Life begins at Forty, hidup dimulai pada usia 40 tahun. Begitu bunyi sebuah ungkapan. Konon pada usia tersebut seseorang biasanya lebih stabil secara emosional, tidak mudah cemas, tidak lagi butuh validasi orang lain, lebih menikmati ketenangan, dan tidak lagi ambisius secara berlebihan seperti saat masih muda. Ngomong-ngomong, itu hasil googling sekaligus ringkasan AI ya, wkwwk. Jika ungkapan itu benar adanya, maka hari ini, tepat tanggal 8 September, ada seorang sahabat yang sedang bersiap menyambut fase tersebut. Sebuah babak baru yang saya beri nama Fortyliyatale, perpaduan kata forty, Liya, dan fairytale.
Oops, tunggu dulu, khusus untuk Mbak Liya (yang tenar dengan nama Nurliya NR) nampaknya teori “life begins at forty” tadi tidak berlaku, atau mungkin perlu sedikit direvisi. Menurut saya, urusan tenang, stabil emosi dan lainnya itu, sudah ia capai sebelum sampai di usia 40 tahun. Ini menurut saya pribadi sih, tapi sepertinya nun jauh di balik layar sana, saya yakin beberapa orang yang mengenalnya pun akan turut mengangguk tanda setuju.
Perkenalan yang Diawali dari ‘Nebeng’
Kalau diingat-ingat lagi bagaimana persahabatan ini bermula, rasanya cukup panjang deh. Pertemuan pertama saya dengan Mbak Liya sebenarnya di tahun 2019, tepatnya pada 2 Maret 2019 di kegiatan ToT Womenwill Google. Lebih tepatnya bukan bertemu sih, tapi berada di satu acara yang sama sebagai peserta. Kemudian bergantian mengisi kegiatan pelatihan dan berjumpa begitu saja. Kami baru mulai akrab justru pada Oktober 2021, saat gelaran Pekan Literasi Digital. Berawal dari saya yang pengen banget hadir secara offline di kegiatan yang menghadirkan Nicholas Saputra sebagai narasumbernya, sudah dapat izin suami, tapi oh tapi, ini ke sananya bagaimana? Lokasinya kan di Mandalika jauh dari kota Mataram, sekitar sejaman, dan di sini tidak ada kendaraan umum.
Saya perhatikan kembali e-flyer kegiatan tersebut, eh ada Mbak Liya! H-1 memberanikan diri chat ke beliau menanyakan nanti ke sana naik apa, sama siapa, dan apakah boleh nebeng? Wkwkwk. Alhamdulillah responnya baik sekali, saya boleh ikut bareng di mobilnya. Sungguh tidak tahu malu diri ini. Sebelumnya jarang chat, tiba-tiba nge-chat salah satu narasumber buat nebeng. Iya, seorang peserta menghubungi narasumber kegiatan esok hari untuk nebeng ke lokasi. Sekali lagi: nebeng.
Dari Nicholas Saputra, Sampai Trip Berdua
Maaf ini Nicsap kasihan dibawa-bawa. Waktu cepat sekali berlalu. Rasanya baru kemarin, di tahun 2021, saya yang mencoba menyapa duluan Mbak Liya karena mau nebeng, eh berlanjut mendengar ceritanya sepanjang perjalanan, jalan-jalan dulu sepulang acara, sampai akhirnya kami banyak berkegiatan bersama. Topiknya ya tidak jauh-jauh dari literasi digital dan segala perintilannya. Sejak 2021- bahkan 2019, hingga tahun 2026 ini, sebagian besar alasan saya keluar rumah adalah karena berkegiatan dengannya. Sampai saat ke Makassar, dan tahu teman saya banyak di sana, anak saya sempat berkomentar: oh kirain teman ibu itu Mbak Liya saja. *Gubrak. wkwk
Kami sering bepergian bareng (entah itu untuk urusan kegiatan edukasi, ngopi, jalan-jalan, dll), dan satu hal yang menyenangkan adalah ketika kami berdua terpilih sebagai perwakilan untuk hadir di event Temu Nasional Pegiat Literasi Digital 2025 yang bertempat di Jakarta Selatan. Dari NTB kalau tidak salah ada 3 orang yang diundang, kami salah duanya.
Si Super Sibuk yang Ha Ha Ha untuk Apa Saja
Pagi tadi saya chat Mbak Liya, menanyakan hari ini agendanya apa saja, saya katakan bahwa saya mau jumpa. Ada kejutan kecil, nanti tolong terkejut ya. Padahal saat mengetikkan pesan tersebut saya ya masih berpikir juga mau kasih kejutan apa. Sore hari barulah terpikir, ah saya mau buat satu postingan blog khusus untuknya, seperti yang lakukan ke sahabat saya nun jauh di Bekasi sana dulu- Mbak Lidya Fitrian (eh namanya mirip ya, sama-sama September pula). Tidak apa-apa kan kejutannya ini saja? Hadiah kecil berisi ribuan kata ini?
Kembali ke pembahasan awal tadi, tentang ungkapan life begins at forty yang kurang tepat untuk Mbak Liya. Lima tahun mengenalnya, bagi saya, jauh sebelum menapaki usia 40, dia sudah selesai dengan urusan apa-apa. Memulai hidup baru di Lombok dengan membawa dua anak kecil setelah mengalami ujian demi ujian, Macbooknya pernah tertinggal (sebut saja nyaris hilang) sebanyak 3 kali, salah pesan tiket pesawat, mau bikin film tapi bingung uangnya gak ada, selalu dikira kaya sama siapa saja, semuanya direspon dengan: ha ha ha.
Program-program kerja- di tangannya, dengan budget seadanya bahkan kadang minim sekali atau tidak ada, bisa terlaksana (heiii, tapi jangan begini ya kalian di atas sana). Soal leadership, beliau juaranya. Soal lanjutin urusan kerjaan, di saat hectic sekali pun, dia juaranya juga. Saat trip ke Jakarta, pas kelar sesi acara, dia gak langsung tidur, melainkan beresin tulisan dulu, buat soal ujian, beresin urusan bimbingan mahasiswanya, dll. Duh..nyerah deh saya. Ini kayaknya bisa banget gantikan wapresnya Konoha…
Banyak Doa Baik untuk Mbak Liya
Ungkapan tadi berbunyi life begins at 40, nah kalau dalam Islam, 40 berarti usia di mana seseorang sudah memiliki kematangan berpikir, jadi fase penting dalam kehidupan manusia. Sampai ada doanya segala, dan disebutkan dalam satu ayat khusus.
…apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.
QS. Al-Ahqaf ayat 15
Apapun itu, Barakallah fii umrik yaa Mbak Liya. Maaf informasi pribadinya agak-agak terungkap di sini (eh tapi umumlah ini, Anda kan terkenal wkwk). Semoga dimudahkan segala urusannya, lancar kuliah S3nya (segera promosi doktor gak sih?), sehat dan bahagia selalu, lancar serta berkah rezekinya…kaya raya seperti yang selalu dikira orang-orang (jadi bisa traktir teman-teman terus bwahahaha), terus apa lagi ya? Ah orang ini mah gak tahu impiannya apa, macam sudah selesai sama urusan dunia dan manusia. Kata bio akun whatsappnya dulu: lemah teles gusti allah sing mbales. Benar-benar berserah pada Allah. Masya Allah.
–
Udah ah, gitu aja. Semoga postingan blog ini turut menambah jejak digitalnya ya. Ha ha ha. Happy Fortyliyatale!






No Comments