Pengalaman Naik Kapal PELNI KM Tidar dari Surabaya ke Makassar

kapal pelni km tidar

Bagaimana rasanya ketika akan naik kapal lagi setelah 13 tahun berselang? Lebih tepatnya kapal PELNI, kapal laut jarak jauh milik pemerintah. Terlebih lagi, ini perjalanan pertama dengan rute dan unit kapal yang berbeda, yang belum pernah digunakan sebelumnya. Tentu saja excited! Setidaknya itulah yang saya rasakan ketika berencana berlayar bersama putri kedua saya, pada akhir Agustus 2025 lalu. Ada rasa penasaran, apa yang terjadi setelah belasan tahun saya tidak mencoba moda transportasi yang satu ini. Tentu saja saya membayangkan bahwa kapal-kapal serta sistem yang berada di bawah perusahaan plat merah ini sudah berkembang dengan baik.

Menuntaskan Rasa Penasaran Setelah 13 Tahun Tidak Naik Kapal

Lihat foto pembuka di atas? Itu foto KM. Tidar saat hendak sandar di dermaga Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Foto apa adanya, tidak saya edit sama sekali, saya memotretnya dari balik ruangan terminal penumpang. Besi-besi di foto tersebut rupanya adalah garbarata kapal laut. Wow! Kok wow? Soalnya dulu saya hanya mengenal tangga pelabuhan, yang besar, ada rodanya (bisa dipindahkan sana sini), dan ada penutup di atasnya. Selain itu, tangga lain yang digunakan untuk naik ke kapal adalah tangga darurat (atau tanggal milik kapal, memang ada di kapal tersebut), yang langsung mengarah ke dek 5. Wow gak tuh, sekarang yang pakai garbarata tak hanya pesawat, tetapi juga kapal.

Sebenarnya saya sudah takjub jauh sebelum momen ini. Kekaguman saya akan perkembangan PT. Pelayaran Nasional Indonesia atau PELNI hadir sejak mengetahui bahwa pesan tiket sekarang bisa lewat website maupun aplikasi PELNI. Tidak ada lagi tuh momen mesti ke agen atau kantor cabangnya untuk membeli tiket fisik berwarna-warni. Warna untuk tiket dewasa ekonomi itu hijau, kelas 1 merah, kelas 2 ungu, kemudian anak-anak pink, dan bayi berwarna abu-abu/putih. Heiyy, saya masih ingat hahaha. Coba pada komen wahai teman-teman yang dulu biasa naik kapal laut.

Cara Memesan Tiket Kapal PELNI via Website

Ini merupakan rangkaian perjalanan saya dari Lombok ke Makassar bersama Tita-anak saya. Saya sudah cerita sebelumnya bahwa sejak awal saya berniat mengajaknya naik kapal. Dimulai dengan naik kapal dari Lombok ke Surabaya (iya, yang itu kapal swasta), kemudian lanjut dengan KM Tidar. Tiket kapal saya pesan H-2, tepat saat ada kepastian saya jadi berangkat ke Surabaya. Terbilang nekat sih, syukurnya masih dapat, soalnya untuk diketahui bahwa urusan beli tiket kapal ini sudah macam war tiket konser saja. Telat dikit, habislah tiket-tiket incaran kalian.

Memangnya tiket apa yang perlu diincar? Awalnya saya mikir gitu. Toh sama saja. FYI, rupanya sejak 2015, seluruh unit kapal PELNI (selain 3 kapal yang entah kapal apa saja itu, nanti saya cari infonya), dibuat jadi kelas ekonomi semua. Menariknya, berbeda dengan sebelumnya (nomor tempat tidur gak ada gunanya alias rebut aja), sekarang setiap pembelian tiket sudah dilengkapi dengan nomor tempat tidur/kabin yang memang benar-benar untuk kita. Kecuali penumpang dengan keterangan no seats, baru deh tuh ngemper atau cari tempat lagi.

Pesan tiket pelni

Oke, lanjut ceritanya dulu ya. Saya langsung mengakses situs https://www.pelni.co.id/reservasi-tiket, ilustrasinya kurang lebih seperti gambar di atas. Untuk pembelian tiket sepertinya hanya dibedakan menjadi laki-laki, perempuan, dan bayi. Jadi bukan dewasa, anak-anak, dan bayi yaa. Mungkin agar bisa diatur posisi tempat tidurnya, agar tidak berdekatan laki-laki perempuan kalau bukan keluarga.

Kalau sudah mencari jadwal dan tiket tersedia, tinggal dipilih saja, isi data diri penumpang (nama, NIK, email, dll), lalu pilih metode pembayaran. Pembayaran bisa dengan virtual account bank, retail/minimarket, maupun dompet digital. Saya memilih membayar menggunakan dompet digital i.Saku. Prosesnya sat set, gampanglah dimengerti. Setelah proses pembayaran selesai, kita akan mendapatkan kode booking serta e-ticket yang dikirimkan ke alamat e-mail.

km tidar

Mengenal KM. Tidar, Kapal Legendaris di Armada PELNI

Tiket sudah ada, saya pun sudah tiba di Surabaya sejak semalam. Jadwal keberangkatan saya waktu itu tanggal 30 Agustus 2025, pukul 16.00 WIB. Saya sudah tiba di Pelabuhan Tanjung Perak sejak pukul 12 siang, tentu saja ini saran dari teman-teman. Setidaknya untuk menghindari kemacetan dan waktunya pun pas dengan harus check out dari hotel. Aih, tak sabar rasanya kembali naik kapal, memotret setiap sudut di dalamnya, kapal yang dulu sering sekali saya naiki sekitaran tahun 90an. Ketika seorang Andy Hardiyanti kecil ikut bersama ibunya, dari Makassar (dulu Ujungpandang) ke Bima, Makassar-Ambon, Makassar-Kupang, Makassar-Lembar, pun sebaliknya. Anak kecil yang bahkan sudah dikenal oleh sebagian Anak Buah Kapal (ABK) karena mana pernah mau diam, hobinya ke sana sini, lengkap dengan buku, alat tulis, mainan, dan camilannya. Sayangnya, tak ada kamera untuk merekam itu semua. Ada: memori di kepala.

Rute, Harga, dan Jadwal KM. Tidar

Panjang sekali cerita saya, padahal yang di atas itu, tidak ada tentang KM. Tidar. Menurut keyakinan saya, eh seingat saya, kami tidak pernah sama sekali naik armada yang satu ini. Jadi KM. Tidar benar-benar hal baru bagi saya, bukan itu saja, bahkan rute kali ini, Surabaya-Makassar- pun adalah rute terbaru dalam sejarah saya naik kapal PELNI. Informasi yang bisa saya dapatkan ya paling dari situs web PELNI, bahwa kapal ini bahkan lebih tua dari usia saya, lebih tepatnya dibuat pada tahun 1986 dan telah berusia 39 tahun. Di mana kapal ini melayani rute Kijang – Tanjung Priok (Jakarta) – Surabaya – Makassar – Bau-bau – Maumere – Larantuka – Kupang (PP).

Untuk harga tiket KM. Tidar Surabaya-Makassar yakni Rp357.500,- per orang (dewasa maupun anak-anak), sudah termasuk makan 4 kali. Adapun lama perjalanannya yakni 1 hari 9 jam (atau 33 jam). Terkait jadwal kapal sendiri saya kurang tahu ya, pastinya lebih baik cek situs web PELNI atau agen terdekat, menginat kapal begini sering tak tentu jadwalnya, ada pula jadwalnya harus docking (pemeliharaan).

antri cetak tiket

Prosedur Boarding di Pelabuhan Tanjung Perak

Begitu tiba di pelabuhan, saya langsung menuju terminal penumpang yang belakangan saya ketahui bernama Gapura Surya Nusantara (GSN). Saya menuju sebuah ruangan dengan tembok kaca yang menghadap ke laut. Ruangannya cukup luas, beralaskan karpet, dan di beberapa tempat ada kasur (seperti kasur kapal) dengan orang yang sedang tertidur. Penumpang lainnya ada yang sedang ngobrol, maupun menyantap makanan. Mengingat saya hanya bersama Tita, dan perjalanan ini akan cukup lama, ditambah saya pun baru pertama kali berangkat dari Surabaya, maka insting saya adalah harus sesegera mungkin mengenal 1 atau 2 orang lainnya. Pandangan saya langsung tertuju pada dua orang perempuan yang sepertinya berusia 20an, mereka adalah Febi dan Tani, sahabat yang akan bepergian ke Bau-bau. Singkat cerita, kami berkenalan, dan ngobrol banyak hal. Sudah janjian pula untuk barengan saat akan naik kapal untuk saat di kapal nanti.

Cetak Tiket PELNI dan Check In

Tak begitu lama duduk di ruangan tersebut, kapal yang ditunggu sudah tiba dan proses sandar. Kami para penumpang dipanggil masuk ke terminal keberangkatan. Wow, prosesnya benar-benar seperti naik pesawat. Saya pun baru tahu bahwa selain pemesanan via aplikasi PELNI, maka statusnya kita baru pegang kode booking- bukan tiket. Jadi harus antri dulu pada mesin cetak tiket, agar mendapatkan tiket fisik. Huhuhu padahal saya pesannya via website lho, kirain bakal mendapatkan proses yang sama.

Setelah tahapan tersebut, barulah kita benar-benar masuk ke dalam terminal keberangkatan pelabuhan. Saat masuk, barang-barang akan melalui X-ray Baggage Scanner. Apakah sudah bisa masuk kapal? Tentu belum! Kami harus menuju loket untuk proses check in. Tahu apa yang ada dalam benak saya? Takjub! Dengan proses yang demikian modern ini (eh modern gak sih?) sudah kebayang dong gimana saat di atas kapal nanti? Ya setidaknya bagi saya yang dulu menjadi penumpang era tiket warna warni yang cara ceknya disobek itu wkwk.

Setelah itu? Kami akan melewati satu pemeriksaan lagi, entah tiketnya diperiksa atau di-scan gitu, lalu siap naik kapal. Tapi mengingat jumlah penumpang yang pastinya banyak, sebaiknya tunggu lowong dulu deh baru naik. Toh tempatnya di atas sudah pasti (sudah dapat nomor kabin).

Kapal tidar dek dalam

Review Kondisi Kebersihan dan Fasilitas KM. Tidar

Sayangnya saat kami berangkat, garbaratanya tidak dipasang. Jadi kami naik menggunakan tangga pelabuhan. Tak apa, toh momen ini mengingatkan saya pada tahun-tahun sebelumnya. Tangga ini menuju pintu kapal di dek 4, saya ingat sekali, dulu di tengah panasnya sinar mentari di darat terlebih karena berkutat dengan ramainya buruh angkut, maka satu langkah pertama saat memasuki kapal akan berbeda. Rasa sejuk dari AC langsung terasa, padahal itu dek 4, yang notabene masih termasuk dek kelas ekonomi (jadi kelas 1 dan 2 dulu tuh berada di dek 5) lebih eksklusif lah… Tapi saat itu saya langsung sadar, lho? mana nih sejuknya? Saya masih optimis, oh mungkin karena masih ramai banget.

Oh ya, saya dan Tita mendapatkan tempat di dek 2, sementara dua teman kami terpecah (Febi di dek 5, dan Teni berstatus no seats). Iya, Teni, perempuan dari Tegal yang akan ke Bau-bau bersama sahabatnya, dan ya ini adalah kali pertama dia naik kapal.

Kondisi Kebersihan

Dari dek 4, kami segera menuju dek 2. Masih teringat saya kecil dulu, selalu eksplor seisi kapal. Jadi gambaran saya ya sedikit banyak seperti itu. Kondisi tempat tidur ekonomi dengan banyak penumpang dan barang. Selama berjalan menuruni tangga menuju dek 2, saya menyadari bahwa sudah lama sekali tidak bepergian dengan kapal plat merah ini. Banyak bagian yang terlihat tidak terawat, kebersihan yang sungguh perlu ditingkatkan (baik dari segi kesadaran penumpang maupun perawatan rutin dari perusahaan). Terkhusus di dek 2 tempat saya seharus beristirahat selama 33 jam ke depan, Subhanallah sekali sirkulasi udara. Sungguh menjadi tantangan luar biasa. Ya, kami akhirnya sampai di dek 2, di kabin 177A dan 178A sebagaimana yang tertulis pada tiket saya dan Tita. Rencananya, saya mengajak Teni ikut serta bersama kami.

Namun tanpa berpikir lama, saya putuskan untuk mencari tempat lain. Rasanya tak masalah kalau perjalanan ini melibatkan saya sendiri, tapi kalau dengan si kecil, ini terlalu berat baginya sebagai pemula. Akhirnya saya putuskan untuk mengelilingi seisi kapal. Mencari tempat yang mungkin lebih lega untuknya, untuk kami.

indomaret km tidar

Fasilitas KM. Tidar, Dari Indomaret Hingga Mushola

Penasaran gak sih jadinya kami menghabiskan waktu 33 jam dengan duduk di mana? Dek berapa? Bagaimana kami berusaha berdamai dengan situasi yang ada? Oke, nanti ya. Jadi dari dek 2, sembari mencari tempat, saya jadi melihat bagaimana kondisi kapal berusia 39 tahun ini. Sungguh benar-benar berubah, setidaknya kalau gambaran umum kapal PELNI yang jadi patokannya. Berubah dari segi konsep kelas yang semuanya jadi ekonomi, tapi untuk fasilitas ya sama saja.

Saya mendengar ada ruang bermain game (penumpang bisa bermain playstation di sana, entah bayar berapa), ada mini teather juga (seingat saya, bayarnya 10ribu per film, jadwal filmnya diinfokan lewat pengeras suara kapal), kemudian ada klinik, kantin (yang bahkan menyediakan menu Coto Makassar), Indomaret (iya, ada Indomaret nih di atas kapal), hingga mushola (lebih cocok disebut masjid sih menurut saya, besar soalnya), dan mungkin masih ada lagi yang belum saya sebutkan.

Makanan km tidar

Cara Penyajian dan Menu Makanan Selama di Kapal

Selama berlayar dari Surabaya ke Makassar, saya mendapat jatah 4 kali makan. Sejak kapal berangkat pukul 16.00 WIB, saya mulai mendapatkan jatah makan malam yang bisa diambil mulai pukul 6 sore (waktu kapal). Syaratnya cukup membawa tiket dan mengantri di pantry di dek 4. Tita excited sekali mengantri bersama kak Febi dan Teni, sedangkan teman kami lainnya biasanya menunggu sepi dulu baru ke sana. Dalam sepaket menu makan, terdiri dari nasi, lauk protein, sayuran, kerupuk, air mineral, dan susu kotak/teh buah kotak. Alhamdulillah disajikan dengan baik, bersih, dan enak. Kalau dulu tuh ditaruhnya pada nampan aluminium (orang menyebutnya seperti dikasi makan di dalam penjara hahaha).

mushola km tidar

Mushola yang Tetap Terjaga

Di balik segala kondisi kapal yang dar der dor serunya. Saya bersyukur sekali bisa mendirikan shalat di dalam mushola yang luas, bersih, ACnya dingin, peralatan shalatnya lengkap, tempat wudhu laki-laki dan perempuan yang benar-benar terpisah. Masya Allah. Rasanya kayak, ya udah deh, gimana pun kondisi di luar, yang penting bisa shalat dengan nyaman, rasanya tuh nikmat banget. Tapi tetap ya guys: kebersihan adalah sebagian dari iman. Yuk ah jaga kebersihan kapalnya!

Sunset kapal km tidar

Dek Luar Kapal dan Pemandangan yang Tiada Duanya

Lagian kenapa juga sih menyusahkan diri naik kapal laut gini? Naik pesawat aja coba. Lebih mahal emang, tapi kualitas terjamin, hemat waktu. Oh mohon maaf, ada bagian-bagian yang tidak bisa dibandingkan. Salah satunya ketika saya membawa putri kecil ini shalat maghrib, melihat bagaimana indahnya matahari terbenam, dengan POV di tengah lautan. Demikian pula matahari terbit yang menyapa usai kami shalat shubuh. Aih, dia puas sekali.

denah kapal km tidar

Dek 6 dan Sebuah Keputusan Terbaik

Setelah bergerak naik dari dek 2 ke dek-dek di atas, dari haluan ke buritan kapal, sempat pula ke kabin di dek 5 tempat Febi berada, akhirnya saya berkesimpulan bahwa makin ke atas ya makin ada udara (ya tentu saja, di bawah kan tempatnya mesin). Bukan berarti lebih bersih dan nyaman ya. Kami sempat dapat tempat kosong di dek 5, tapi tidak lama kemudian pemiliknya datang (penumpang yang sepertinya ke sana sini mencari lokasi nomor kabinnya). Tapi kalau pun tempat itu kosong, saya sepertinya tidak di sana. Lagi-lagi, saya yakin, masih ada tempat lebih baik untuk Tita, untuk kami berdua- juga Temi. Teman yang jadinya saya bawa ke mana-mana, pun Febi yang terus menemani kami.

Sampailah saya pada suatu tempat. Lokasinya di dek 6 sebuah area berkarpet dekat tangga yang merupakan peralihan dari dek 6 ke dek 7. Masih di bagian dalam kapal (saya tidak cukup berani untuk membawa Tita beristirahat di dek luar, anginnya guys!). Begitu melihat tempat tersebut, saya yakin itulah tempat yang tepat. Sirkulasi udaranya baik, dinginnya AC masih terasa (kami tidak ada AC di rumah, tidak biasa pula menggunakannya, tapi percayalah…di situasi seperti ini sangat dibutuhkan), tempatnya cukup bersih (setidaknya ditandai dengan kondisi karpet yang terawat, dan jumlah hewan kecil terbang yang berlalu-lalang itu tak sebanyak yang ada di dek bawah), dan… lebih lega.

tidur di dek 6
Di situ tempat saya, Tita, Teni, dan Febi tidur

Berkawan bersama Dek 6

Saya ingat sekali, bagaimana pertama kali menyapa seorang penumpang lain disana. Kemudian memutuskan untuk menaruh barang, duduk, dan beristirahat bersama Tita, disusul kemudian oleh Teni dan Febi yang juga lebih memilih area di dek 6 ini. Bagaimana kami survive dan akhirnya menjadikan perjalanan tersebut seru. Kami jadi punya teman baru, dari Jambi, Maumere, Gowa, Bone, Tegal, dan Bau-bau. Berbagi cerita, bercanda tawa, saling membantu, saling berbagi makanan, dan berjanji untuk kelak bertemu lagi. Ah, bagian ini akan saya ceritakan di postingan tersendiri ya.

pelabuhan makassar
Alhamdulillah tiba di Makassar

Tips Bertahan di Kapal Legendaris Agar Tetap Nyaman

Saya sempat berpikir terlalu berlebihan kaget dengan kondisi KM. Tidar, apalagi sebelumnya saya sempat melihat ulasan kapal PELNI lainnya baik dalam bentuk video maupun cerita dari mulut ke mulut. Setelah berbagi cerita dengan penumpang lainnya, respon mereka pun sama. Saya juga akhirnya tahu bahwa KM. Tidar merupakan armada kapal PELNI yang sudah sangat berumur, dan kabarnya saat kami gunakan- tak lama lagi sudah dijadwalkan untuk naik docking. Pemeriksaan rutin, perawatan, yang prosesnya biasanya memakan waktu hingga sebulan.

Sekiranya di kemudian hari teman-teman akan berlayar menggunakan kapal PELNI, terkhusus KM.Tidar, saya pengen berbagi sedikit nih tips agar teman-teman bisa menikmati pelayarannya.

  • Pilih Dek Atas sebagai Posisi Strategis, belajar dari pengalaman bahwa semakin atas deknya semakin lega suasananya (jauh dari mesin kapal). Maka saat pesan tiket, cek kembali di dek berapa kabin teman-teman berada, sekiranya di dek bawah, bersiaplah untuk langsung cari tempat duduk di dek 6 dan sekitarnya.
  • Bawa Colokan Terminal Listrik Tambahan dan Powerbank, sebab percayalah, 33 jam di atas kapal itu terbilang lama. Jangan sampai baterai hp kalian habis, tidak bisa iseng akses internet apalagi berkabar dengan keluarga. Ada sih spot colokan disediakan oleh PELNI, tapi belum tentu titiknya pas dengan tempat istirahat kalian.
  • Sedia paket data Telkomsel, buku bacaan, dan camilan, sungguh ini bukan tulisan bersponsor, tapi hal menyenangkan dari kapal PELNI adalah tidak perlu khawatir kehilangan sinyal bagi mereka yang menggunakan provider Telkomsel, karena kapal ini sudah membawa satelitnya sendiri. 33 jam di kapal, saya bisa full akses internet. Hahaha. Akhirnya bisa bangga juga jadi pelanggan si merah ini. Selain itu, jangan lupa bawa buku, juga makanan (kali aja dikit-dikit lapar). Tapi jangan sampai keseringan ke toilet ya, itu tantangan lagi wkwk.
  • Bawa Sanitary Kit Pribadi, tantangan terbesar di sana adalah soal kebersihan. Percayalah, barang-barang seperti handsanitizer, semprotan disinfektan, tisu basah, masker, serta kain untuk alas tidur akan sangat berguna. Di luar itu, ingat pula untuk membawa obat-obatan ya!
  • Penting Untuk Mengelola Ekspektasi, tanamkan bahwa bagaimana pun ini adalah moda transportasi umum dengan jumlah penumpang hingga ribuan! Sudah ada sejak bertahun-tahun lamanya, anggap sedang bertualang, dan ketika dihadapkan pada masalah/tantangan, fokus pada hal yang bisa kita kendalikan.
dek luar km tidar

Catatan untuk Masa Depan Pelayaran

Lantas apakah saya kapok naik kapal PELNI? Tentu tidak. Bisa dibilang, core memory saya bersama ibu adalah di sini. Ada rasa yang tak bisa dijelaskan dengan armada yang satu ini. Saya tetap ingin naik kapal PELNI lagi, ke tempat baru maupun lama, dengan armada yang sudah pernah saya gunakan (KM. Tilongkabila, KM. Sirimau, KM. Bukit Siguntang, KM. Doro Londa) maupun yang belum (salah satunya KM. Tidar ini). Secinta itu dengan moda transportasi ini, maka ada hal-hal yang saya jadikan catatan:

  • Pentingnya Peremajaan Armada, khusus KM. Tidar ini, siapa sangka usianya sudah hampir kepala empat. Bukankah sudah waktunya armada ini dilakukan peremajaan total, bahkan lebih baik jika diganti dengan unit baru demi kenyamanan dan keamanan penumpang.
  • Masalah Kebersihan dan Sirkulasi Udara, tidur berjejer seramai itu sebenarnya tak masalah, asal secara umum tempatnya bersih, terawat, dan sirkulasi udaranya baik. Penting adanya kesadaran dari sisi penumpang, juga ya itu tadi dari sisi pihak PELNI, apa yang harus dilakukan agar kapal ini bisa bersih, meski banyak orang. Memangnya ada kapal penumpang yang bersih? Ada… huhuhu. Tapi bukan plat merah sih, yuk bisa yuk pemerintah di atas sana. Ya balik lagi ke soal maintenance sih..
  • Upgrade Kualitas Darat dan Laut yang Sejalan, proses pemesanan tiket dan prosedur di pelabuhan sudah sedemikian naik kelas itu tentu alangkah baiknya jika dibarengi juga dengan kondisi di laut (lebih tepatnya di atas kapal) yang di-upgrade dengan standar kebersihan dan kesegaran kabin yang lebih nyaman dan baik. Kita bangsa maritim, bukan? Negara kepulauan yang sudah seharusnya memiliki moda transportasi laut yang andal.

Semoga ke depannya siapa saja bisa bangga dan bahagia naik kapal PELNI, menjadikannya pilihan utama bagi semua kalangan, dan sebagaimana kita akrab dengan lagu: nenek moyangku seorang pelaut.

Teman-teman punya pengalamn naik kapal PELNI? Kapal apa? Cerita dong di kolom komentar 🙂

andyhardiyanti

Biasa dipanggil Andy. Pernah tinggal lama di Makassar dan sekarang di Mataram, Lombok. Ngeblog sejak 2007. Senang kulineran, staycation, kopdaran di cafe, browsing produk di toko online tapi gak beli, dan tentu saja...senang menulis :) Bisa dikontak di andyhardiyanti@gmail.com

11 Comments

  • Fenni Bungsu
    Fenni Bungsu 15 February 2026 at 8:23 pm

    Sepertinya usia kapalnya ini lebih tua dari saya hehe.
    Mantap kali bisa merasakan asiknya naik kapal Pelni ini. Fasilitasnya pun apik, dan membuat nyaman.
    Saya pernah naik tapi yang dari Merak ke Bakauheni, Kak. Sensasinya pasti beda ya dari kapal yang dinaiki kak Andy ini.

    Reply
  • Guritno Adi
    Guritno Adi 16 February 2026 at 9:37 am

    Seru juga ya kak, trip Sby – Makassar via KM Tidar. Keren banget sih, jadi pingin nyoba juga naik KM.

    Reply
  • Lala
    Lala 16 February 2026 at 10:09 am

    View senja di atas kapal emang nggak ada obat, cakep banget 🤩🤩🤩 ini cerita perjalanan 33 jam yang penuh kesan sekali.

    Meski ada beberapa catatan, terutama terkait kebersihan ya. Semoga saja dibaca dan ditanggapi serius oleh Pelni.

    Semua tips perjalanan begitu detail dan aplikatif banget. Makasih banyak ya. Sharing perjalanannya.

    Reply
    • Puspa
      Puspa 4 March 2026 at 7:59 am

      Memang seru ya naik kapal. Tapi kalau baca tulisan kak Andy untuk perjalanan panjang naik kapal perlu hati-hati dalam memilih dek apalagi dengan membawa anak kecil. Semoga pihak Pelni lebih perhatian dalam menjaga kebersihan fasilitasnya. Jadi oengin naik kapal lagi. Salam hangat.

      Reply
  • Maria G Soemitro
    Maria G Soemitro 16 February 2026 at 10:51 am

    duh pinginnnn…..
    Ternyata selain naik pesawat ada opsi naik kapal
    Jadi kalo pingin solo traveling, saya dari Bandung jalan dulu ke Surabaya trus ke Makassar
    Tiketnya termasuk murah ya? Apalagi tersedia 4x makan

    Reply
  • Dessy Achieriny
    Dessy Achieriny 16 February 2026 at 11:14 am

    Pengalaman naik Kapal Pelni KM Tidar dari Makassar ke Surabaya itu berasa perjalanan panjang tapi penuh cerita. Capek iya, tapi seru—ketemu banyak orang, lihat laut lepas berjam-jam, dan belajar sabar menikmati waktu tanpa terburu-buru. Pengalaman yang sederhana tapi membekas 🚢✨

    Reply
  • Siti Nurjanah
    Siti Nurjanah 16 February 2026 at 2:23 pm

    Menggunakan kapal pelni bisa jadi altenatif utk bepergian nyebrang pulau dgn harga lebih terjangkau. Dengan seat yang sudah diatur itu lebih bagus sistemnya jadi ga rebutan. Nah utk kebersihan mesih jadi PR yg harus dibenahi tapi ga nutup juga harusnya jadi tanggung jawab penumpang juga yg mesti aware pada kebersihan fasilitas umum

    Reply
  • Dr Ayoeb Cekelee
    Dr Ayoeb Cekelee 16 February 2026 at 7:40 pm

    mantap ceritanya pengen dan rindu tuk mengulang cerita lama di kapalni, kami lupa ntah berapa kali naik pelni misalnya makassar surabaya atau sebalik bahkan pernah makassar jakarta dan takkala seru saat antri makanan, makanan kuliat saat anak sekolah dapat MBG oprennya mirip walaupun taksama

    Reply
  • Hida
    Hida 18 February 2026 at 9:15 am

    Menarik banget nih bisa ikut kapal laut hingga 33 jam perjalanan. Saya paling baru sampe nyebrang aja antar pulau belum sampe yang lama banget. Pengen juga nyobain naik kapal laut ke Surabaya dulu aja kali ya yang lebih deket.

    Reply
  • Andiyani Achmad
    Andiyani Achmad 4 March 2026 at 8:24 am

    Tulisan seperti ini penting banget buat yang masih ragu naik kapal. Detail pengalaman yang dibagikan terasa jujur dan membantu. Aku bisa membayangkan suasana laut, perjalanan panjang, dan momen-momen kecil yang bikin perjalanan terasa berkesan.

    Reply
  • Abah Raka
    Abah Raka 4 March 2026 at 1:37 pm

    Baru kepikiran aja ya, pengen traveling dan akhirnya bisa naik kapal Fery besar gitu ya, cuma traveling nyebrang pulaunya belum kesampaian yang entah kapan diwujudkannya hehe.

    Btw ini informasinya lengkap banget, jadi bisa dijadiin referensi kalo kelak terwujud listnya.

    Reply

Leave a Comment