Skip to content
Blognya Andy Hardiyanti
Blognya Andy Hardiyanti

mencatat, semoga bermanfaat :)

  • Home
  • About
  • Culinary
  • Review
  • Traveling
  • Disclosure
Blognya Andy Hardiyanti

mencatat, semoga bermanfaat :)

narasumber kelas microstock

Belajar Microstock bareng Bima Adhitya, Merekam Keindahan Lombok Jadi Aset Digital

Posted on 12 August 202612 August 2026 By andyhardiyanti
narasumber kelas microstock

Sampai detik ini, tercatat ada 36.762 file foto di galeri smartphone saya. Kalau ditambah dengan yang ada di laptop, entah berapa totalnya. Betapa banyak foto pemandangan, kuliner, momen kebersamaan, hingga hal random yang pada akhirnya menumpuk begitu saja. Belum lagi perkara privilege tinggal di Lombok, membuat karya-karya visual berpotensi terus bertambah. Lowong dikit, jalan-jalan, dan gak ketinggalan pepotoannya. Sekian banyak jepretan akan keindahan Lombok itu, paling beberapa saja yang digunakan untuk keperluan foto pendukung di blog maupun media sosial. Sisanya? Ya, menumpuk begitu saja, memenuhi memori penyimpanan.

Rasa penasaran akan bagaimana karya visual tersebut bisa bermanfaat, sebab sayang saja kalau hanya mengendap, membuat saya mencari tahu perihal microstock. Dari sebatas membaca utas demi utas para kontributor yang ramai di media sosial, sampai akhirnya berkesempatan mengikuti Kelas Menjadi Microstock Contributor yang berlangsung di Aula Kantor Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTB, Rabu (12/8) tadi.

suasana kelas

Ekraf Mania Festival 2026: Digital Creative Academy

Sebagai seorang blogger, senang sekali ketika tahu ada gelaran Ekraf Mania Festival 2026: Digital Creative Academy. Kegiatan yang digelar oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTB ini berlangsung selama 3 hari, dari 11-13 Agustus 2026.

Setiap harinya terdapat satu kelas yang bisa dipilih untuk diikuti, yakni: Kelas Create and Sell Digital Product bareng Fifi Sastafiami, Menjadi Microstock Contributor bareng Bima Adhitya, dan Live Streaming and Social Commerce bareng Taufik Ardi Susilo. Mengingat setiap orang hanya boleh memilih satu kelas, saya dengan mantap langsung memilih kelas Menjadi Microstock Contributor.

Alasannya jelas, seperti yang saya sampaikan di awal: banyak foto menumpuk dan saya penasaran ingin menjadikan bermanfaat. Alasan berikutnya adalah karena saya tidak mau melewatkan kesempatan langka. Sebab setahu saya, ini adalah pertama kalinya ada kelas microstock di Lombok. CMIIW.

Foto bersama di akhir acara

Antusiasme Belajar Microstock dari Pagi Hingga Sore

Sempat kaget ketika melihat rundown yang dibagikan di grup WA, jadwalnya padat, berlangsung dari pagi hingga sore. Khawatir juga saya yang bosanan ini bisa bertahan atau tidak, bisa paham materi yang diberikan atau numpang lewat saja. Kemudian bagaimana dengan peserta lainnya? Bakal kaku atau seru? Syukurnya, kekhawatiran saya terbantahkan, yaa… meski efek menunggu peserta lainnya jam mulainya jadi agak mundur, ditambah karena belum ngopi sayanya jadi sempat ngantuk di awal… tapi di luar itu, semuanya tetap seru.

Tidak ada sesi sambutan yang berlebihan, Ibu Baiq Denny Evita Darmiyana, S.Pd. selaku Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif, hanya memberikan sambutan singkat dengan menyampaikan dukungannya akan mulai terlihatnya kegiatan-kegiatan ekonomi kreatif di NTB.

Peserta foto bersama

Circle Belajar yang Baru dengan Background yang Beragam

Sadar gak sih, setiap ikut kegiatan, sering kali ketemunya 4L (lo lagi lo lagi). Nah, di kelas tadi berbeda, rasanya saya hanya mengenal 3 orang saja. Seorang kerabat- anak muda bernama Idho, teman berkegiatan saat kelas AI di Ponpes Qomarul Huda Bagu- mbak Arum, dan dosen saya di bangku perkuliahan dulu- Bapak Agus Pribadi (jumpa di sini dong). Selebihnya adalah orang baru dengan background yang beragam (usia, profesi, maupun tingkat kemampuan yang berbeda). Keberagaman ini membuat seru. Ada yang galau karena aset visualnya belum kunjung laku atau malah statusnya masih menunggu, ada pula yang masih meraba-raba dan bertanya: apakah hanya fotografer yang bisa menjadi microstock contributor?

narsum mengajar di kelas

Inspirasi Berkarya Lewat Microstock dari Bima Adhitya

Setiap orang memiliki jalan suksesnya sendiri, begitu juga dengan Bima Adhitya. Sebagai seorang arsitek, ia justru tidak pernah terjun di dunia kantoran. Usai menamatkan pendidikan, ia fokus merawat sang ibu yang kala itu sedang sakit parah. Tidak ada kelanjutan kuliah atau pekerjaan yang wah, melainkan kenyataan bahwa kondisinya sangat terdesak sampai-sampai terlilit utang ratusan juta rupiah.

Fotografi membawanya sampai di titik ini. Mulai dari menjadi wedding photographer, profesi yang membuatnya bisa bepergian ke banyak negara, hingga akhirnya menjadi microstock contributor. Sebuah jalan agar koleksi jepretannya bisa terus memberikan penghasilan pasif sen demi sen dolar, di waktu-waktu yang tak terduga.

Konsistensi adalah Kunci

Satu hal yang membuat saya atau bahkan peserta lainnya menyukai materi yang disampaikan Mas Bima adalah karena betapa realistisnya ia. Jangan bayangkan serupa utas-utas viral yang sering ditemukan di media sosial, yang menggembar-gemborkan penghasilan fantastis secara instan. Peluang untuk menjadi microstock contributor di sini disampaikan apa adanya: bahwa penghasilan di sana beragam, dimulai dari sen demi sen, butuh konsistensi, dan pastinya kesabaran untuk menghasilkan aset digital yang banyak dan berkualitas.

Konsistensinya terlihat dari lebih dari 7.000 aset digital terpampang di halaman shutterstock. Tentu itu bukan sesuatu yang dibangun dalam semalam, melainkan 9 tahun lamanya! Ia bahkan dengan realistis menyarankan agar pemula tidak gegabah langsung meninggalkan pekerjaan utama. Microstock sebaiknya dijadikan instrumen penghasilan pasif, sesuatu yang dibangun secara perlahan namun tetap mengutamakan konsistensi.

Seharusnya berbekal laptop/smartphone dan akses internet, seseorang bisa bekerja dari mana saja dan kapan saja.

Jika melihat pencapaiannya kini sebagai pembuat konten (instagram, YouTube), penulis puluhan e-book, hingga mentor untuk banyak kelas (fotografi, microstock, dll) membuktikan satu hal yang menarik: benar bahwa impian bekerja dari mana saja, hanya berbekal laptop dan koneksi internet, sangat mungkin diwujudkan jika kita mau terus belajar, konsisten, dan menghargai prosesnya.

sunset klui

Keindahan yang Menghasilkan Cuan

Berapa banyak foto yang teman-teman hasilkan sepulangnya dari satu destinasi wisata? Saya tebak, pasti banyak! Hahaha. Sayang aja kan, sudah jauh-jauh bepergian ke Sembalun (apalagi kalau sampai mendaki Gunung Rinjani) lalu tidak ada momen yang diabadikan. Atau saat sudah lelah berjalan menuju air terjun Tiu Kelep, jauh-jauh mengejar momen sunset di Pantai Klui, masa iya tidak menghasilkan setidaknya satu atau dua jepretan? Itu baru berbicara destinasi wisata yang bisa dibilang lokasinya jauh dari kota Mataram, belum perihal tempat-tempat yang katanya netizen “di Lombok tuh, ngesot dikit udah dapat tempat cantik”. Coba bayangkan, bagaimana ketika keindahan yang kita rekam itu bisa menghasilkan cuan? Wah, bisa jadi bekal untuk trip ke lebih banyak lagi tempat, bukan? Ditabung, investasi untuk bisnis lainnya, terserah…intinya: menghasilkan.

Menariknya lagi, dengan menjadi microstock contributor, kita bisa berkarya, membuka pundi-pundi rupiah eh dolar, tanpa merusak destinasi wisata tersebut. Hanya memotret, ya kan? Soalnya saya teringat bagaimana tempat-tempat wisata kini semakin ramai pengunjung, kian ramai pula sampahnya.

Lombok Content Factory

Begini judul yang tercantum dari lembaran materi yang dibagikan. Kalau dipikir-pikir, benar juga ya? Apa sih yang tidak bisa kita temukan di Lombok. Eh ada sih, transportasi umum macam bus rapid transit belum ada hihihi #intermezzo. Intinya, ada banyak hal yang bisa dibuat konten visualnya di sini. Entah itu foto, maupun footage. Coba bayangkan ide-ide foto yang bisa dihasilkan tentang Pulau Lombok? Pantai dengan lanskap yang beragam, kehidupan di desa, keindahan air terjun, makanan tradisional, aih…banyak sekali!

Pantai, hotel, pasar, petani, nelayan, makanan, budaya, UMKM, transportasi, aktivitas wisatawan yang ada di Lombok, semuanya bukan hanya objek wisata, tetapi aset visual yang punya nilai ekonomi di pasar global.

Bisnis microstock adalah tentang aset digital (foto, video, vector, audio, ilustasi) yang dijual dan memungkinkan untuk dibeli berkali-kali pada platform microstock (contohnya: shutterstock dan AdobeStock). Dimana satu foto bisa memberikan penghasilan berkali-kali, tak terbatas, dengan pembeli dari negara mana saja di duni (worldwide). Singkatnya, kita membuat aset. Tidak sekadar jalan-jalan berwisata, atau melakukan pemotretan (sebagai fotografer), melainkan menghasilkan foto-foto yang kemudian menjadi aset digital yang dapat menghasilkan di kemudian hari.

belajar keypilot

Mengapa Menjadi Microstock Contributor itu Menarik?

Ada banyak alasan mengapa teman-teman perlu untuk terjun atau sekadar mencicip bagaimana dunia microstock bekerja. Pertama, karena memanfaatkan kamera, keterampilan, dan lingkungan yang sudah kita punya. Jangan jauh-jauh membayangkan harus punya kamera DSLR, mirrorless, atau yang lebih pro dari itu. Mas Bima membuat kita semua termotivasi untuk segera memulainya. Ia bercerita bagaimana menghasilkan karya dengan kamera digital seri lama, pun smartphone yang kala itu hanya menggunakan Samsung Galaxy seri A10 seharga 1,2 juta. Apa kabar smartphone yang kita gunakan kini? Tentunya punya kualitas lebih baik, tinggal dimaksimalkan saja penggunaannya saat memotret.

Kedua, tidak harus menunggu klien datang. Tetap saja konsisten upload karya. Bisa jadi, tiba-tiba saat bangun tidur, memasak, menyiapkan bekal, atau aktivitas lainnya, eh tiba-tiba ada yang membeli karya kita. Ketiga, portofolio bisa bekerja 24 jam. Jelas, karena ini bukan toko fisik, bukan pula toko online dengan admin yang memiliki jam kerja, semuanya sudah dikelola pada satu sistem yang bekerja seharian penuh.

Keempat, semakin besar library yang relevan, semakin besar peluang penjualan. Hal terakhir ini sih berkaitan dengan konsistensi dan bagaimana untuk fokus di satu topik. Yaa, analogi blogger yang fokus dengan satu niche tentu punya nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan lifestyle blogger alias blogger palugada macam saya #eh.

Asyiknya lagi, kami sempat pula diajari cara otomasi membuat deskripsi aset visual menggunakan KeyPilot.id, karya Reezky Pradata, seorang fotografer, web designer dan kontributor microstock. KeyPilot.id, adalah perangkat (tools) berbasis data dan sistem cerdas untuk membantu kontributor microstock mempercepat proses riset, pengolahan kata kunci (keywording), serta pembuatan metadata gambar dan video secara efisien.

Foto bersama di akhir acara

Jalan-jalan, Makan-makan, Konsisten Kejar Penghasilan

Siapa coba yang tidak gemar jalan-jalan dan makan-makan di bumi Lombok ini? Nah, setelah mengikuti kelas microstock bersama Bima Adhitya hari ini sepertinya ada frasa yang perlu saya tambahkan: konsisten kejar penghasilan. Dengan mulai mengunggah satu foto per hari selama 90 hari. Siap?

Jadi, kapan teman-teman mau mulai merapikan foto-foto yang menumpuk di galeri? dan mulai mengubah mindset agar memotret bisa menjadi jalan meraih cuan. Atau ada teman-teman yang sudah lama terjun ke bidang tersebut? Cerita dong di kolom komentar.

Event

Post navigation

Previous post
Next post

Related Posts

Event

Pekan Literasi Digital di Mandalika, Agar Netizen Lebih Bijak dan Beretika

Posted on 14 October 202119 December 2025

Kominfo menggelar kegiatan Pekan Literasi Digital di Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah, NTB. Bagaimana keseruannya? Materi apa saja yang disampaikan oleh setiap narasumber yang hadir pada kegiatan yang bertempat di Novotel Lombok Resort and Villas ini?

Read More
Event

FORTUNE Indonesia Summit 2022, Perihal Usia Hanyalah Angka

Posted on 23 May 202224 May 2022

FORTUNE Indonesia Summit 2022, Perihal Usia Hanyalah Angka. Usia hanyalah sebuah angka. Inilah satu dari sekian banyak pelajaran yang saya tuai dari gelaran FORTUNE Indonesia Summit 2022 kemarin. Tentu saja, dua hari adalah waktu yang terlalu singkat untuk menyerap banyak sekali ilmu dari para tokoh yang hadir. Gelaran yang melibatkan…

Read More
Event

Musyawarah Kebudayaan, Ngobrolin Budaya bareng Dinas Dikbud Provinsi NTB

Posted on 25 November 202028 November 2020

Musyawarah Kebudayaan, Ngobrolin Budaya bareng Dinas Dikbud Provinsi NTB. Musyawarah Kebudayaan merupakan salah satu kegiatan pada rangkaian Gelar Budaya NTB Gemilang yang diselenggarakan Dinas Dikbud Provinsi NTB. Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memeriahkan HUT Provinsi NTB ke-62 dan mendukung kegiatan Pekan Kebudayaan Nasional Tahun 2020. Rangkaian Gelar Budaya NTB Gemilang…

Read More

Comments (15)

  1. Bima Adhitya says:
    13 August 2026 at 3:21 am

    Halo mbak andy, membaca tulisan ini satu persatu jadi ngingetin saya waktu dulu masih ngeblog, tulisannya bagus sekali dan hanya blogger profesional yang bisa bikin artikel detil dan terpublish kurang dari 1 hari paska acara, salut mbak….Godspeed, semoga selalu lancar rejeki, bahagia dan penuh berkah

    Reply
  2. Annie Nugraha says:
    16 August 2026 at 3:43 am

    Saya juga mengikuti medsosnya Mas Bima. Inspiratif. Sering menyusur setiap sudut negeri untuk mendapatkan banyak foto apik dan unik serta tematik yang dijual di microstock. Beliau juga mengelola villa keluarga kalau gak salah. Yang juga menjadi salah satu pemasukan selain di dunia kreatif, khususnya photography.

    Setelah menjadi salah seorang kontributor di Shutterstock, foto bagus bukanlah hanya modal utama. Tapi juga harus konsisten, rajin, rutin, dan mampu bikin narasi tentang foto sebaik mungkin. Pe-er besar buat saya adalah tentang key-word dan memberikan narasi yang pas untuk foto tersebut. Seneng deh jika Mas Bima juga mengajari tentang ini.

    Mbak Andy beruntung banget. Badan Ekonomi Kreatif menyediakan workshop ini dengan orang yang (sangat) tepat dan ahli di bidangnya. Jadi kita bisa belajar langsung dengan materi bimbingan yang tepat. Apalagi, seperti yang Mbak Andy tulis, Lombok itu kaya sumber foto yang indah tak terkira. I envy you Mbak.

    Reply
  3. Dapur Cinta says:
    16 August 2026 at 7:09 am

    Sepertinya ini acara yang lumayan jarang diadakan ya, kelas microstock offline seperti ini, apalagi yang menjadi narasumbernya seprofesional mas Bima yang sudah bertahun-tahun pengalamannya di dunia microstock ini. Saya sendiri juga mengikuti sosial media beliau dan belajar sedikit-sedikit dari sana. Dulu sempat juga aktif upload foto di SS, Foap dan Dreamstime. Sempat ikut lomba foto juga di Foap dan senang banget waktu fotoku terpilih. Membaca artikel ini jadi ingin kembali aktif upload foto foto di akun-akun microstock lamaku.

    Reply
  4. Yuni Bint Saniro says:
    16 August 2026 at 4:22 pm

    Aku tuh sudah pernah mendaftar menjadi kontributor microstock ini. Cuma ya itu. Belum bisa memanfaatkannya secara maksimal. Boro-boro mikirin cuan. Upload fotonya saja nggak pernah. Hehehe

    Tapi, benar juga sih. Awalnya ya postiing saja terus secara konsisten. Kita nggak tahu, foto yang mana, terus kapan, foto kita akan menarik minat orang dan kemudian membeli foto tersebut.

    Reply
  5. Perdana Lazwardy says:
    25 August 2026 at 7:31 am

    Wah, saya gak ikutan nih. Next time kalau ada acara seperti ini saya mau ambil cuti. Sangat menarik sekali, apalagi yang berprofesi sambilan sebagai blogger hehehe. Kapan-kapan buka kelas mbak atau kumpul blogger lombok buat ngajarin kita-kita yang gak ikutan hehehe

    Reply
  6. Myra says:
    25 August 2026 at 4:39 pm

    Mengubah aset visual keindahan alam Lombok menjadi aset digital lewat microstock ini ide yang sangat solutif. Selain bisa jadi passive income bagi para kreator, secara tidak langsung ini juga membantu promosi pariwisata NTB ke kancah internasional. Kuncinya memang harus konsisten, ya

    Reply
  7. Bunsal says:
    25 August 2026 at 4:44 pm

    Toss, kolektor foto dan video saban trip juga. Sampai ‘terpaksa berternak’ email demi dapatkan memori lapang untuk simpan aset digital.
    Nah, nah, ada bocoran ilmu buat jadi Microstock Contributor. Wajib banget dicoba dan diikuti. Mana tau ada jepretan kita yang disukai banyak orang dan lariiiisss dipakai terus.

    Reply
  8. Andiyani Achmad says:
    25 August 2026 at 5:03 pm

    Menarik banget belajar tentang microstock dari pengalaman Bima Adhitya. Ternyata foto bukan cuma soal menyimpan kenangan, tapi juga bisa menjadi aset digital yang punya nilai ekonomi. Jadi kepikiran, foto-foto di galeri yang selama ini cuma numpuk siapa tahu sebenarnya punya potensi juga.

    Reply
  9. Lala says:
    25 August 2026 at 6:34 pm

    Keren banget, menimba ilmu dari Bapak Bima 🤩 💯 aku follow medsos beliau dan suka baca postingan nya.

    Ternyata sangat insightfull banget ikutan kelas Menjadi Microstock Contributor. Konsisten is key yaaa, 90 hari berturut-turut submit foto. Bismillah nanti aku mau coba juga.

    Reply
  10. Leila says:
    25 August 2026 at 7:35 pm

    Yang menarik juga menurutku adalah peran pemerintah setempat yang jeli menangkap peluang, ya. Di sana memang kaya akan destinasi wisata dan kerajinan tangan yang cantik yang bisa menggerakkan perekonomian lokal, dan peluang menambah penghasilan juga ada lewat microstock seperti ini. Belajar sendiri mungkin bisa saja tapi akan lebih enak kalau langsung belajar dari pakarnya yang sudah berpengalaman begini.

    Reply
  11. Heni Hikmayani Fauzia says:
    26 August 2026 at 12:05 pm

    saya tuh pengen banget mencoba dan menulai microstock ini. Asyikk yaa daripada foto-foto terbuang dan memenuhi galeri HP mendingan kita kirim ke microstock bisa jadi peluang cuan deh. mantaap yaa,,,,semakin beragam peluang penghasilan kita jadinya

    Reply
  12. Dianti says:
    26 August 2026 at 3:15 pm

    etul banget, daripada galeri penuh dan bikin memori cepat habis, mending dimanfaatkan jadi passive income. PR-nya memang di konsistensi dan rajin riset keyword ya.

    Reply
  13. Dyah Kusuma says:
    1 September 2026 at 5:15 pm

    Saya juga tertarik belajar Microstok, itung-itung nambah aset digital kan ya, perkara hasilnya nanti dulu deh yang penting bangun portofolio dulu, Bisa jadi pssive income kan nantinya

    Reply
  14. Efa Butar butar says:
    1 September 2026 at 6:42 pm

    Dipikir-pikir, benar juga ya Mba, daripada foto ngendep di hp, menuh-menuhin memori, mending dijualin aja. Ide fresh nih, patut ditiru. Hihii

    Reply
  15. lendyagassi says:
    1 September 2026 at 7:49 pm

    Waah.. kerennnzz sekalii..
    Kerja impian yaaa.. ka Andy.

    Ya, jalan-jalan, hunting foto lalu dapet gaji dari Shutterstock dan AdobeStock. Kalo gini, jadi ga penting siapa yang ambil fotonya.. yang penting hasil fotonya bisa dirasakan. Hehhee..

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selamat Datang, Salam Kenal ;)

Terima kasih sudah berkunjung. Silakan share postingan di blog ini kalau memang bermanfaat ;) Jangan lupa tinggalkan komentar dan tunggu kunjungan saya di blog teman-teman. Ada yang ingin ditanyakan? Atau ingin bekerja sama dengan saya? Kontak saya di: andyhardiyanti@gmail.com

Komentar Terbaru

  • Dita Indrihapsari on Rekomendasi Taman dan Area Olahraga Gratis di Kota Mataram
  • Eni Martini on Rekomendasi Taman dan Area Olahraga Gratis di Kota Mataram
  • lendyagassi on Rekomendasi Taman dan Area Olahraga Gratis di Kota Mataram
  • Dede Diaz on Rekomendasi Taman dan Area Olahraga Gratis di Kota Mataram
  • Myra on Rekomendasi Taman dan Area Olahraga Gratis di Kota Mataram

Bagian Dari

Intellifluence Trusted Blogger

Seedbacklink
Warung Blogger

Blogger Perempuan


 

Indonesian Food Blogger
Blogger Plus
©2026 Blognya Andy Hardiyanti | WordPress Theme by SuperbThemes