Surat Cinta Untuk Diri Sendiri

Surat Cinta Untuk Diri Sendiri. Menulis surat cinta untuk diri sendiri? Bagaimana caranya? Anggap saja sedang berbicara pada hati. Bedanya, dibuat jadi tulisan. Bukankah nyaris setiap saat kita berbicara kepada diri sendiri? Bicara dalam hati, yang tahu ya hanya kita dan Sang Pemilik. Melihat, mendengar, merasakan, hingga sebelum mengatakan berbagai hal, sering kali kita menyaringnya terlebih dahulu dalam bentuk: berbicara pada diri sendiri. Termasuk sebelum dan saat menuliskan postingan yang menjadi tema terakhir dari rangkaian #KEBerbagiCeritaRamadan ini. Berkali-kali, saya berbicara pada diri, untuk dapat menulis sebuah surat- yang juga ditujukan untuknya, untuk diriku.

Bingung ingin menulis apa, idenya kebanyakan tapi entah bagaimana menuangkannya. Tidak ada waktu, tidak sempat, atau apalah-apalah perihal writer’s block jadi alasan. Sungguh ini tidak sedang menceritakan orang lain, saya sedang menceritakan diri saya sendiri. Jadi hai diri, terima kasih ya sudah mau mencoba menerima tantangan menulis selama beberapa hari berturut-turut, meski tetap saja- kenapa sih penyakit mepet deadline itu tak kunjung reda?

Dear, Diriku di Ramadan ini

Bulan ramadan sudah setengah jalan. Setengah jalan sudah kita berpuasa, setengah jalan ke depan kita berjumpa hari lebaran. Betapa waktu berjalan secepat ini, bukan? Siapa kemarin yang khawatir bertemu kembali bulan suci ini? Khawatir, ketar ketir, dengan segala situasi berbeda yang beberapa bulan sebelum ramadan datang menyapa. Sudah keburu ragu bisa bertahan atau tidak, menjalankan indahnya ramadan. Ragunya melaju tak kira-kira, padahal Allah SWT sudah sedemikian baiknya.

“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya selama ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam sekumpulan orang maka Aku akan mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dan lebih bagus darinya. Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepada-Nya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (H.R Muslim).

Alhamdulillah, terima kasih ya diri, bisa berjuang menata hati di awal ramadan. Mau belajar mencari tahu bagaimana bisa dekat dengan Allah, menerima segala yang telah ia tetapkan. Bersyukur sekali rasanya, ramadan kali ini sedemikian indahnya. Mulai dari beberapa bulan sebelumnya menerima banyak ujian, mencoba memahaminya sebagai nikmat tak terkira dari Allah ‘Azza wa Jalla. Kemudian membuat keputusan dadakan di awal ramadan untuk mengikuti kelas yang sampai 40 episode, demi apa? Demi belajar memperbaiki shalat, di usia yang kini sudah 33 tahun. Tak apa, terima kasih penyelenggara Shalat Sepenuh Jiwa.

Ramadan itu Bulannya Latihan

Banyak ditunggu, banyak kemuliaan, sungguh ramadan itu menjadi bulannya kita untuk latihan. Jadi dear diriku, yuk amal sholeh di bulan ramadan, jangan eksklusif hanya ditegakkan di ramadan pula. Ketika berakhir ramadan, itulah sebaik-baik bukti cinta kita kepada Allah SWT, apakah segala hal baik itu terus dilanjutkan. Atau lagi-lagi kita balik ke versi bermalas-malasan. Tidakkah cukup hal-hal yang sudah terjadi di seluruh dunia, di depan mata, betapa banyak kita saksikan bukti-bukti kebesaranNya? Yakinkah kita akan kembali dipertemukan pada ramadan yang akan datang? Jadi yuk, dimohon kerjasamanya untuk menjadi pribadi yang baik dan lebih baik lagi.

Untuk segala kesalahan, bismillah pelan-pelan kita belajar perbaiki. Tak apa terbiasa meminta maaf, niatkan bahwa kita manusia yang sering bersalah- sering minta maaf tak apa, kan? Meski kadang tak melulu kita yang salah, melainkan, kita tahu bahwa tak ada salahnya meminta maaf. Biasakan terima kasih, ah ya..hai diriku, terima kasih ya lagi-lagi, sudah sekuat ini. Sudah sekeras ini mengelola tangis, kata orang-orang tak apa menangis, kata sebagian yang lain- jangan menangis. Bingung? Sama. Hai diri, kata mereka di luaran sana, kita ini hebat mengelola emosi kan ya? Ya, sudah itu saja jadi motivasi sampai sekarang.

Hmm.. apa lagi ya? Oh ya, maaf ya, meski ramadan ini bisa dikatakan adalah ramadan terbaik kita dibanding tahun-tahun sebelumnya, tapi di sisi lain, untuk badan yang gampang lemah- terlelap cukup panjang, yang terkadang sakitnya muncul lagi, maaf ya kalau kemudian penyebabnya adalah pemaksaan untuk masih juga belum bisa berhenti meneguk satu atau dua gelas kopi, tidur yang tak teratur, sampai pada pikiran yang masih belum juga dibuat ringan.

Itu saja, yuk semangat lagi menjalani setengah bulan ramadan yang tersisa. Sembari terus berdoa agar ini bukanlah ramadan terakhir kita. Aamiiin.

 

Biasa dipanggil Andy. Pernah tinggal lama di Makassar dan sekarang di Mataram, Lombok. Ngeblog sejak 2007. Senang kulineran, staycation, kopdaran di cafe, browsing produk di toko online tapi gak beli, dan tentu saja...senang menulis :) Bisa dikontak di andyhardiyanti@gmail.com

No Comments

Leave a Comment