terbit juga. “Tutut sayang, terus saja menulis puisi. Nanti puisi yang kita tulis akan semakin banyak dibaca orang dan kalau puisinya menarik, penerbit pasti akan tertarik untuk membukukannya”, begitu pesan bunda Helvy. Mungkin cerita saya sudah terlampau jauh tanpa sedikit pun menyinggung judul postingan di atas. Memburu Matahari dari Dunia Maya ke Dunia Nyata? Ya, tidak salah lagi. Saya dan sejumlah penyair muda lainnya dari kota yang berbeda baru saja memburu matahari dari dunia maya ke dunia nyata. Begini, beberapa bulan yang lalu seorang teman saya yang bernama Eko Putra, seorang penyair muda yang berasal dari pelosok Musi Banyuasin yang saya kenal dari aktivitas blogwalking dan sampai sekarang belum pernah saya temui secara langsung, mengirimkan pesan singkat pada saya yang isinya meminta saya agar mengirimkan lima buah puisi ke alamat e-mailnya. Karena pada waktu itu saya sedang sibuk-sibuknya dengan ujian akhir semester dan di rumah belum ada koneksi internet, hingga batas akhir pengiriman naskah puisi yang dia tetapkan telah tiba saya belum juga mengirimkan puisi-puisi tersebut. Sampai pada suatu ketika, Eko mengirimkan lagi pesan singkat bahwa dia telah mengambil lima buah puisi dari blog pribadi saya yang katanya cukup menarik. Sejumlah pesan singkat yang isinya sebenarnya tidak singkat bertubi-tubi Eko kirimkan ke ponsel saya yang isinya adalah komentar-komentar dari Jamal D.Rahman, Isbedy Stiawan ZS, dan Raudal Tanjung Banua mengenai sebuah buku puisi berjudul Memburu Matahari. Dari sms-sms ini akhirnya saya mengetahui bahwa ternyata Eko baru saja mengajak kami, teman-teman penyair yang saling mengenal hanya dari dunia maya untuk membuat sebuah antologi puisi yang berjudul Memburu Matahari. sampul buku Memburu Matahari, sampulnya dulu..belum jelas kapan terbitnya Antologi puisi ini berisikan puisi karangan para penyair yang berasal dari berbagai kota. Ada yang dari Yogyakarta, Palembang, Makassar (saya sendiri lho ^_^), Pangkalpinang, dan sejumlah kota lainnya. Dunia maya-lah yang membuat kami saling mengenal. Kami bahkan belum pernah bertemu satu sama lain di dunia nyata, kalaupun ada paling hanya satu dua orang saja yang pernah saling bertatap muka. Proses lahirnya buku antologi puisi Memburu Matahari benar-benar berkat kehadiran dunia maya. Kata Eko, orang-orang yang memberikan komentar (Jamal D. Rahman dkk) pada antologi puisi ini mengirimkan komentarnya melalui surat elektronik atau e-mail. Penerbitnya pun merupakan penyedia layanan penerbitan buku yang ada di Internet. Maksudnya, penulis tinggal meng-upload naskah, gambar sampul buku, dan hal-hal lainnya yang diperlukan melalui situs penerbit tersebut. Ah, dunia maya semakin hebat saja. Ya, siapa sangka karena dunia maya saya akhirnya bisa mewujudkan keinginan yang sebenarnya sudah saya lupakan itu. Alhamdulillah, akhirnya buku saya (eh buku kami maksudnya..) diterbitkan juga ^_^. Buku antologi puisi berjudul Memburu Matahari itu sudah ada di tangan saya, bukunya nyata lho… hehehe. bukunya ‘nyata’ kan? hehe.. ‘Andy Hardianti Hastuti’, nama saya salah dikit tuh.. tapi ya udah deh, gak papa. Sekian. *tulisan ini diikutkan pada Lomba Menulis Kisah Nyata Dunia Maya . Doakan semoga menang ya π Uncategorized Antologi PuisiKisah NyataLomba Dunia MayaLomba Menulis Kisah Nyata Dunia MayaMemburu Matahari
Uncategorized Standar: Perhatian Datang Dari Mana Saja Posted on 22 December 201524 December 2015 Pernah berpikir tidak kalau para pengendara motor (bahkan mobil maupun pejalan kaki sekalipun) bisa tiba-tiba punya ikatan batin yang kuat. Tidak peduli seberapa mahal motor yang dikendarainya hingga siapa orang yang sedang mengendarai motor tersebut. Ya, standar motor menjadi titik pertemuan itu semua. Satu hal sederhana yang menyebabkan setidaknya seorang… Read More
Uncategorized Bahasa Indonesia dan Mereka yang Mencinta Posted on 14 November 20111 September 2020 Apa kabar Bahasa Indonesia? Ah, lama tak jumpa. Anak zaman sekarang lebih suka berbahasa Indonesia yang mengada-ada, yang semaunya saja, yang tulisannya dibolak-balik pun dipadupadankan dengan angka. Apa namanya.. 4L4Y! Ahhay, saya juga tidak tahu apa artinya. Hanya dengar-dengar saja istilah mereka. Maaf, bukan hendak menghujat. Saya sekadar berpendapat, sebab… Read More
Uncategorized Tentang Batas Waktu Bermain dan Mengenalkan Disiplin Pada Anak Posted on 17 November 201519 November 2015 Jam pulang sekolah si anak, siang dan panas banget. Saking panasnya matahari rasanya tidak seberapa jauh dari kepala. Anak sudah keluar kelas dan mamanya langsung dong sambut dengan harapan bisa langsung ajak si anak cuss pulang ke rumah. Dan taraa… si anak malah langsung cuss ke taman bermainnya. Gak peduli… Read More
hihi..iya, saking semangatnya tuh tulisan malah jadi berantakan kayaknya. Berantakan banget Bahasa Indonesianya -,- Reply
wah, beneran nih? kalo mau pesan, kontak saya via email saja di andyhardiyanti[at]gmail[dot]com. oke? Reply
mbak, salam kenal dari saya Rubby, Palembang. boleh minta kontak (no hp pribadi)nya? untuk m’perpanjang tali silaturrahmi. tertarik sama booknya, btw brp hrganya? tlg emailkan no hp dan harganya ya!!! Reply
Salam kenal balik dari Makassar ^__^ No.HP pribadi? nah lho :O Ntar saya PM ya.. Sip, website udah saya kunjungi balik. Reply
f1 ngetiknya ada yang salah, maksud sy website kami… oy, skalian deh minta profil detailnya dikirim sekalian ke email sy…!!! Reply