Jangan Anggap Sebagai Ujian, Ini Nikmat-Nya

Jangan Anggap Sebagai Ujian, Ini Nikmat-Nya. Saya akan selalu ingat, momen ketika seorang sahabat berkata: jangan anggap sebagai ujian, anggaplah ini sebagai nikmat dari-Nya. Saya mengalaminya beberapa bulan yang lalu, baru sekali rasanya. Ketika saya baru saja mendengar diagnosis dari dokter, perihal putri ketiga saya. Pikiran saya ke sana sini, badan rasanya mau rebah entah bagaimana caranya. Tangis sudah tak terbendung, tapi saya tak ingin orang lain melihatnya. Sore itu, dari ruang PICU-tempat putri kecil saya dirawat, saya turun ke lantai 3, menuju mushola. Hendak melaksanakan shalat Ashar, karena memang sudah waktunya. Usai shalat, saya berdoa, meminta, berbicara padaNya. Dengan terus bertanya, Ya Rabb.. ini apa?

Selesai shalat dan berdoa, saya kemudian menghubungi seseorang. Seorang sahabat yang baru beberapa bulan sebelumnya berbagi cerita bagaimana ia nyaris ditinggal putranya. Bagaimana ia, tiba di satu titik, berserah padaNya, jika memang putranya harus berpulang saat itu juga. Qadarallah, memang belum waktunya, dengan segala kondisi yang dialami, putra kecilnya berhasil melewati segala tahapan pengobatan dan sembuh. Padahal, kalau dipikir dengan pikiran manusia, ya kecil kemungkinan. Tapi lagi-lagi, kematian adalah hak prerogatifNya, Allah SWT.

Bukan Ujian, Ini Nikmat Dari-Nya

Sahabat yang saya hubungi itu bernama Kak Intan, seorang perempuan yang pertama kali saya kenal di kegiatan Kelas Inspirasi Lombok. Kemudian, bersama kami berada di grup Sahabat Sajang, hingga kini. Kak Intan adalah seorang sahabat yang baik pengetahuan agamanya, terlebih lagi, kami baru-baru berbagi cerita. Sore itu, sambil tak kuasa menahan tangis, saya ceritakan apa yang putri ketiga saya-Ufaira, alami. Bagaimana diagnosis dari dokter, dan berbagai kabar yang rasanya tak mengenakkan itu terjadi pada bayi yang baru sebulan lalu saya lahirkan. Panjang lebar saya bercerita, berharap Kak Intan pun menyampaikan banyak hal, entah tentang apa, entah tujuannya apa, yang ada ia malah berkata sedikit sekali.

“Kak, jangan anggap ini sebagai ujian, anggap ini sebagai nikmat ya kak.. Insya Allah, ini nikmat kak..Saya izin tutup dulu ya, saya mau lanjut mengajar ngaji”, begitu jawab Kak Intan. Singkat, tidak jelas, dan entah padat atau tidak. Setidaknya itu kesan pertama saya. Saya terdiam sekian menit. Baru saja saya mendapat kabar tak mengenakkan, diagnosis dari dokter yang membuat saya dan suami berpikir langkah-langkah ke depan bagaimana, berpikir apakah Ufaira sanggup bertahan atau tidak, hingga mencari berbagai sumber terkait orang-orang yang punya pengalaman serupa. Apa itu komentar menghibur yang cukup panjang? Adanya malah pernyataan singkat yang membingungkan. Saya pun melangkahkan kaki dari mushola, kembali ke ruang PICU. Sepanjang jalan, sampai kembali duduk di samping tempat tidur Ufaira, saya dibuat berpikir atas kata-kata Kak Intan tadi.

Bagaimana Menerima Ujian sebagai Kenikmatan?

Dalam waktu yang demikian singkat tadi, proses echo (USG jantung) sampai saya dan suami mendapatkan penyampaian oleh dokter terkait kondisi Ufaira, saya belum mengabarkan apa-apa pada saudara. Benar-benar setelah shalat Ashar, yang terpikir adalah menghubungi Kak Intan. Begitu kembali ke ruang PICU, baru kemudian saya mengirim pesan singkat ke Kak Diyah, kakak yang pas di atas saya. Sebenarnya lebih kepada sedang bingung, oleng, banyak pikiran, dan saya butuh waktu untuk istirahat sejenak. Mencerna semua ini. Saya kirimlah pesan pada Kak Diyah, tidak ada basa basi, langsung bertanya: “Bagaimana caranya menerima ujian sebagai kenikmatan?”

Kakak saya membalasnya dalam beberapa kalimat:

Beriman dengan Qada dan Qadar Allah. Bahwa segala sesuatu terjadi atas izin Allah. Menerima, sabar, dan ikhlas atas segala ketetapan Allah. Banyaknya ujian menjadikan hamba semakin dekat sama Allah, kesempatan mendapat pahala berlimpah. Bukankah ini yang didambakan seorang hamba? Dekat dengan Rabbnya?

Jawaban yang cukup panjang yang dipecah dalam beberapa kali kiriman pesan. Setelahnya, kami mengobrol lewat telepon cukup lama. Oh ya, saat itu, Kak Diyah sedang dalam perjalanan, ia bercerita, bahwa apa yang disampaikannya tadi adalah hasil obrolannya dengan pengemudi taksi Blue Bird Lombok, ya.. bapak driver itu yang menjelaskan bagaimana menganggap ujian sebagai nikmat.

Benar, Cinta dari-Nya Tidak Terbatas

Pertama kali mendengar diagnosis bahwa Ufaira mengidap penyakit jantung bawaan di tanggal 27 Desember 2023 lalu, mendapatkan kalimat singkat dari Kak Intan untuk menganggap ini sebagai nikmat, Alhamdulillah perlahan saya belajar memahami. Betapa benar apa yang disampaikan Kak Intan kala itu, yang dijelaskan oleh Kak Diyah- pun driver taksinya, tentang ini adalah nikmat. Betapa saya jadi lebih dekat dengan Allah, betapa dalam 24 jam sehari- berkalikali besar sekali saya menaruh harap padaNya, betapa ketika saya bingung ketika itu pula Allah berikan petunjuk, sampai kepada ketika saya terpikir ingin sekali makan nasi padang, eh ada seorang keluarga datang menjenguk membawa nasi padang. Masya Allah..benar, cinta dari-Nya tidak terbatas.

Cerita tentang perjalanan Ufaira selama sakit hingga akhirnya dirujuk ke surga, hingga hari-hari setelah Ufaira tidak lagi di dunia, sungguh panjang. Bagi saya pribadi, ini adalah perjalanan spiritual yang luar biasa. Saya pun teringat yang disampaikan Kak Intan, menanggapi diagnosis awal yang saya terima, ketika saya merasa bahwa itulah ujian terberat saya. Padahal hari-hari setelahnya, berkali-kali saya tiba di titik-titik lonjakan demikian hebatnya, yang membuat saya berpikir, ujian diagnosis di awal dulu benar-benar hanya awal.

Ujian Demi Ujian, Adalah Nikmat Demi Nikmat

Setelahnya, kami dihadapkan pada kondisi Ufaira yang ada saja ujiannya. Berulang kali masuk rumah sakit, di rumah hanya 1-2 hari saja. Berkali-kali kondisinya menurun. Dihadapkan pada diagnosis tambahan bahwa ada satu lagi kondisi penyakit jantung bawaan lainnya, dari sebelumnya terlihat VSD dan PDA, ternyata ada pula IAA. Di mana jenis IAA ini adalah jenis yang berat luar biasa. Untuk menegakkan diagnosis IAA, Ufaira harus menjalani CT Scan Angiography, hingga ujian lainnya ketika saturasinya turun hingga di angka belasan. Berkali-kali, bagi kami- mungkin Ufaira nyaris pergi. Tapi kematian itu hak prerogatif Allah SWT kan? Kalau belum waktunya, ya belum.

Saya sampai nyaris bingung bagaimana mengelola hati dan pikiran ini. Ujian demi ujian datang menghampiri, kemudian saya teringat, ini berarti, saya pun mendapatkan nikmat demi nikmat. Dan benar, betapa cinta dari-Nya tidak terbatas, dalam perjalanan yang serasa naik roller coaster itu, saya dihadapkan pada nikmat bisa dekat dengan Allah. Nikmat bisa melihat banyak sekali pertolongan Allah. Melihat bagaimana berkali-kali saturasi Ufaira sangat rendah, bisa kembali ke angka terbaiknya: 100.

Saya kemudian berpikir, Allah menitipkan Ufaira, memberikan kesempatan 3 bulan lebih bersamanya. Sebagai sebuah cerita yang indah sekali, yang memberikan banyak pelajaran, yang menjadi sebuah perjalanan spiritual yang luar biasa, yang meninggalkan jejak kebaikan, bekal bagi saya untuk terus belajar menjadi baik. Masya Allah.

Biasa dipanggil Andy. Pernah tinggal lama di Makassar dan sekarang di Mataram, Lombok. Ngeblog sejak 2007. Senang kulineran, staycation, kopdaran di cafe, browsing produk di toko online tapi gak beli, dan tentu saja...senang menulis :) Bisa dikontak di andyhardiyanti@gmail.com

16 Comments

  • Fanny_dcatqueen 25 March 2024 at 5:22 am

    Pastilah susah di awal utk bisa menganggap sebuah ujian sebagai nikmat. Tapi memang setelah kita bisa menerima qada dan qadar allah, paham dan bisa menerimanya dengan ikhlas juga lapang dada, dan jika yakin bahwa semua yg terjadi sudah tertulis di lauful mahfudz, InsyaAllah pasti bisa menganggap itu semua sebagai nikmat allah.

    Peluk mba Andy.. Allah tahu mba kuat, karena itu diberi ujian dan nikmatnya sekaligus.

    Reply
  • Abadi 28 March 2024 at 8:50 pm

    Alhamdulillah…. (ini kata yg tetap “paling” tepat) dalam setiap kondisi dan situasi. Susah, senang, suka, duka, sakit maupun sehat. Selalu dimulai dengan alhamdulillah.
    Tapi dalam situasi ini abadi mungkin belum sanggup (membayangkannya saja abadi bisa sedih bahkan menangis), membayangkan kondisi ananda Ufaira yg terbaring lemah. Cerita sekilas dari ayahnya saja abadi bisa rasakan bagaimana situasinya.
    Kk Tutut, terimakasih untuk “ilmu” barunya, ujian menjadi nikmat ini sungguh mengetuk pintu hati, betapa besar “ego” kita untuk sesuatu cinta, Allah memberikan ganjaran pahala berlimpah dari ujian ini kita maknai sebagai nikmat dari Allah dan sebagai tanda cinta dari Allah. Kalembo ade kk Tutut, mohon maaf lahir dan batin, titip sayang buat anak anak semuanya.

    Reply
  • Maria G 28 March 2024 at 11:31 pm

    Saya pernah mengalami apa yang dialami Mbak Andy Hardiyanti
    Dokter udah bilang, kita tunggu keajaiban, bapak dan ibu berdoa saja

    Ternyata ketika kita melihat dari sudut sebagai rahmatNya
    Muncul keikhlasan dan terasa nyaman banget

    Reply
  • Annie NUGRAHA 29 March 2024 at 6:36 am

    Bergetar saya bacanya Mbak Andy. Sungguh sebuah nikmat dari setiap ujian yang diberikan kepada kita. Allah Subhannahu Wata’ala tentunya memberikan kesempatan pada kita untuk lebih dekat padanya dan mengalamani setiap proses ujian karena sesungguhnya kita mampu untuk melewatinya.

    Alfatihah untuk Ufaira. Semoga ananda tercinta sudah tidak sakit lagi dan sedang berbahagia bermain di rumahNya. Kelak, suatu saat, Ufaira akan menyambut orang tuanya untuk berada di surga bersamanya.

    Semoga Mbak Andy, suami, dan ketiga kakak Ufaira selalu ikhlas dan bersabar.

    Reply
  • Bambang Irwanto 29 March 2024 at 11:54 am

    Seperti yang selalu say dengar dan baca, Allah SWT tidak akan memberi ujian di luar batas kemampuan hamba-NYA. Ada juga yang bilang, saat ada ujian, berarti Allah sayang pada kita. Dan setuju sekali, kalau semua dianggap sebagai nikmat dari-NYA. Terus semangat Mbak Andy. Insya Allah akan diberi hal-hal indah dari-NYA.

    Reply
  • Kang Sugianto 29 March 2024 at 12:18 pm

    Terkadang kita seringkali melihat hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita sebagai ujian, padahal terkadang kita juga diuji dengan kenikmatan yang Allah berikan. Maka kunci dalam setiap keadaan adalah senantiasa bersyukur, dan Tuhan tahu yang terbaik bagi kita. Sabar dan ikhas ya, Mbak

    Reply
    • nurul rahma 29 March 2024 at 3:21 pm

      Al-Fatihah untuk bidadari surga.

      Ufaira siap memyambut kedua ortunya yang sabar dan ikhlas, menerima nikmat dari-NYA.
      masya Allah..makasi udah sharing ya mba

      Reply
  • Fenni Bungsu 29 March 2024 at 12:19 pm

    Jadi terinspirasi kak,
    karena memang iya sih menerima ujian lalu dianggap sebagai kenikmatan itu gak mudah pastinya. Namun dengan dukungan banyak pihak, hal tersebut pun bisa ya dilakukan

    Reply
  • Sarieffe 29 March 2024 at 3:09 pm

    MasyaAllah…
    Saya juga tengah diuji Allah kak,
    Seringkali berpikir kalau ujian ini sangat berat dan susah menganggap ini adalah nikmat dan tentunya hikmah. Membaca cerita dari kak Andy rasanya saya malu, karena belum bisa menganggap ujian dari Allah ini sebagai nikmat..alfatihah untuk Ufaira

    Reply
  • Siti Nurjanah 29 March 2024 at 4:10 pm

    Turut berduka cita ya mba atas kepulangan Ufaira, Insya Allah surga menanti. Si kecil tak lagi merasakan sakit dan sudah berada di sisi Sang Pencipta. Itu yg terbaik, semoga keluarga yg ditinggal di beri keikhlasan.

    Reply
  • Dian 29 March 2024 at 4:31 pm

    Turut berduka ya mbak
    Semoga mbak sekeluarga selalu diberi kesabaran dan keikhlasan
    Menjalani semua takdir dari Allah
    Cobaan dianggap sebagai kenikmatan

    Reply
  • lendyagassi 29 March 2024 at 5:03 pm

    Kak Andy, terima kasih sudah berbagi melalui tulisan. Sejujurnya, orangtua mana yang kuat kalau itu ujiannya di anak yaa..
    Tapi ka Andy berhasil melewatinya dan semoga semakin kuat, kak Andy semakin “menemukan” makna yang Allah limpahkan ke keluarga ka Andy.

    Mohon maaf kalau kata-kata ku kurang berkenan, kak Andy.
    Peluk sayang darikuu.. teruntuk ka Andy yang sudah memiliki sebuah rumah di surga.

    Reply
  • shinta 29 March 2024 at 5:04 pm

    mba turut berduka cita ya, ikut sedih atas kehilangannya mba, semoga mba sekeluarga diberikan kekuatan ya mba untuk menjalaninya. stay healthy ya mba

    Reply
  • Gemaulani 29 March 2024 at 5:19 pm

    Rembes air mata saya bacanya kak, turut berduka atas kembalinya ananda Ufaira kepemilik-Nya. Peluk virtual untuk kak Andy. Terima kasih sudah berbagi ceritanya melalui artikel ini. Karena artikelnya jadi pengingat saya yang sering menerima sakit sebagai ujian, padahal menganggapnya sebagai nikmat rasanya lebih baik ya. Soalnya pas sakit saya juga jadi lebih dekat dengan Tuhan dan punya waktu untuk istirahat dengan benar.

    Reply
  • Diah Woro Susanti 29 March 2024 at 6:31 pm

    Baca tulisan ini di sore hari pas hujan jelang maghrib, aku tersentuh banget mba. Peluk mbak Andy dulu ah. Tetap semangat dan baik sangka sm Allah 🙂

    Reply
  • Lia Lathifa 29 March 2024 at 9:02 pm

    Peluk buat mba Andy, semoga semakin ikhlas ya, semoga bertemu lagi dengan Ufaira di surga nanti. Alfatihah, benar anggap ini adalah nikmat, bahkan mba sudah ada tabungan surga yang nyata. Terimakasih sudah cerita, ikut belajar gimana menata hati saat kehilangan

    Reply

Leave a Comment