Ketika berkunjung kembali ke Balikpapan (setelah 12 tahun berselang), ada banyak sekali yang berubah dari kota ini. Pusat perbelanjaan bertambah, bangunan Islamic Center sudah berdiri demikian indahnya, dan satu hal yang saya suka serta tak sabar untuk mencoba: Balikpapan City Trans atau Bacitra. Bus modern dengan jenis bus rapid trans ini serupa bus TransJakarta, Suroboyo Bus, Trans Mamminasata, Trans Metro Dewata, dll. Dari daftar tersebut, saya baru pernah naik Trans Metro Dewata di Bali, itulah mengapa saat tahu di Balikpapan pun ada, ah saya penasaran untuk segera menjajalanya.
Soalnya setiap kali jalan-jalan di Balikpapan, transportasi yang digunakan ya hanya sepeda motor. Pernah sih sekali naik taksi, baik taksi Blue Bird dari bandara maupun taksi alias angkot (angkot di sini disebut taksi). Terbayang, bagaimana sih serunya naik bus di jalanan Balikpapan yang ketinggian naik turunnya gak kira-kira itu? Atau sekadar pengen ngerasain sensasi eksplor Kota Minyak tanpa mengendarai sepeda motor.
Koridor Balikpapan City Trans (Bacitra)
Agak bingung sih sebenarnya, karena berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari portal berita tuh koridor Bacitra ada 3 yaitu A, B, dan C. Sedangkan ketika melihat posisi bus secara real-time di aplikasi Mitra Darat, ya hanya ada koridor A dan B (seperti pada gambar di atas). Kalau dilihat sepintas pun, koridor B bisa tuh dipakai menuju Balikpapan Islamic Center. Eh fokus fokus… Oh ya, singkatnya koridor A di sini rutenya dari Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (Bandara Sepinggan) ke Pelabuhan Semayang Balikapapan. Kemudian untuk koridor B dan C sama-sama dari Terminal Batu Ampar ke Jalan Jenderal Sudirman, yang membedakan yaitu koridor B via Jalan MT Haryono, sedangkan koridor C via Jalan Ahmad Yani.
Awalnya ya memang tidak ada rencana mau apa ke mana. Inginnya ya anak-anak ini merasakan pengalaman naik BRT (soalnya di Lombok gak ada). Saran dari kakak sih, pun mempertimbangkan si ponakan yang baliknya nanti harus mampir ke sekolahnya lagi, akhirnya kami berencana ke Pantai Melawai. Di mana bus yang digunakan adalah bus koridor A, pas banget karena halte terdekat dari rumah ya emang koridor ini, tepatnya di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (Bandara Sepinggan).
Tarif Bacitra
Bus yang resmi hadir di Balikpapan sejak 1 Juli 2024 ini, saat kami gunakan di bulan April 2025 lalu, masih memberlakukan tarif Rp0,-. Dengan catatan, hanya menerima pembayaran menggunakan kartu uang elektronik (e-money, flazz, brizzi, TapCash, dll). BTW, setelah cek di akun instagram @temanbusbalikpapan, sampai sekarang pun masih gratis eh Rp0,- lho! Hahahah. Jadi tarif Bacitra berapa? Masih Rp0,- sampai ada pemberitahuan lebih lanjut.
Jam Operasional Balikpapan City Trans
Berdasarkan informasi terbaru di akun instagram @temanbusbalikpapan , jam operasional Bacitra yakni dari pukul 05.30 hingga 21.30. Tentunya dengan tetap menyesuaikan ritase tiap koridor bus yaa…
Bayar Bacitra Pakai Kartu Uang Elektronik
Ada cerita lucu nih, jadi saat di Lombok, saya ingat banget punya banyak kartu uang elektronik (biasanya dapat dari giveaway, merchandise, dll). Saya pikir sudah membawa semuanya. Kemudian saya sadar kalau kartu-kartu itu ada di tas lainnya, ya tidak tahu juga bahwa di Balikpapan sudah ada BRT. Alhamdulillah pak suami punya 2 kartu, wah kurang 3 nih (kami pergi berlima). Eh dapat kartu pinjaman dari saudara, ada 2 kartu. Oke, tinggal 1. Tahukah kawan? Saya keliling motoran sama ponakan, mencari kartu itu dari satu bank ke bank lainnya, satu indomaret ke indomaret lainnya, pun satu alfamart ke alfamart lainnya. Tidak ada dong! Kosong semua. Ckckck, tidak pernah segemas ini mencari kartu. Hahaha.
Kebayang kartu uang elektronik yang banyak di Lombok itu. Huhuhu. Terus bocah pun gak mungkin pergi tanpa saya dampingi. Gak mungkin pula membatalkan salah satu diantara mereka. Alhamdulillah, setelah drama mencari kartu uang elektronik, seorang ponakan yang saat itu lagi ngantor mengabarkan bahwa dia punya satu kartu. Yeay! Jadi deh!
Dari Bandara ke Banua Patra
Dari rumah, kami naik taksi online menuju halte terdekat di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (Bandara Sepinggan). Balikpapan sedang terik-teriknya kala itu. Sayangnya pula, halte di depan bandara ini ya sekadar tempat tunggu saja, tidak ada tempat duduk maupun berteduh. Challenging juga menunggu Bacitra di sini, karena unitnya berangkat dari terminal bandara. Sederhananya, unitnya sudah ada di depan mata, tapi ya belum sampai ke halte kita saja, jadi belum bisa dinaiki.
Bagaimanapun juga, senang sih karena masyarakat antusias sekali mencoba moda transportasi umum yang satu ini. Terlihat ketika kami akhirnya harus rela naik bus berikutnya, setelah sebuah rombongan menaiki bus yang kami tunggu tadi. Kalau memaksa naik bus itu, hanya bisa 3 orang terangkut, maka kami putuskan untuk menunggu unit bus berikutnya.
Untuk koridor A keberangkatan bandara, rutenya adalah sebagai berikut: Bandara SAMS Sepinggan-Hotel Grand Tjokro-Gang Mawar-Masjid Al Aqsha-SMPN 10-Taman Makam Pahlawan-Trakindo-Rutan Balikpapan-Balikpapan Superblok-Balikpapan Permai-ACE Hardware-Samsat Markoni-DKK-Pasar Baru-Simpang Plaza Balikpapan-Blauran-Pasar Klandasan-SD Bhayangkari-Bank Indonesia-Banua Patra-Pelabuhan Semayang. Mengingat tujuan kami adalah Pantai Melawai, maka kami turun di halte terdekat, yaitu halte Banua Patra, yang berjarak sekitar 500 meter dari tempat tujuan kami. Sebenarnya dekat sih, tapi mengingat hari itu panas terik, tidak ada pohon pula, jadi ya berasa capeknya.
Bersantai di Pantai Melawai
Setelah berjalan kaki sebentar, akhirnya kami tiba di Pantai Melawai. Konsepnya sepintas mirip Pantai Losari di Makassar. Bukan pantai untuk berenang, melainkan sekadar lihat laut sambil duduk santai menyantap minuman/makanan. Pembedanya ya kalau Pantai Losari tuh panjang, sedangkan Melawai ya sepelemparan mata saja. Kami memesan minuman saja, mengingat cuaca terik yang dilalui tadi, pun belum banyak pula penjual yang membuka lapaknya. Segelas es jeruk, es coklat, dan es teh, sudah cukuplah menyegarkan tenggorokan kami.
Berbeda dengan jalan dari halte Banua Patra ke sini, di Pantai Melawai cenderung lebih teduh. Banyak pepohonan di berbagai sisinya. Tinggal pilih, mau duduk di sisi mana. Kami memilih duduk di salah satu sisi yang langsung menghadap ke laut, dan senang sekali ketika melihat ada kapal Pelni melintas, ya gak heran sih karena lokasi kami gak jauh dari Pelabuhan Semayang. Anak-anak sampai dada dada ke kapal, excited melihat kapal laut melintas di hadapan mereka yang tengah bersantai menghabiskan segelas es coklatnya.
Ketika Ditakdirkan untuk Berjalan
Setelah merasa cukup, kami memutuskan untuk pulang. Untuk perjalanan pulang ini, rute bus koridor A adalah sebagai berikut: Pelabuhan Semayang-Melawai-Lapangan Merdeka-RS Pertamina-PNW-Kantor Pos-Terminal rasa-Gedung Parkir Klandasan-Simpang Plaza Balikpapan A-Bank BCA-Bank Danamon-Bulog-Nuansa-Asabri-Disporapar-BPJS Kaltim-SD 007 Balikpapan Selatan-Bandara SAMS Sepinggan. Senang dong, karena gak perlu jalan lagi. Tinggal naik bus dari halte Melawai. Tapi sayangnya tidak demikian, rasanya kami ditakdirkan untuk berjalan (lagi). Kali ini sampai halte di Lapangan Merdeka.
Entahlah, mengapa pula bus-bus ini tidak berhenti di halte Melawai? Malah pada ngumpul semua di Lapangan Merdeka. Huhuhu. Epicnya lagi, ketika sampai di sana, kami diminta untuk naik di bus yang paling depan saja, unit-unit di belakang pada mau istirahat dulu katanya.
Kesan Pertama Kali Naik Balikpapan City Trans
Lantas bagaimana kesan saya setelah mencoba Balikpapan City Trans atau Bus Bacitra untuk pertama kalinya? Namanya kesan, ada kesan baik dan kesan buruk ya. Mengingat ini jenis BRT kedua yang saya coba (sebelumnya Trans Metro Dewata) jadi ya wajarlah kalau ada saja yang dibandingkan. Secara umum, interior bus dalam kondisi baik dan bersih. AC tidak begitu dingin, kondisinya saat berangkat, isi bus hanya kami berlima, dan saat pulang, bus terisi penuh. Dengan dua kondisi yang berbeda itu, saya rasa suhu AC masih belum cukup dingin. Ini menurut saya yaa. Kemudian, jika dibandingkan dengan TMD, suara announcer di Bacitra terbilang kecil volumenya, intonasinya pun terlalu lembut. Jadi kalau tertidur, ya mungkin tidak akan terbangun/tidak terkaget-kaget amat ketika bus tiba di salah satu halte.
Untuk proses tap kartu (pembayaran), mengingat unit ini masih baru bagi masyarakat Balikpapan, saya salut sih sama driver yang sabar menjelaskan pada penumpang untuk tenang dalam melakukan tap kartu. Memastikan penumpang memposisikan kartu dalam posisi yang pas, sehingga biaya Rp0,- sukses terbayarkan.
Bahagia sekali melihat banyaknya anak sekolah pun ASN yang naik bus ini dalam perjalanan pulang kami menuju halte Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (Bandara Sepinggan). Semoga dengan demikian, pemerintah bisa mempertimbangkan untuk membuka lebih banyak jalur baru kedepannya. Jadi apakah saya akan naik bus Balikpapan City Trans lagi saat ke Balikpapan nanti? Jawabannya, ya tentu!













wah sayangnya udah ndak ada lagi kah taki ada tipinya 😀
Seru juga nih naik BRT Balikpapan City Trans. Armadanya juga terawat dengan baik. Sayangnya gak pakai uang cash. Kalau di Trans Jogya masih terima uang cash. Next time kalau ke Balikpapan, pengen nyobain BCT.
Kenapa lah tak bisa uang cash… Sy orang kampung dari pedalaman kan gak punya e-money…😭