Dari Cek Ongkir JNE, Hingga Melesat SAT SET Mengenal Indonesia

Samarinda

Setiap orang adalah guru, dan setiap tempat adalah sekolah. Demikian pula perihal belajar, saya percaya bahwa kita bisa belajar dari siapa, di mana, dan kapan saja. Seperti JNE yang memiliki semangat melayani tanpa batas. Siapa sangka saya jadi bisa lebih mengenal Indonesia dari perusahaan logistik dan ekspedisi barang yang sudah berusia 34 tahun ini?

Read more: Dari Cek Ongkir JNE, Hingga Melesat SAT SET Mengenal Indonesia

Belasan tahun lalu, saya dan suami menjalankan bisnis online. Kami berbagi tugas, suami fokus bagian produksi dan pengemasan, dan saya bertugas membalas pesan para pelanggan, termasuk mengecek ongkos kirim (ongkir) dari kota Mataram ke kota/kabupaten tujuan mereka di situs web JNE. Aktivitas ini menarik, saya jadi belajar banyak. Jadi tahu bahwa ada beberapa tempat dengan nama yang sama, beberapa provinsi memiliki nama kecamatan yang unik/punya ciri khas sendiri, dan berbagai keseruan lainnya yang membuat saya kian mengenal Indonesia, yang kemudian terangkum menjadi cerita-cerita berikut ini.

Makassar atau Makasar?

Suatu hari di tahun 2016 saya mengikuti sebuah event di tempat saya tinggal, kota Mataram, yang melibatkan peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Sebagian besar dari mereka berasal dari Jakarta. Saat sesi istirahat, saya mengobrol denga beberapa orang dari mereka. Sampailah pada obrolan yang menanyakan apakah saya dari dulu tinggal di Mataram atau baru pindah, karena-mungkin bagi mereka- logat saya tidak seperti kawan lainnya.

“Saya pindah ke Mataram sejak 2012, sebelumnya, saya tinggal di Makassar”, jelas saya.

“Oh, ya ya… Ya kan Jakarta juga”, komentar salah satu dari mereka.

“Eh bukan, maksud saya, Kota Makassar, kalau yang di Jakarta itu kan Kecamatan Makasar”, saya perjelas.

Kami pun tertawa bersama. Mungkin awalnya sekadar canda, tapi akhirnya mereka pun kagum karena saya tahu bahwa ada tempat bernama Makasar di Jakarta, tepatnya di Jakarta Timur. Mereka tidak tahu bahwa pengetahuan tersebut saya dapatkan dari pengalaman cek ongkos kirim dulu.

Betapa hati-hatinya saya saat mengecek ongkir dan memastikan memberi informasi yang benar kepada pelanggan terkait total yang harus dibayarkan. Teringat pula betapa telitinya karyawan JNE Mataram (JNE Karang Sukun tepatnya) kala itu saat menginputkan Makassar sebagai tujuannya, sebab salah pilih, akan berdampak pada salah totalan dan tujuan pula. Alhamdulillah, apa yang saya khawatirkan, tidak pernah terjadi.

Coba Tebak, Metro itu Di Mana?

Tiga bulan terakhir di tahun 2024 menjadi momen yang spesial bagi saya. Bagaimana tidak, saya terpilih mendapatkan beasiswa belajar IELTS selama tiga bulan di Denpasar. Selain berkesempatan belajar gratis, saya bisa berkenalan dengan lebih dari 40 peserta lainnya dari seluruh Indonesia. Lagi-lagi, saya sampai terheran-heran sendiri dengan aktivitas cek ongkos kirim di situs web JNE yang saya lakukan dulu, yang kemudian bisa mengantarkan saya masuk dalam obrolan demi obrolan seperti ini. 

“Oh, kak Andy dari Mataram, NTB berarti yaa. Saya tuh dari Metro, hayo, tahu gak Metro itu di mana?”, tanya seorang teman pada saya.

“Tahu dong, Lampung kan?” Kota yang nama kecamatannya tuh ada kata Metro semua, Metro Pusat, Metro Barat, Metro Selatan, Metro Timur, dan Metro Utara”, jelas saya.

Teman bicara saya tadi terpana, juga beberapa teman yang turut berada di sana. Dalam hati saya, boleh juga nih manfaatnya sering cek ongkos kirim dulu. Hahaha.

“Nah, benar kak. Saya di Lampung, di Kota Metro, kalau dia tuh di Bandar Lampung kak. Ya, jaraknya 50 km lah”, jelasnya, sambil menunjuk kawan lainnya.

Obrolan selesai, tapi kemudian saya terpikir momen di tahun-tahun yang lalu. Oh, pantas saja ongkos kirim ke daerah di Bandar Lampung dengan Metro berbeda, jaraknya lumayan juga. Lumayan jauh. Saya tahunya ya cek ongkir, kirim paket, dan paket diterima dengan baik. Tahunya ya sama-sama kota besar di Lampung, kok ongkirnya berbeda? Padahal ada roda-roda perjuangan para kurir di sana, yang berusaha agar paket tetap aman dan sampai tepat pada waktunya.

Oplus 0

Perjalanan Sampai ke Samarinda

Lebaran tahun 2025 kemarin, saya merayakannya di kampung halaman suami, di Balikpapan. Selain berkumpul bersama keluarga di sana, saya pun berkesempatan berjumpa dengan teman-teman blogger di sana. Oleh mereka, dan tentunya sudah izin sama suami yaa, saya diajak berwisata singkat (super singkat) ke Samarinda. Mumpung sudah sampai Balikpapan katanya, apalagi sekarang sudah ada jalan tol, jadi setidaknya bisa mempersingkat waktu tempuh perjalanan.

Sepanjang perjalanan, saya lebih banyak tertidur. Sampai ketika bus melambatkan lajunya, pertanda bahwa sudah keluar dari jalur tol, mata saya tertuju pada satu plang sebuah tempat. Semacam iklan yang memuat nama lokasi. Saya abaikan kata-kata di atasnya, dan fokus pada tiga kata ini: Kecamatan Samarinda Ulu. Wow, seperti tidak asing. Nama Samarinda Ulu lalu membangkitkan ingatan saya pada nama tempat lainnya, Samarinda Seberang, Samarinda Ilir, dan lainnya. Saya belum pernah ke tempat-tempat tersebut, tapi rasanya seperti dekat. Ya, nama-nama itu adalah nama kecamatan di Kota Samarinda. Belasan tahun yang lalu, saya beberapa kali mengirimkan paket ke alamat tersebut, mengecek ongkos kirim untuk alamat yang berlokasi di kecamatan-kecamatan tadi, termasuk Kecamatan Samarinda Ulu.

Siapa sangka, perjalanan saya sampai ke kota ini. Melihat megahnya arsitektur Masjid Baitul Muttaqien atau yang akrab dengan nama Islamic Center Samarinda. Masjid terbesar kedua di Asia Tenggara, yang berada di tepi Sungai Mahakam, satu dari sekian banyak bangunan yang masuk wilayah kecamatan Sungai Kunjang, kecamatan hasil pemekaran dari kecamatan Samarinda Ulu. Ya, saya memang tidak benar-benar tiba di kecamatan Samarinda Ulu, tapi tiba di sini saja, sudah bahagia rasanya. Seperti menghidupkan kembali cerita-cerita di balik sekadar cek ongkir belasan tahun lalu.

Ongkir

Kalau saya saja yang hanya berbekal pengalaman cek ongkir bisa mendapatkan banyak inspirasi dari JNE, lantas bagaimana dengan para kurir yang penuh semangat itu? Berapa banyak cerita yang mereka bawa pulang dari perjalanan paket demi paket yang mereka antarkan sampai ke tujuan? Masya Allah.

Inspirasi Tanpa Batas dari JNE: Mengantar Cerita, Harapan dan Bahagia

Aktivitas mengecek ongkos kirim di situs web JNE belasan tahun lalui itu sepintas hanya aktivitas biasa. Tapi siapa sangka, ternyata, dari aktivitas itulah, saya menyadari bahwa JNE telah menjadi bagian dari perjalanan saya mengenal Indonesia dengan cara yang cukup unik. Ya, saya jadi belajar banyak dari JNE, bahwa perusahaan ini tak sekadar mengantarkan barang, tetapi mengantarkan paket berisi: cerita, harapan, dan bahagia.

Buku Bahagia Bersama 02(1)

Paket Cerita

Cerita di balik sebuah kiriman, entah itu adalah barang dagangan, bekal dari orangtua untuk anaknya di rantauan, atau mungkin berkas penting yang mendukung seseorang menggapai masa depannya. Cerita tentang perjuangan kurir yang penuh semangat menjangkau alamat, yang bahkan tak mudah untuk kita temukan dalam peta, sampai pada cerita bagaimana perusahaan yang dulunya hanya memiliki 8 karyawan, sekarang bisa menghidupi hingga puluhan ribu karyawan yang tersebar di seluruh Indonesia. Khatam sudah saya baca kisahnya dalam buku berjudul Bahagia Bersama, karya Kang Maman dan Mice, yang terbit tahun 2021 itu.

Jne Ngajak Online 05

Paket Harapan

Saat ini mudah sekali bagi kita untuk berbelanja online, rasanya, produk apapu itu- bisa dibeli secara online. Pernah terpikir gak sih bagaimana kemudian pelaku usaha ini belajar pemasaran online? Sebagian mungkin belajar secara otodidak, sementara sebagian lainnya adalah mereka yang lahir dari kelas demi kelas, workshop demi workshop. Tahun 2017 lalu, saya berkesempatan mengikuti kegiatan JNE Ngajak Online, sebuah workshop yang diadakan oleh JNE dengan tujuan mengajak pelaku UMKM agar dapat memasarkan produknya lebih luas secara online. Workshop tersebut diselenggarakan di 18 kota, dan Mataram salah satunya. Lihatlah betapa sejak dulu JNE tak sekadar perusahaan ekspedisi, ia melesat SAT SET mendukung usaha kecil, memberi harapan agar mereka-para pelaku UMKM bisa mengikuti zaman.

Paket Bahagia

Setelah belasan tahun berlalu, saya kembali membuka situs web JNE, iseng mengecek ongkos kirim seperti yang dulu sering saya lakukan. Ya, meski sejak 2016 semuanya kian mudah dengan kehadiran aplikasi My JNE. Kangen saya terobati, dan ya, saya merasakan banyak perubahan dari situs web ini. Mulai dari tampilan, fitur, dan lainnya. Semua jauh lebih baik. Sampai di akhir laman, saya terdiam sejenak. Fokus pada satu tulisan yang menjelaskan bahwa pembuatan situs web tersebut bekerja sama dengan Tab Space, sebuah supported studio yang berbasis di Bandung yang memproduksi karya-karya dari seniman disabilitas yang sangat berbakat.

Jnextabspace

Ya, JNE bersama Tab Space berkolaborasi untuk menyampaikan pesan kebahagiaan melalui karya-karya para seniman disabilitas tersebut. Ah, rasanya bahagia itu benar-benar sampai ke sini! 

Saya semakin paham, mengapa JNE bisa sampai di titik ini, usia 34 tahun dengan karyawan yang berjumlah hingga 50ribu. Sebab JNE mengantarkan banyak sekali paket cerita, harapan, dan bahagia ke setiap tujuan, dengan semangat melayani tanpa batas. Layaknya perjalanan saya mengenal Indonesia, yang ternyata berawal dari cek ongkir sederhana. Karena sesungguhnya, setiap kiriman adalah bukti dari semangat melayani tanpa batas, kiriman itu memuat: cerita, harapan, dan bahagia.

#JNE #ConnectingHappiness #JNE34SatSet #JNE34Tahun #JNEContentCompetition2025 #JNEInspirasiTanpaBatas

andyhardiyanti

Biasa dipanggil Andy. Pernah tinggal lama di Makassar dan sekarang di Mataram, Lombok. Ngeblog sejak 2007. Senang kulineran, staycation, kopdaran di cafe, browsing produk di toko online tapi gak beli, dan tentu saja...senang menulis :) Bisa dikontak di andyhardiyanti@gmail.com

No Comments

Leave a Comment